🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Mencatat Materi Demi Menjaga Ilmu

Reporter: Putri Oktaviani

Redaktur: Dian Soekotjo


Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy menyajikan materi harian berupa audio singkat yang saling berkesinambungan. Dari satu jenjang ke jenjang berikutnya, ilmu disampaikan bertahap dan rapi. Namun karena materinya banyak dan intens, sangat mudah bagi kita untuk lupa. Apalagi jika hanya mengandalkan ingatan.

Di sinilah pentingnya mencatat. Catatan adalah pengikat ilmu yang sering terlepas begitu saja dari ingatan. Dengan menulis, pelajaran terasa lebih dekat dan lebih mudah diulang. Ilmu pun tidak hanya lewat di telinga, tapi singgah di hati.


Rasulullah ﷺ sendiri menganjurkan untuk menulis ilmu. Beliau bersabda kepada Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, “Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah keluar darinya (lisanku) kecuali kebenaran.” (HR. Abu Dawud No. 3646, dinyatakan hasan shahih). Maka mencatat bukan sekadar kebiasaan belajar, tapi bagian dari adab menuntut ilmu.

Rutinitas Belajar: Antara Terbantu atau Tertinggal

Setiap hari, materi HSI dikirim ke grup WhatsApp masing-masing angkatan. Audio yang singkat namun padat ini menjadi bekal utama pembelajaran. Di hari yang sama, evaluasi harian dibuka dengan batas waktu tertentu. Pola ini berjalan konsisten hingga akhir pekan dan ditutup dengan evaluasi pekanan.

Rutinitas ini memudahkan santri yang siap dengan jadwal belajar yang teratur. Materi disimak tepat waktu dan evaluasi dikerjakan tanpa panik. Namun bagi yang kurang rapi mengatur waktu, kelonggaran justru sering berujung lalai. Ketika satu materi terlewat, semangat untuk melanjutkan belajar pun mudah menurun.

Padahal setiap materi saling berkaitan dan merupakan lanjutan dari pembahasan sebelumnya. Materi yang hanya didengar sekali sering cepat terlupakan, apalagi saat materi baru terus datang. Ketika evaluasi pekanan tiba, pemahaman terasa samar dan menyimak ulang audio menjadi terasa berat. Karena itu, menyiasatinya dengan catatan yang rapi adalah solusi agar belajar tetap ringan dan berkelanjutan.

Mengapa Mencatat Itu Penting

Dalam ritme belajar HSI yang berkelanjutan, ilmu datang setiap hari dan terus bergerak maju. Materi yang singkat tetap menuntut pemahaman yang utuh. Jika hanya mengandalkan ingatan, banyak pelajaran akan singgah sebentar lalu pergi. Terlebih ketika materi baru terus menyusul tanpa jeda.

Setiap jenjang dalam HSI saling terhubung dan tidak berdiri sendiri. Materi hari ini adalah lanjutan dari kemarin, sekaligus bekal untuk esok. Tanpa pegangan yang jelas, santri mudah merasa tertinggal meski rutin menyimak. Di sinilah jarak antara “mendengar” dan “memahami” mulai terasa.

Mencatat membantu santri menghentikan laju ilmu sejenak agar bisa dipahami dengan tenang. Ia menjadi penanda perjalanan belajar yang panjang. Catatan membuat materi lama mudah dirujuk tanpa harus mengulang dari awal. Dari kebiasaan inilah belajar menjadi lebih terarah dan menenangkan.

Kenalan dengan Berbagai Metode Mencatat

Tidak semua materi cocok dicatat dengan cara yang sama. Materi konsep, hafalan, kisah, atau pembahasan hukum menuntut pendekatan yang berbeda. Karena itu, santri perlu mengenal beberapa metode mencatat yang sederhana dan mudah diterapkan. Tujuannya bukan membuat catatan indah, tapi catatan yang bekerja.

Berikut beberapa metode yang bisa dipilih dan disesuaikan dengan karakter materi.

