Konsisten : Kunci Sukses Belajar Online
Online
Reporter: Gema Fitria
Redaktur: Dian Soekotjo
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَ إِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.” (HR. Muslim)[1]
Setiap pagi, kala dunia belum sepenuhnya riuh oleh kesibukan, ribuan santri HSI serentak menerima materi pembelajaran. Audio pendek yang dibagikan sedikit demi sedikit itu menjadi pembuka hari. Ringan, terukur, tetapi rutin. Ada santri yang langsung menyimak sambil mencatat, ada pula yang memilih menunda menyimak. Reminder evaluasi di grup-grup diskusi maupun dari aplikasi, tak ketinggalan memenuhi kesibukan para santri HSI.
Namun, fasilitas yang banyak ternyata tidak serta-merta menjamin semangat santri selalu menyala. Di ujung silsilah, tidak sedikit santri yang terhenti karena gagal memenuhi nilai minimal syarat kelulusan. Bisa jadi bukan karena tidak paham materi, tetapi gara-gara sering menunda sampai terlewat mengerjakan evaluasi.
Tindakan mengabaikan tampaknya merupakan indikasi kegiatan belajar agama belum menjadi prioritas. Hanya mereka yang tekun, biidznillah akan mudah meraih kesempatan melanjutkan ke silsilah berikutnya atau meraup ilmu yang lebih dalam. Ini bukti bahwa semangat menggebu di awal tanpa upaya istiqamah, bisa saja hanya akan sia-sia.
Latar Belakang Santri yang Beragam
Santri HSI terdiri dari ribuan orang dengan latar belakang yang beragam. Mulai dari anak usia 10 tahun sampai para senior berusia 80-an tahun. Mulai dari pelajar, fresh graduate, pekerja sektor formal dan informal, hingga ibu rumah tangga. Semua memiliki rutinitas harian, dan masing-masing berjuang menyisihkan waktu untuk belajar.
Ukhtunaa Efrida Elly dari Angkatan 211, misalnya. Selain mengurus rumah tangga, Ukhtuna Oning, panggilan akrabnya, bekerja sebagai ASN tenaga kesehatan di salah satu rumah sakit di Bangka Tengah. “Untuk membagi waktu belajar di HSI, setiap ada waktu luang, saya langsung menyimak audio materi lalu segera mengerjakan evaluasi. Kurang lebih 5 tahun, alhamdulillah masih Allah kasih semangat untuk terus belajar agama di HSI,” ucapnya bersyukur.
Latar kesibukan lain dilakoni Ukhtuna Khairatur Rasyidah dari Angkatan 182. Ukhtu Idha, demikian ia kerap disapa, adalah ibu 2 anak usia 7 dan 5 tahun yang juga mengelola usaha toko oleh-oleh haji dan umrah. “Seperti kebanyakan ibu-ibu, kalau Subuh itu sudah menyiapkan bekal untuk anak-anak dan makan siang keluarga. Setelah si bungsu pulang habis Dzuhur, menemani anak istirahat siang atau belajar. Jam 4 sore giliran si kakak pulang. Malam jadwal anak-anak belajar dan muraja’ah sampai jam setengah 9. Setelah anak-anak tidur, baru bisa menyempatkan diri untuk menyimak materi dan mengerjakan evaluasi,” urainya menceritakan jadwal hariannya.
Ukhtuna Idha melanjutkan, HSI telah menawarkan kemudahan untuk tetap menuntut ilmu di mana pun berada. Tampaknya, Ukhtuna Idha tak mau menyia-nyiakan kemudahan ini. Ia terlihat berupaya sesibuk apa pun, tetap semangat belajar agama. Namun, sekadar semangat tidaklah cukup. Apabila ingin mendapatkan hasil yang lebih, usaha yang dijalankan juga harus sepadan.
Ukhtuna Idha melanjutkan, HSI telah menawarkan kemudahan untuk tetap menuntut ilmu di mana pun berada. Tampaknya, Ukhtuna Idha tak mau menyia-nyiakan kemudahan ini. Ia terlihat berupaya sesibuk apa pun, tetap semangat belajar agama. Namun, sekadar semangat tidaklah cukup. Apabila ingin mendapatkan hasil yang lebih, usaha yang dijalankan juga harus sepadan.
“Banyak kisah inspiratif dari santri yang tetap menyimak dan mengerjakan evaluasi meski kondisi tidak memungkinkan. Yang dirawat di rumah sakit, yang sedang sakit keras masih mengerjakan evaluasi dengan dibantu anggota keluarga untuk membacakan soal, dan lain-lain. Justru karena kesibukan itu, HSI menjadi wadah tepat menuntut ilmu walau dengan waktu yang sempit,” ujar Ukhtu Idha melengkapi.
