Keliling HSI
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Menapaki Islam dengan Logika dan Ketulusan

Reporter: Ridzky Aditya Saputra

Redaktur: Dian Soekotjo


Keyakinan beragama tidak selalu hadir sebagai warisan turun-temurun. Bagi sebagian orang, ia justru datang melalui perjalanan panjang yang ditulis sendiri, lembar demi lembar, dengan tinta pengalaman yang beragam. Hingga pada satu titik, pencarian itu bermuara pada sebuah akhir yang menenteramkan: Islam.

Perjalanan semacam itu diarungi Akhuna Ari Widjaja. Pria asal Bogor ini tidak lahir dari keluarga muslim. Ia adalah seorang mualaf keturunan Tionghoa yang memeluk Islam melalui proses berpikir, perenungan, dan pencarian yang bukan singkat.


Awal mula keislaman Akhuna Ari, bukanlah kisah tentang semangat hijrah yang membuncah. Ia memeluk Islam pada tahun 2000 sebagai bagian dari formalitas pernikahan. Saat itu, Islam belum benar-benar hadir dalam kesadarannya sebagai sebuah jalan hidup. Keputusan tersebut lebih dilandasi oleh rasa cinta kepada sang istri yang seorang muslimah.

“Dulu pindah agama karena nikah tahun 2000. Cuma saya belum mendalami, karena kebetulan juga tinggal di lingkungan yang enggak sesuai ajaran Islam yang sebenarnya,” ungkap akhuna Ari Widjaja kepada Tim Majalah HSI.

16 Tahun Pencarian

Seiring berjalannya waktu, benih-benih pencarian itu tumbuh. Enam belas tahun berlalu sejak ia mengucapkan syahadat, hingga akhirnya Akhuna Ari mulai merasakan cahaya Islam yang sesungguhnya. Sebagai pribadi yang mengedepankan logika, ia kerap merasa heran melihat praktik-praktik keagamaan yang mengatasnamakan Islam, tetapi tidak ia temukan rujukannya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

“Sebelumnya, saya sebetulnya yakin ada beberapa ibadah yang bukan dari Islam. Jadi, ada karyawan suka saya tanya kalau pinjam uang, untuk apa? Katanya untuk tahlilan. Saya belum punya ilmu tahlilan, tapi saya sudah yakin kalau itu bukan dari Islam, karena masa sih agama memberatkan orang untuk tahlilan?” tuturnya.

Keyakinan itu bukan lahir dari sikap menentang, melainkan dari proses berpikir. Waktu pun berjalan, dan jawabannya datang perlahan. “Saya sudah punya logika, berjalannya waktu ternyata dapat jawabannya. Memang tahlilan enggak ada dalam ajaran Islam,” lanjutnya.

Titik balik itu semakin kuat ketika akhuna Ari mulai mengenal dakwah sunnah. Meski telah mengetahui sedikit sejak 2013, pemahamannya semakin bertambah selepas menunaikan ibadah haji pada 2014.

“Setelah 16 tahun, baru ketemu sunnah. Alhamdulillah semakin mantap. Pada 2013 sebenarnya sudah tahu sedikit, tapi setelah haji 2014 baru semakin sering lihat di Youtube. Dulu Youtube belum sekencang sekarang penyebarannya,” jelasnya.

Sosok yang Menginspirasi

Dalam proses belajarnya, Akhuna Ari menemukan figur yang memberi kesan mendalam. Sosok tersebut adalah Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas rahimahullah. Bagi sebagian orang, gaya dakwah beliau mungkin terdengar tegas dan keras. Namun bagi akhuna Ari, di situlah letak kejujuran dan kejernihannya.

“Sosok yang menginspirasi adalah Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas. Saya suka karena beliau keras, artinya beliau lebih genuin, tidak bertele-tele. Saya sukanya yang begini,” ujarnya.

Menurutnya, ketegasan itu justru menghilangkan wilayah abu-abu dalam beragama.

“Meski kita tidak bisa menjalankan semua ilmu dari beliau, namun ajaran beliau tidak ada yang 'abu-abu' lagi,” tambahnya.

Salah satu hal yang paling membekas adalah penjelasan tentang kewajiban laki-laki untuk sholat berjamaah di masjid.

