Tarbiyatul Aulad

Menanamkan Semangat
Menuntut Ilmu Syar’i
dan Softskill Islami pada
Generasi Alfa

Penulis: Indah Ummu Halwa, Hawwina Fauzia

Editor: Za Ummu Raihan


Mendidik anak merupakan kewajiban, amanah, dan tanggung jawab yang melekat pada kedua orang tua. Pemahaman ini semestinya mendorong kesadaran untuk menempuh berbagai upaya terbaik agar kewajiban, amanah, dan tanggung jawab tersebut dapat dilaksanakan secara optimal sebagaimana mestinya.

Mengabaikan kewajiban, amanah, dan tanggung jawab dalam pendidikan anak akan menimbulkan konsekuensi serius bagi keberlangsungan hidup serta keterampilan mereka di masa depan, sehingga menyulitkan mereka untuk bertahan dan beradaptasi. Selain itu, kelalaian tersebut juga berpotensi menimbulkan dosa bagi kedua orang tua

Kita Tidaklah Sempurna

Ya, kita sebagai orang tua pada hakikatnya adalah manusia biasa yang tidak luput dari kelemahan dan kekurangan. Setinggi apa pun tingkat pendidikan orang tua, tetap saja kita tidak sempurna dan memiliki banyak keterbatasan. Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya membuat kita bersikap pasrah terhadap apa yang terjadi di hadapan kita. Sikap seperti, “Biarkan saja mereka tumbuh, nanti mereka akan mengerti sendiri,” atau “Saya percaya anak saya sudah mampu membawa diri,” sering kali menjadi awal kemerosotan pembentukan karakter anak-anak, baik pada masa kini maupun di masa mendatang.

Akan tetapi, dalam keadaan apa pun tidak ada sesuatu yang sulit bagi Allah Jalla wa ‘Ala. Segala daya dan kekuatan semata-mata berasal dari Allah. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai orang tua untuk senantiasa menggantungkan setiap ikhtiar kepada Allah Jalla wa ‘Ala, sehingga kita tidak semata-mata bersandar pada kemampuan diri sendiri yang terbatas.

Mengenal Era Anak Kita

Memang bukan perkara mudah mendidik anak-anak di era alpha. Generasi Alfa adalah mereka yang lahir mulai tahun 2010 hingga sekitar tahun 2024. Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh demografer asal Australia, Mark McCrindle, untuk menyebut generasi pertama yang lahir sepenuhnya di abad ke-21. Mereka disebut “Alpha” karena datang setelah Generasi Z, sekaligus menandai siklus baru dari urutan alfabet Yunani.[1]

Mengenal karakteristik perilaku anak kita dan lingkungan mereka tumbuh akan membantu kita menentukan langkah-langkah yang kemudian harus diambil. Dengan memahami era dan juga lingkungan di mana tempat anak-anak kita bersosialisasi, kita menjadi semakin waspada dan menyadari bahwa anak-anak generasi ini sangat membutuhkan bimbingan pendidikan sosial, moral, dan agama dengan menguatkan aqidah dan keimanan mereka.

Kelebihan Generasi Alfa[2]

1. Cepat Belajar dan Adaptif terhadap Teknologi

Generasi Alfa merupakan generasi digital yang mahir menggunakan perangkat elektronik dan internet sejak usia dini, bahkan sering kali sebelum mendapatkan pembelajaran langsung dari orang tua.

Contoh: anak usia prasekolah sudah mampu mengoperasikan telepon pintar, membuka aplikasi video pembelajaran, atau mengatur ulang pengaturan dasar gawai tanpa bantuan orang dewasa.

2. Terbiasa Berpikir Visual dan Interaktif

Mereka lebih tertarik pada konten visual seperti video, animasi, dan gim sebagai sarana belajar karena dianggap lebih mudah dipahami dibandingkan teks panjang yang cenderung melelahkan.

Contoh: anak lebih cepat memahami konsep berhitung melalui video animasi interaktif dibandingkan membaca buku pelajaran yang berisi penjelasan teks panjang.

3. Mandiri dan Fleksibel

Terbiasa mencari jawaban secara mandiri melalui mesin pencari serta mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan sosial secara cepat.