Kontinu Itu Berat, Tapi Penting
Awal pendaftaran, biasanya peserta membludak hingga pengurus kewalahan. Namun, seiring waktu, seleksi alam tak terelakkan. Peserta akan tersaring sendiri. Semakin hari semakin menyusut hingga tidak ada yang bertahan, kecuali sangat sedikit.
Faktor penyebab peserta berguguran memang beragam. Bisa karena kelelahan membagi waktu. Atau, kehilangan motivasi disebabkan aktivitas yang terlalu padat. Bisa pula semangat yang mengendur karena ketiadaan pengingat spiritual.
Untuk meminimalkan faktor-faktor penghambat konsistensi, sebenarnya HSI telah merancang pembelajaran terstruktur dari Senin hingga Jum’at, diantaranya dengan menyiapkan :
- Materi dimulai dari pondasi dasar
- Audio dibagikan setiap hari di pagi hari
- Ada Admin yang mendampingi santri baik sebagai pengarah proses teknis maupun pemberi motivasi
- Komunitas belajar yang diupayakan membantu menjadi wadah bagi para santri untuk saling menguatkan atau menyemangati
- Tujuannya mungkin sederhana, yaitu agar setiap santri punya kesempatan untuk konsisten.
Tips Menjaga Kontinuitas Belajar
Dari pengalaman para santri, ada beberapa tips dan strategi yang bisa diterapkan agar kontinuitas tak mudah surut, di antaranya:
- Tetapkan Waktu Belajar
Pilih waktu yang pasti, misalnya 30 menit setelah Subuh. Rutinitas di jam yang sama membentuk karakter disiplin.
Ukhtuna Andyamahap dari Angkatan 231 mengingatkan, “Sebagaimana shalat lima waktu mengajarkan disiplin, demikian pula belajar. Memilih waktu yang sama setiap hari berarti kita bersegera dalam kebaikan.” - Jangan Mengejar Banyak, Tapi Rutin
Sedikit yang dikuasai lebih baik daripada banyak yang tidak membekas.
Ia melanjutkan, “Menikmati proses adalah ibadah yang di dalamnya butuh kesabaran dan kerendahan hati memaknai setiap ilmu. Walau sedikit tapi teraktualisasi dalam perbaikan diri, itu lebih saya pilih, sebagaimana para salaf sangat bersabar dengan kondisi yang dihadapi demi satu huruf dari guru-guru mereka.” - Gunakan Pengingat Ilmiah dan Spiritual
Tempel kutipan motivasi di meja belajar, di buku catatan, atau di tempat-tempat yang sering terlihat.
Santri angkatan 191, Ukhtuna Sandra, membagikan kebiasaannya menempelkan kalimat-kalimat motivasi. “Saya sering menempelkan ayat atau hadits di buku catatan. Setiap kali melihat, saya merasa diingatkan untuk kembali menuntut ilmu,” ujarnya.
Ayat yang paling sering menjadi penguat baginya adalah firman Allah, ‘Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat’ [QS. Al-Mujādalah: 11]. “Setiap membaca ayat itu, rasanya malu kalau malas belajar,” akunya.
Hadits Riwayat Imam Muslim dari sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ‘Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga’, diakui Ukhtuna Sandra, juga menjadi penghias di sudut meja tulisnya. Makna deretan kalimat yang ditulisnya di atas kertas note itu diakuinya senantiasa mendongkrak semangat belajar. - Temukan Teman Sejalan
Manfaatkan grup belajar sebagai sarana bersosialisasi, diskusi seputar materi HSI, menambah pertemanan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Grup belajar bukan hanya tempat bertanya, tetapi juga ruang saling menguatkan.
“Jujur saja, dengan melihat capaian teman-teman dalam belajar dengan nilai di peringkat, itu lumayan membakar semangat ana,” ungkap Ukhtuna Ria, salah satu santri dari Angkatan 242. Ibu dua putri ini mengaku sesekali memberi ucapan selamat pada teman-teman satu grupnya yang meraih nilai Mumtaz Murtafi’. Baginya, cara ini ampuh menjadikannya kian semangat meniru mereka dalam memilih pola belajar. “Dari memberi selamat, kemudian sering ngobrol, dan biasanya jadi tahu tips belajar mereka,” timpalnya.