Metode Meringkas (Merangkum)

Metode meringkas (merangkum)

AI generated

Metode ini mengambil inti pelajaran lalu menuliskannya kembali secara singkat dan padat. Biasanya berbentuk poin-poin atau paragraf pendek berisi pokok utama dan kata kunci. Cara ini cocok untuk menangkap garis besar materi dan memudahkan membaca ulang. Namun, santri tetap perlu waspada agar tidak kehilangan detail materi penting.

Metode Simbol dan Warna

Metode meringkas (merangkum)

AI generated

Metode ini memanfaatkan warna, simbol, dan tata letak visual untuk membantu pemahaman. Catatan tidak berbentuk paragraf panjang, melainkan potongan ide yang saling terhubung. Warna dan simbol berfungsi sebagai penanda topik atau kata kunci. Metode ini efektif bagi santri yang mudah mengingat secara visual, selama tidak berlebihan dalam menghias.

Metode Cornell atau Metode Kolom

Metode meringkas (merangkum)

AI generated

Metode ini membagi catatan ke dalam beberapa bagian, seperti kolom catatan, kolom kata kunci, dan ringkasan. Catatan ditulis saat menyimak materi, lalu dilengkapi dengan kata kunci dan rangkuman. Cara ini membantu santri belajar lebih aktif dan terstruktur. Kekurangannya, metode ini membutuhkan waktu dan kedisiplinan lebih.

Metode Mind Map (Peta Bab)

Metode meringkas (merangkum)

AI generated

Mind map ialah menyusun materi dengan ide utama di tengah dan cabang-cabang pembahasan di sekelilingnya. Catatan ditulis dalam bentuk kata kunci, bukan paragraf panjang. Metode ini cocok untuk melihat hubungan antar topik dan menyusun gambaran besar materi. Namun, mind map kurang efektif untuk materi yang menuntut detail rinci.

Metode Skema Alur, Tabel, dan Diagram

Metode meringkas (merangkum)

AI generated

Skema alur membantu memahami urutan peristiwa, seperti kisah atau hadits. Tabel berguna untuk membandingkan, mengelompokkan, dan merangkum poin-poin penting secara rapi. Diagram digunakan untuk menggambarkan hubungan antar ide secara visual. Metode ini fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan materi.

Pada praktiknya, metode mencatat yang paling efektif adalah kombinasi. Kita bisa merangkum materi, lalu menambahkan tabel, skema, atau mind map sesuai kebutuhan. Setiap santri bebas memilih cara yang paling cocok dengan gaya belajarnya. Yang terpenting, catatan membantu menjaga kesinambungan ilmu dari satu jenjang ke jenjang berikutnya.

Beda Cara, Satu Kesadaran : Mencatat Itu Perlu

Tidak semua santri HSI terbiasa mencatat, meski banyak yang menyadari manfaatnya. Ukhtuna Aisyah, santri angkatan 221, menuturkan bahwa mencatat sangat membantu dalam proses belajar. “Mencatat sangat penting, selain membantu kita dalam muraja’ah untuk evaluasi pekanan dan akhir, catatan materi juga dapat kita buka lagi saat kita ingin menyampaikan ilmu kepada orang lain,” tuturnya. Dengan catatan, persiapan Evaluasi Harian dan Evaluasi Pekanan terasa lebih ringan dan tidak terburu-buru.

Ia menceritakan bahwa kebiasaan mencatatnya dilakukan bersamaan dengan menyimak audio. “Ana mencatat saat menyimak audio, agar tidak ada materi yang terlewat dicatat. Ana menulis poin penting tanpa rujukan di buku tulis,” jelasnya. Tantangan muncul ketika materi cukup banyak. “Ana terkendala saat materi banyak,” ujar Ukhtuna Aisyah. Namun, ia punya jalan keluar. “Cara mengatasinya dengan mencari waktu luang yang cukup panjang sehingga tidak ada yang mengganggu selama mendengarkan audio.” Hanya dengan jalan itu menurutnya, ia dapat mengabadikan sari ilmu dari audio yang dibagikan.

Ukhtuna Aisyah menambahkan bahwa cara belajar perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing santri. “Karena setiap orang memiliki metode belajar yang berbeda-beda,” ujarnya. Ia juga membagikan tips praktis, “Luangkan waktu yang sekiranya tidak ada gangguan, dengarkan audio dengan fokus, catat poin-poin penting yang disampaikan ustadz, dan segera kerjakan evaluasi.” Nasihatnya pun mengingatkan pada lurusnya niat, “Mencatat materi memang berat, tapi niatkan karena Allah. Semoga setiap huruf yang kita tulis bernilai pahala di sisi Allah.”

