Doa

Memohon Tambahan Ilmu yang Bermanfaat

Penulis: Athirah Mustadjab

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.



LAFAL DOA

اَللَّهُمَّ ‌انْفَعْنِي ‌بِمَا ‌عَلَّمْتَنِيْ، وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ، وَزِدْنِي عِلْمًا

“Ya Allah, berilah manfaat atas ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah kami ilmu yang bermanfaat untukku dan tambahlah ilmuku.”

(HR. At-Tirmidzi di Sunan At-Tirmidzi nomor 3599 dan Ibnu Majah di Sunan Ibnu Majah nomor 3833)



MAKNA LAFAL

· (اَللَّهُمَّ ‌انْفَعْنِيْ ‌بِمَا ‌عَلَّمْتَنِيْ)

Yaitu mengamalkan ilmu yang kumiliki,[1] sesuai tuntutan-Mu, dengan tulus karena wajah-Mu.[2]

· (وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ)

Yaitu ilmu yang memberiku manfaat dalam agamaku dan akhiratku atau dapat aku amalkan,[3] agar dengan perantaranya aku dapat naik menuju tingkatan amal yang lebih besar.[4]

· (وَزِدْنِيْ عِلْمًا)

Yaitu ilmu yang bersumber langsung dari-Mu, yang berkaitan dengan Dzat-Mu, nama-nama-Mu dan sifat-sifat-Mu. Dalam ungkapan ini terdapat isyarat tentang keutamaan menambah ilmu dibandingkan amal. Ath-Thibi mengatakan, “Yakni, jadikanlah aku mengamalkan ilmuku dan ajarilah aku ilmu yang bisa aku amalkan.” Di dalam penggalan lafal doa ini juga terdapat isyarat pada makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barang siapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, niscaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon tambahan ilmu berupa ilmu yang dapat mengantarkan pada ma’rifatullah, yang merupakan puncak perjalanan ruhiyah seorang hamba.[5]

ULASAN DOA

  1. Doa ini atau doa lainnya yang berbentuk sajak, merupakan dalil atas pendapat para ulama bahwa sajak yang tercela dalam doa adalah sajak yang dibuat-buat. Alasannya, sajak yang dibuat-buat akan menghilangkan kekhusyukan, ketundukan hati, dan keikhlasan dalam berdoa; membuat hati lalai dari ketundukan dan rasa butuh kepada Allah; serta membuat jiwa tak menghayati isi doa. Adapun doa yang bentuk sajaknya tidak dibuat-buat, melainkan terucap karena sempurnanya kefasihan si penutur, atau karena doa tersebut memang ringan diucapkan dalam format sajak karena lafalnya tak asing di lidah, maka hal semacam itu tidak apa-apa, bahkan termasuk hal yang baik.[6]
  2. Dalam doa ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta tambahan ilmu kepada Allah. Hal tersebut merupakan isyarat untuk meminta kepada Allah agar seorang hamba bisa terus mencari ilmu hingga ia dapat mencapai kedudukan yang mulia di sisi Allah Ta’ala.[7]
  3. Ilmu dan amal saling berkaitan: ilmu adalah sarana bagi amal, sedangkan amal adalah buah dari ilmu. Oleh sebab itu, sebagian ulama mengatakan, “Allah tidak memerintahkan Rasul-Nya untuk meminta tambahan dalam sesuatu pun, kecuali dalam hal ilmu.”[8]
  4. Dengan bertambahnya ilmu agama dalam diri seseorang, Allah akan meninggikan derajatnya dengan bertambahnya ma’rifahnya (pengenalannya) terhadap Allah Ta’ala. Sebagai hasilnya, dia akan semakin baik dalam amal shalihnya karena ilmu yang dimilikinya merupakan sarana menuju amal.

Referensi:

  • Sunan At-Tirmidzi, At-Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Sunan Ibnu Majah, Ibnu Majah, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Mirqatul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih, Al-Mulla Al-Qari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Faidhul Qadir, Abdurrauf bin Taj Al-‘Arifin Al-Munawi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Fathul Qaribil Mujib ‘alat Targhib wat Tarhib, Hasan bin Ali Al-Fayumi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Syarhud Du’a minal Kitabi was Sunnah, Abu Abdirrahman Mahir bin Abdul Hamid bin Muqaddam, Al-Maktabah Asy-Syamilah.