Meski tips belajar dari teman tak selamanya bisa diterapkan untuk diri-sendiri, warga Bekasi itu mengaku tetap termotivasi untuk giat belajar. “Kalau mereka bisa, seharusnya ana juga bisa. Tinggal berusaha saja semaksimal yang kita bisa dan jangan malas,” katanya berbagi semangat. - Jadikan Ilmu Sebagai Ibadah, Bukan Tugas Luruskan niat hanya untuk Allah. Dengan niat yang benar, lelah pun berubah menjadi berkah. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Ilmu tidak akan memberikan sebagian dirinya hingga engkau memberikan seluruh dirimu kepadanya.”
Peran Divisi KBM dalam Menjaga Ritme Belajar Santri
Koordinator KBM ART, Ukhtuna Fauziana atau yang kerap disapa Mbak Ana, menjelaskan bahwa Divisi KBM berupaya menjadi penggerak utama dalam menjaga ritme belajar santri melalui sistem pembelajaran yang terstruktur, terukur, dan berkesinambungan.
“Terstruktur, dengan memulai materi dari dasar yang sangat penting, yaitu materi tentang pentingnya belajar tauhid dan kesyirikan. Terukur, dengan memberikan evaluasi dari setiap materi yang disampaikan. Berkesinambungan, yaitu dilaksanakan secara terus-menerus berdasarkan level-level yang telah ditetapkan dalam setiap pembelajaran,” demikian Mbak Ana memaparkan.
Selain materi wajib, lanjutnya, Divisi KBM juga memberikan materi Pengagungan Terhadap Ilmu sebagai mukadimah khusus untuk santri baru, dilanjutkan dengan materi Khulashoh Ta’zhimul ‘Ilmi setelah menyelesaikan level tertentu. Di samping itu, Divisi KBM juga mengadakan Muhadharah Kubra sebagai materi tematik, dan Muraja’ah Kubra pada akhir sebagai upaya muraja’ah materi wajib yang telah dipelajari dalam setahun.
Tak hanya itu, Divisi KBM menyiapkan syahadah dan transkrip nilai sebagai bukti belajar dan pencapaian. “Reward buat 3 besar setiap angkatan, juga merupakan upaya KBM dalam memberikan apresiasi bagi santri berprestasi,” ujar Mbak Ana.
Ia mengungkapkan bahwa Divisi KBM senantiasa berusaha membuat santri mendapatkan pengalaman belajar yang nyaman dan menyenangkan melalui pendampingan admin.
“Admin memiliki peran penting sebagai pendamping belajar sekaligus pengingat kedisiplinan santri. Admin secara rutin memantau keaktifan santri, baik dari sisi partisipasi dalam grup maupun hasil evaluasi. Jika ditemukan santri yang jarang aktif mengerjakan evaluasi, admin akan melakukan pendekatan personal, biasanya dengan menanyakan kendala yang dihadapi, memberikan motivasi serta mengingatkan kembali niat dan tujuan mulia menuntut ilmu,” urainya.
Untuk bisa mencapai tujuan tersebut, HSI melalui Divisi KBM memiliki sistem kaderisasi dan pelatihan khusus bagi calon admin. Dengan demikian, diharapkan setiap admin tidak hanya bekerja secara teknis, tetapi juga bisa mendampingi santri dari hati.
Di akhir wawancara, Mbak Ana berpesan agar semua santri menjaga konsistensi dalam belajar walau dengan langkah kecil, belajar setiap hari meski sebentar, dan berusaha menjadikan belajar agama sebagai kebutuhan yang tidak boleh terlewat di antara sekian banyak kesibukan yang lain.
Memang keberkahan dalam sebuah amalan membutuhkan lebih dari sekadar semangat. Yang lebih penting adalah konsisten melakukan amal tersebut agar mendapatkan keberhasilan. Ibarat bayi yang tidak menyerah ketika sedang belajar berjalan, konsistensi ialah mencoba terus meski selangkah demi selangkah. Setiap kali jatuh, ia akan segera bangkit dan berjalan kembali. Demikian pula dalam hal belajar.
Keberkahan lahir bukan dari banyaknya kelas yang diikuti, tapi lebih karena hati yang terus punya keinginan belajar yang membawa pada keistiqamahan.
Di awal mungkin terasa sulit, tetapi harus dipaksa agar terbiasa. Tak mungkin ilmu akan melekat jika belajar hanya ketika sempat. Konsistensi adalah jembatan antara niat dan hasil. Semakin konsisten, jalan menuju kesuksesan akan semakin dekat. Dan bagi santri HSI, setiap pekan yang dijalani dengan ilmu adalah langkah kecil menuju keberkahan besar dan keselamatan dunia akhirat, insyaallah. Semangat selalu menuntut ilmu, teman-teman. Mari konsisten belajar.