Tautan rekaman: https://youtu.be/XBBgXCM_CjE
Kisah Inspiratif
dalam Menuntut Ilmu
Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo
Editor: Faizah Fitriah
Di antara cara untuk menumbuhkan dan mengembalikan semangat dalam menuntut ilmu agama adalah dengan mendengarkan kisah-kisah inspiratif. Cara ini memiliki dasar kuat dalam agama kita.
Allah Menyebutkan Kisah dalam Al-Qur'an
Al-Qur’an berisi banyak kisah para nabi dan orang-orang shalih. Salah satu faedah utama kisah-kisah itu adalah menguatkan hati Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah menceritakan:
- Kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam dan ujian dakwahnya
- Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam perjuangan dan cobaan yang beliau hadapi,
- Kisah Nabi Yusuf, Ashabul Kahfi, Maryam, ‘alaihimussalam dan kisah-kisah lainnya.
Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca kisah para nabi sebelumnya—yang juga dicela, ditolak, dan diuji—hal itu menjadi penghibur dan penguat bagi beliau. Ini menunjukkan bahwa kisah dapat memberikan kekuatan spiritual dan motivasi.
Allah Ta'ala bahkan berfirman:
فَٱقْصُصِ ٱلْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A'raf: 176)
Hal ini menunjukkan bahwa menyampaikan kisah adalah bagian dari metode pendidikan dan dakwah dalam Islam.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun Menyampaikan Kisah
Dalam hadits-hadits sahih, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga menceritakan kisah-kisah penuh hikmah. Di antaranya, kisah tiga orang Bani Israil yang diuji oleh Allah; seorang yang buta, yang botak, dan yang memiliki penyakit kulit. Kisah ini panjang dan kaya dengan pelajaran akhlak, kesyukuran, dan kejujuran.
Kisah Para Ulama Salaf
Selain kisah para nabi, sahabat, tabi’in, dan para imam besar seperti Imam Malik, Imam Syafi‘i, dan Imam Ahmad bin Hanbal juga sangat bermanfaat. Kisah-kisah mereka telah ditulis oleh para ulama dan mudah ditemukan dalam berbagai kitab. Melalui kisah-kisah tersebut, mengandung contoh nyata berkenaan:
- Semangat dalam mencari ilmu,
- Sabar dalam ujian,
- Keikhlasan dan keteguhan di atas agama.
Hukum Menyampaikan Kisah di dalam Majelis Ilmu
Para ulama salaf menjelaskan bahwa menyampaikan kisah dalam majelis ilmu atau dakwah adalah sesuatu yang dibolehkan, selama terpenuhi syarat-syarat tertentu. Imam Ahmad rahimahullah berkata, "Jika orang yang bercerita adalah orang yang jujur, maka aku memandang tidak mengapa duduk bersamanya."
Ini menunjukkan bahwa mengisahkan kisah dalam dakwah itu boleh, selama kisahnya benar dan tidak ditambah-tambah. Kisah dusta atau kisah yang dibesar-besarkan bukanlah jalan para salaf.
Namun, tidak boleh menjadikan kisah sebagai modal utama dakwah, karena itu bisa mendorong pencerita menambah-nambah cerita agar menarik, menakutkan, atau membuat orang menangis, sebagaimana yang dinukil dari Al-Auza‘i rahimahullah ketika ditanya tentang sekelompok orang yang meminta salah satu dari mereka untuk bercerita, beliau menjawab: "Jika hanya sesekali, tidak mengapa."
Kisah-kisah yang mengingatkan tentang akhirat, seperti timbangan amal, hari kiamat, dan azab kubur, termasuk kisah yang bermanfaat, selama disampaikan jujur dan tanpa tambahan dusta.
Semangat Para Salaf dalam Menuntut Ilmu: Kisah Imam Malik dan Imam Syafi‘i
Ketika membaca kisah-kisah para salaf, kita mendapati betapa besar semangat mereka dalam menuntut ilmu agama. Mereka menjadikan majelis ilmu sebagai tujuan utama yang harus dikejar, bukan sesuatu yang disikapi dengan santai seperti banyak dari kita hari ini, bahkan sebagian salaf ketika masih remaja, sudah terbiasa pergi ke majelis ilmu sebelum subuh.
Ada yang sampai ditegur ibunya agar menunggu adzan karena terlalu semangat berangkat lebih awal. Sebagian lainnya bahkan tidur di masjid agar tidak terlambat dan mendapatkan tempat terbaik. Mereka berusaha duduk di barisan depan, mendengar langsung suara guru, mencatat setiap ilmu, dan tidak ingin tertinggal satu huruf pun. Perhatikan bagaimana kesungguhan para salaf di dalam menuntut ilmu, sebagaimana kisah berikut ini:
Kisah Imam Malik dan Imam Syafi‘i
Dikisahkan bahwa Imam Malik pernah melihat Imam Syafi‘i muda datang ke majelisnya tanpa membawa pena dan kertas. Imam Malik pun menegur, "Wahai ghulam, bagaimana engkau menuntut ilmu tanpa pena dan kertas?”
Imam Syafi‘i menjawab bahwa ia tidak mampu membeli keduanya karena sangat miskin. Ibunya sampai pergi ke tempat pegawai kerajaan untuk mengumpulkan kertas-kertas bekas agar bisa digunakan anaknya mencatat ilmu.