Contoh: ketika tidak memahami suatu istilah, anak langsung mencari penjelasan melalui mesin pencari atau video tutorial tanpa menunggu penjelasan guru atau orang tua.

4. Kreativitas dan Inovasi

Memiliki daya imajinasi yang kuat dan kreativitas tinggi dalam mengekspresikan diri, yang dipicu oleh pengalaman digital yang luas dan beragam.


Contoh: anak mampu membuat konten sederhana seperti video pendek, gambar digital, atau cerita animasi menggunakan aplikasi yang tersedia di gawai.

5. Ekspektasi Instan

Tumbuh di era ketika informasi tersedia secara cepat dan mudah diakses, sehingga memiliki ekspektasi tinggi terhadap kecepatan dan efisiensi.

Contoh: anak mudah merasa tidak sabar ketika koneksi internet lambat atau aplikasi membutuhkan waktu lama untuk memuat konten.

6. Percaya Diri

Cenderung memiliki rasa percaya diri yang baik, berani mengatur, senang tampil, dan menjadi pusat perhatian.

Contoh: anak dengan percaya diri berani tampil di depan kelas, memimpin permainan, atau menyampai-kan pendapatnya dalam diskusi kelompok.

Kelemahan Generasi Alfa[3]

Meskipun mereka memiliki sisi-sisi positif yang mendukung kemajuan, namun mereka tidak terlepas dari bayang-bayang sisi-sisi negatif sebagai imbas dari interaksi mereka yang kuat terhadap teknologi. Di antara kekurangan Generasi Alfa ialah:

1. Ketergantungan pada Teknologi

Kurangnya keterampilan sosial dan interaksi tatap muka karena lebih banyak berinteraksi melalui gawai. Kecanduan gawai dan konten digital yang dapat mengganggu kehidupan serta berpotensi kerusakan mata karena paparan layar yang berlebihan.

2. Dampak Kesehatan Mental dan Emosional

Rentan terhadap stres dan kelelahan mental karena paparan media sosial dan ekspektasi tinggi. Kesulitan mengelola emosi dan beradaptasi dengan kegagalan karena terbiasa dengan kesuksesan instan, serta risiko mengalami kecemasan karena terlalu banyak menerima informasi yang tidak sesuai.

3. Masalah Fokus dan Konsentrasi

Kesulitan mempertahankan fokus pada satu tugas dalam jangka waktu lama dan mudah bosan. Rentang perhatian yang pendek karena terbiasa dengan rangsangan yang serba cepat.

4. Kesehatan Fisik dan Gaya Hidup

Kurang aktif secara fisik karena lebih memilih aktivitas digital daripada bermain di luar rumah atau berolahraga. Risiko masalah gizi (underweight atau overweight) karena pola makan tidak seimbang sambil bermain gawai, paparan konten negatif, rentan terpapar informasi yang salah, tidak sesuai usia, atau konten negatif lainnya, dan berisiko mengalami penipuan atau penyalahgunaan data.

Mendidik Generasi Alfa

Setelah memahami karakteristik Generasi Alfa, kelebihan, dan kekurangan mereka, sangat penting bagi orang tua membesarkan anak-anak dengan nilai-nilai keimanan di dunia yang dinamis ini. Orang tua dapat menempuh beberapa hal di bawah ini, di antaranya:

1. Membekali Anak dengan Ilmu Aqidah dan Adab

Sedemikian pentingnya seorang anak memiliki dasar-dasar aqidah yang lurus dan kuat karena gelombang dan tantangan zaman yang kian menghempas dan melibas kuat siapa saja yang tidak berpegangan dengan kuat. Mengenai hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)[4]

2. Menanamkan Softskill Islami

Di antara bentuk softskill yang bisa diajarkan untuk anak-anak kita ialah melatih mereka untuk disiplin dan menghargai waktu, melawan malas, membiasakan diri dengan mengatakan “terima kasih”, “maaf”, “tolong”, bersabar, memberi udzur, melakukan pekerjaan dengan maksimal, menghargai orang lain, berlapang dada dalam segala hal, dan sebagainya.