“Contohnya ajaran beliau tentang kenapa laki-laki harus (shalat) ke masjid. Dulu saya bingung masjid banyak, tapi kok kosong. Ternyata dulu tidak digaungkan laki-laki wajib ke masjid. Jadi ngapain banyak masjid, kalau sepi?” katanya.

Sedikit Tapi Istiqamah

Kini, fokus utama Akhuna Ari adalah menjaga keistiqamahan dalam menuntut ilmu. Pada usia 57 tahun, ia memilih langkah yang terukur. Ada dua program rutin yang dijalaninya saat ini. Selain mengikuti kajian langsung di Ma’had Babussalam Cimanggis, ia juga aktif sebagai santri di KBM HSI Abdullah Roy.

“Saat ini coba merutinkan di Babussalam Cimanggis. Kajian baca Al-Qur’an (tahsin) dan HSI Abdullah Roy. Sudah sekitar dua tahun ikut HSI, awalnya istri saya lebih dulu,” kisahnya.

Ketertarikannya pada HSI bermula dari kesan pertama terhadap sistem pembelajarannya.

“Tapi pas lihat ‘menunya’, wah bagus. Ternyata Islam yang sebenarnya tuh begini loh, beda dengan Islam yang saya tahu selama ini,” ujarnya.

Akhuna Ari mengaku sengaja membatasi diri agar tidak tergesa-gesa.

“Prinsip saya, kalau belum istiqamah, belum mau melangkah jauh dulu. Nanti kalau kira-kira bisa menambah, saya baru menambah (kelas HSI),” tuturnya.

Baginya, menjaga konsistensi jauh lebih berat daripada memulai.

“Harapan saya, semoga tetap istiqamah, dijaga jangan sampai goyah. Karena membangun itu mudah, dan menjaga itu sulit,” katanya mantap.

Metode belajar di HSI pun membuatnya jatuh hati. Kuis harian dinilai membantu materi lebih melekat.

“Saya langsung suka kalau dikasih materi dan ditanya seperti kuis harian. Jadi kita benar-benar belajar,” ujarnya.

Bahkan, proses belajar itu menjadi momen kebersamaan dengan keluarga.

“Kadang suka pamer nih ke anak misalkan sedang peringkat satu. Padahal setelah itu turun lagi peringkatnya, soalnya peringkat satu karena mengerjakannya duluan,” candanya.

Berdakwah Tanpa Menggurui

Di tengah kesibukannya menuntut ilmu, Akhuna Ari tetap menjalani perannya sebagai kepala keluarga dan pelaku usaha. Ia telah merintis usaha spring bed sejak tahun 2000, setelah sebelumnya bekerja di pabrik sejak 1994. Kini, usahanya tersebut membuka lapangan pekerjaan bagi puluhan orang.

“Alhamdulillah, usaha dari tahun 2000. Jumlah karyawan ada 42 orang. Jadi sebenarnya kerjanya agak santai, karena alhamdulillah sudah ada pelanggan,” tuturnya.

Di lingkungan kerja, akhuna Ari memilih berdakwah dengan cara yang halus. Ia tidak banyak bicara, apalagi memaksa.

“Saya mendakwahi karyawan secara langsung tidak berani, karena kebanyakan mereka orang lama (lebih tua, red) dan menyuruh orang berubah tidaklah mudah,” katanya.

Ia memulai dari diri sendiri, menjadikan perubahan sebagai teladan.

“Saya memberi contoh saja, misalkan dulu saya shalat tidak di masjid, sekarang ke masjid. Penampilan celana mulai dinaikkan tidak isbal, janggut dipanjangkan, lalu bagi-bagi kalender HSI ke karyawan,” jelasnya.

Dakwah itu juga disisipkan lewat cara sederhana.

“Misalkan gajian, biasanya suka kirim link dakwah dan pendaftaran HSI. Saat ini baru 1–2 orang yang nyantol, yang penting usaha dakwah jalan terus,” pungkasnya.

Perjalanan Akhuna Ari Widjaja menjadi pengingat bahwa hidayah Allah bisa datang melalui jalan logika dan ketulusan hati. Namun setelah hidayah diraih, ada ujian yang jauh lebih berat: istiqamah. Sebuah amalan seumur hidup untuk tetap teguh di atas Sunnah, hingga napas terakhir. Semoga Allah senantiasa menjaga antum sekeluarga, Akh.