Pengalaman serupa disampaikan oleh Ukhtuna Ami Santika, santri angkatan 231, “Ana mencatat saat menyimak audio, karena bisa langsung mencatat poin penting sambil mendengar, sehingga menggunakan dua indra sekaligus,” ujarnya. Ia merasakan bahwa mencatat membuat belajar lebih fokus. “Tidak hanya mendengar, tapi juga memproses apa yang disampaikan, sehingga ilmu lebih terstruktur.”

Ukhtuna Ami Santika juga memilih cara mencatat yang praktis dan rapi. “Ana membuat grup materi sendiri di WhatsApp bersama suami, supaya catatan tersusun rapi dan mudah dibaca ulang,” jelasnya. Ia mencatat poin-poin penting dengan bahasa sendiri, memberi tanda atau warna pada bagian utama. “Jika memungkinkan, audio bisa diberi penanda waktu agar lebih mudah diulang dan dicatat,” tambahnya.

Sementara itu, Akhuna Irkham Fauzi, dari Angkatan 201, menekankan pentingnya menemukan metode belajar yang paling sesuai. “Menurut ana, setiap orang punya metode belajar yang paling efektif dan efisien untuk masing-masing pribadi,” ungkapnya. Ia mengaku lebih nyaman mengulang audio sambil membaca catatan. “Audio akan lebih mudah dipelajari ketika tidak terlalu panjang, karena materi lebih mudah diingat dan dimuraja’ah.”

Tips Konsisten dalam Mencatat Materi HSI

Memulai kebiasaan mencatat memang tidak selalu mudah. Namun, menjaga konsistensi dan istiqamah sering kali jauh lebih menantang. Mencatat membutuhkan waktu, tenaga, dan fokus tambahan. Karena itu, diperlukan cara agar semangat mencatat tetap terjaga dalam jangka panjang. Beberapa langkah berikut bisa membantu santri tetap konsisten.

Miliki tujuan yang jelas. Tujuan sederhana seperti memudahkan belajar saat Evaluasi Harian, Pekanan, atau Akhir sudah cukup menjadi pendorong. Dengan catatan, proses belajar ulang terasa lebih ringan dan terarah.

Gunakan metode yang paling disukai. Ada yang nyaman dengan ringkasan, ada yang lebih mudah memahami melalui bagan atau mind map. Sebagian santri bahkan memilih catatan suara sesuai gaya auditori. Pilih cara yang paling membuat betah, bukan yang terlihat paling rapi.

Catat secara ringkas dan bertahap. Catatan yang terlalu panjang sering membuat lelah dan enggan melanjutkan keesokan hari. Mulailah dengan sedikit, lalu tingkatkan perlahan seiring kenyamanan. Yang penting konsisten, bukan banyak di awal.

Buat jadwal khusus dan luangkan waktu. Gunakan pengingat agar mencatat menjadi rutinitas harian. Jika suatu hari tertinggal, tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Yang terpenting adalah kembali melanjutkan tanpa menjauh dari kebiasaan.

HSI rutin mengadakan Muraja’ah Kubra, yaitu mengulang materi dari lima sesi yang telah dipelajari dalam satu tahun. Dalam proses ini, catatan berperan besar karena membantu meninjau kembali puluhan materi dalam waktu singkat. Dibandingkan menyimak ulang seluruh audio, catatan membuat muraja’ah terasa lebih ringan dan efisien.

Pada akhirnya, mencatat bukan hanya membantu menyiapkan tugas dan ujian. Catatan menjadi rujukan syar’i dalam kehidupan sehari-hari dan sarana menjaga ilmu agar tidak hilang. Proses menulis membantu otak mengolah informasi dan memperkuat ingatan. Kebiasaan mencatat adalah investasi kecil yang manfaatnya bisa dirasakan jauh ke depan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Jadi mari rajin mencatat… Mudah-mudahan menjadi harta istimewa yang dapat kita wariskan.