3. Memupuk Kecintaan terhadap Ilmu Syar’i

Menumbuhkan dan memupuk kecintaan anak-anak terhadap ilmu sangat penting terutama di era ini. Karena semakin maju zaman, semakin dekat pula pada akhir zaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ

“Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.” (HR. Bukhari no. 80 dan Muslim no. 2671)[5]

Hal ini apabila orang tua membekali anak-anak dengan ilmu dan menumbuhkan kecintaan di atasnya, sebagaimana menyalakan cahaya bagi perjalanan panjang mereka. Karena sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama bahwa “ilmu itu cahaya”[6] yang akan senantiasa menuntun kita berada di atas jalan yang benar, tidak takut tersesat dan disesatkan. Untuk itu kita bisa memotivasi mereka dengan memberikan iming-iming keutamaan-keutamaan yang akan diraih apabila kita mencintai ilmu. Seperti janji Allah akan dimudahkan menempuh jalan menuju surga, keutamaan duduk di majelis ilmu, keutamaan orang berilmu, keutamaan orang yang mengamalkan serta mengajarkan ilmu, dan lain sebagainya.

4. Menyediakan Waktu Khusus untuk Membaca Buku Fisik termasuk Membaca Al-Qur’an/Mengulang Hafalan

Sisihkan waktu khusus untuk quality time bersama anak, meletakkan semua gadget dan mulai membuka buku-buku (fisik), membacakan kisah-kisah bergambar, mengajarkan adab, serta mengajak mereka menarik kesimpulan tentang apa yang sudah dibaca hari ini.

Setelah itu rencanakan kegiatan untuk esok hari, seperti mewarna gambar dan menceritakan isinya, tebak-tebakan tsaqofah Islamiyah, sambung ayat, atau sekedar mengulang kembali hafalan-hafalan al-Qur’an yang telah berlalu. Memasukkan muroja’ah hafalan hadits dan do’a serta praktik ibadah di dalam list kegiatan harian juga sangat baik. Bisa juga mengisi kegiatan dengan outdoor seperti bersepeda, menanam bunga dan merawatnya di kebun rumah, memilah sampah, atau berbagi sesuatu yang sederhana dengan tetangga.

5. Menjadi Contoh Terdepan dan Sebagai Sumber Rujukan Pertama bagi Anak

Para orang tua hendaknya bisa menjadi contoh terdepan bagi anak-anaknya dalam segala hal, termasuk agama, adab, dan akhlak. Sampaipun dalam hal bersemangat untuk menghadiri majelis ilmu perlu dicontohkan. Kepada siapa lagi anak-anak akan merujuk jika bukan kepada orang tuanya? Mereka yang paling dekat keberadaannya dengan anak-anak. Oleh karenanya, orang tua wajib memperkaya diri dengan pengetahuan agamanya, membaguskan bacaan Al-Qur’annya dan mengerti hukum-hukum tajwid Al-Qur’an.

Selain perkara agama, orang tua juga harus mengerti sebagian urusan dunia. Manajemen diri, manajemen waktu, dan ilmu pengetahuan umum. Seringkali anak-anak akan bertanya tentang sesuatu yang sebelumnya tidak kita duga. Pengetahuan orang tua yang mumpuni akan menekan rasa penasaran mereka yang membuat mereka mencari tahu sendiri melalui internet disebabkan jawaban-jawaban orang tua yang kurang memuaskan maksud mereka.

6. Membekali Diri dengan Ilmu Parenting

Model pengasuhan di era kedua orang tua kita mengasuh kita, dengan era sekarang ketika kita mengasuh anak-anak kita Gen Alfa tentu jauh berbeda karena zaman yang terus berubah. Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk memperluas wawasan dengan menambah ilmu tentang pengasuhan anak. Kita bisa mencari di website atau menghadiri dan mendengarkan ceramah-ceramah para pakar pengasuhan dan psikolog anak yang dikombinasikan dan disesuaikan dengan pemahaman para salaf.

7. Menetapkan Aturan di Rumah

Membuat aturan di rumah berdasarkan kesepakatan bersama seluruh anggota keluarga, maupun keputusan sepihak dari orang tua, tak kalah penting dilakukan. Aturan ini bisa dibuat tertulis ataupun tidak, sebagai pengingat setiap anggota keluarga akan tugas, tanggung jawab, dan kewajiban masing-masing yang telah dibuat bersama, termasuk di dalamnya aturan penggunaan gadget.

8. Memberikan Batasan dan Kontrol Digital

Orang tua sebaiknya membuat kesepakatan dengan anak-anak, mengenai: kapan dan berapa lama mereka boleh menggunakan gawai; konten/situs yang boleh diakses; mengaktifkan proteksi orang tua; menetapkan konsekuensi/ punishment terhadap pelanggaran penggunaaan gadget baik waktu maupun kontennya.

Usahakan anak-anak tidak memiliki gadget sendiri, jadi memakai gadget orang tua. Hal ini untuk menghindari praktek kebablasan dalam hal kepemilikan dan penggunaannya. Anak-anak juga perlu pendampingan selama mengakses internet, untuk menghindari mereka terpapar aplikasi toxic, aplikasi judol, dan game online, juga situs-situs pornografi.[7]

9. Memfasilitasi dan Mendorong Kreatifitas Anak Sesuai Eranya

Sangat sulit di era ini untuk mencegah anak-anak tidak menggunakan gadget. Karena sebagian tugas sekolah bahkan memang menggunakan aplikasi, daring dan grup WhatsApp. Oleh karenanya, hal yang bisa kita lakukan saat ini adalah memberi pemahaman kepada anak-anak kapan mereka mulai boleh menggunakan gadget dan digunakan untuk apa saja gadget tersebut.

Orang tua bisa mengarahkan anak-anak ketika memakai gadget untuk memuroja’ah hafalan, mendengarkan murottal dan kajian Islam anak, ZOOM kelas anak-anak, menggambar dengan aplikasi tertentu seperti membuat flyer dakwah dari perkataan bijak para ulama’, ayat-ayat al-Qur’an, dan hadits. Membuat gambar-gambar menarik tentang adab Islami, mendengarkan kisah Islami, coding, dan lain-lain yang sifatnya tidak melanggar batasan agama.

10. Memilihkan Lingkungan Belajar dan Sosial yang Tepat

Hal lain yang perlu diwaspadai di era ini adalah banyaknya bermunculan pemahaman, adab-adab, tontonan-tontonan aneh yang jauh dari kesempurnaan Islam. Sehingga kewajiban orang tua yang tak kalah penting adalah memilihkan sekolah, lingkungan belajar dan lingkungan sosial yang baik di mana anak-anak bisa belajar tentang agama mereka, belajar adab dan akhlak Islam dengan baik sebagai bekal mereka mampu survive di masa depan.

Memilihkan sekolah yang sesuai dengan pemahaman para sahabat diharapkan akan membentuk karakter anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang kuat agamanya, bagus akhlak dan adabnya serta tangguh menghadapi fitnah-fitnah dunia. Dengan memilihkan mereka lingkungan sosial yang baik, akan menolong mereka untuk bisa mengamalkan ilmu agama mereka serta istiqomah terhadap apa yang telah mereka pelajari di sekolah.

11. Memohon Pertolongan kepada Allah Jalla wa ‘Ala

Seberapapun keras usaha orang tua, seberapapun bagus kualitas sekolah anak-anak kita, jika tanpa pertolongan Allah Jalla wa ‘Ala, semua rencana kita tak kan mampu terlaksana dengan baik. Senantiasa orang tua harus mencari backup terbaik yaitu Allah Jalla wa ‘Ala dengan banyak berdoa dan menyandarkan segala usaha kepada-Nya.

Maka, semoga Allah mudahkan segala upaya para Ayah dan Bunda agar bisa memberikan pendidikan serta teladan terbaik untuk ananda tercinta. Semoga ananda tumbuh menjadi anak yang cinta dengan ilmu agama, senantiasa berbekal dengan ilmu agama, dan menjadi sebab bagi orang tuanya untuk masuk ke dalam Surga-Nya, aamiin. Wabillahit taufiq, wallahu a’lam.

Referensi:

  • Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Maktabah Syamilah
  • Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah
  • Al-Jauziyyah, Ibnul Qayyim., Miftah Dar As-Sa’adah, https://shamela.ws
  • Redaksi Halodoc, 2025, Gen Alpha: Tahun Lahir, Karakteristik dan Cara Mendidiknya, diakses 15 Desember 2025, dari https://www.halodoc.com/artikel/gen-alpha-tahun-lahir-karakteristik-dan-cara-mendidiknya