Mendengar hal itu, Imam Malik merasa heran dan bertanya bagaimana mungkin Imam Syafi‘i dapat menghafal banyak hadits tanpa menulisnya.
Imam Syafi‘i kemudian memberikan jawaban yang menunjukkan kesungguhan, "Aku menulis hadits-hadits itu dengan jariku di atas telapak tanganku, lalu kuhapus dan kutulis hadits berikutnya. Dengan cara itu aku menghafalnya di luar kepala."
Imam Malik masih tidak percaya hingga beliau meminta Imam Syafi‘i untuk memperdengarkan kembali hadits-hadits yang baru saja disampaikan pada hari itu. Imam Syafi‘i kemudian mengulang semuanya satu per satu dengan tepat. Imam Malik pun takjub atas kekuatan hafalan dan kesungguhan muridnya itu.
Sungguh menakjubkan bagaimana para salaf sangat menjaga waktu mereka untuk hadir lebih awal di majelis ilmu serta mencatat apa yang didengar sesuai kemampuan yang dimiliki. Hal ini menjadi sebuah renungan terhadap diri sendiri: “Jika Imam Syafi‘i yang miskin saja bersungguh-sungguh, maka kita yang lebih mudah mendapatkan fasilitas seharusnya lebih bersemangat.”
Maka, tak dapat dielakkan, kisah ini adalah contoh nyata bagaimana kesungguhan, adab, dan kerja keras menjadi sebab keberkahan ilmu para ulama besar.
Usia Tak Jadi Penghalang Menuntut Ilmu
Sebagian orang merasa terlambat untuk menuntut ilmu agama karena usia yang tidak lagi muda. Bahkan ada yang malu menghadiri majelis ilmu karena merasa baru belajar di usia dewasa. Kenyataannya, anggapan ini tidaklah benar.
Jika kita menengok sejarah para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mayoritas dari mereka justru mulai menuntut ilmu ketika sudah dewasa atau tua. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai Rasul pada usia 40 tahun, dan setelah itu barulah para sahabat mengenal Islam. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu masuk Islam sekitar usia 38 tahun, sementara Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu masuk Islam pada usia lebih dari 40 tahun. Meski demikian, mereka menjadi generasi terbaik umat ini.
Usia bukan penghalang untuk belajar. Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat mulia dan dicintai oleh Allah, baik bagi yang masih muda maupun yang sudah tua. Para ulama menjelaskan bahwa menuntut ilmu termasuk ibadah yang paling utama, lebih besar pahalanya daripada banyaknya amalan sunnah.
Jejak Kesungguhan Para Sahabat dalam Menuntut Ilmu
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Belajarlah kalian sebelum kalian ditokohkan.”
Nasihat ini mendorong agar masa muda dimanfaatkan untuk menuntut ilmu sebelum datang banyak tanggung jawab. Namun, setelah ditokohkan pun seseorang tetap diperintahkan untuk belajar sesuai kemampuannya.
Kesibukan dunia tidak menghalangi para sahabat dari mempelajari ilmu. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan bahwa ia dan seorang tetangganya dari kalangan Anshar bergantian menghadiri majelis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka yang hadir akan menyampaikan ilmu dan peristiwa di hari itu kepada mereka yang tidak hadir. Ini menunjukkan besarnya perhatian para sahabat terhadap ilmu agama.
Menuntut Ilmu di tengah Kesibukan, Apakah Mungkin?
Di zaman sekarang, menuntut ilmu jauh lebih mudah. Majelis ilmu dapat direkam dan disimak kembali. Kesibukan bukan alasan untuk meninggalkan ilmu. Beberapa kiat agar tetap bisa menuntut ilmu kendati di tengah kesibukan:
- Membagi waktu dengan baik dan disiplin.
- Berdoa kepada Allah agar diberi keberkahan waktu.
- Mengikuti metode para ulama dalam menuntut ilmu.
- Memulai dari dasar dan tidak tergesa-gesa.
Banyak sahabat dan ulama yang memiliki usaha namun tetap unggul dalam hal menuntut ilmu. Abu Bakar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhum adalah pedagang sukses sekaligus termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
Laits bin Sa‘d rahimahullah adalah ulama besar Mesir yang sangat kaya, bahkan disebut lebih faqih daripada Imam Malik rahimahullah. Abdullah bin Mubarak rahimahullah juga seorang ulama besar dan pedagang dermawan. Akan tetapi, kekayaan mereka tidak melalaikan dari menuntut ilmu, justru menjadi penopang untuk meraup sebanyak-banyaknya kebaikan.
Ilmu Membutuhkan Pengorbanan
Sejak dahulu, menuntut ilmu membutuhkan pengorbanan. Imam Malik rahimahullah pernah membongkar atap rumahnya dan menjual kayunya demi menuntut ilmu. Tak hanya itu, para salaf rela meninggalkan kenyamanan, menutup toko, bahkan melakukan perjalanan jauh demi menghadiri majelis ilmu. Meskipun kita tidak mampu seperti mereka, kita tetap harus berusaha sesuai kemampuan.
Masa Lalu Bukan Penghalang Hidayah
Seseorang tidak disyaratkan harus shalih sejak kecil untuk menjadi penuntut ilmu. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah dahulu adalah seorang perampok. Namun, Allah memberinya hidayah hanya dengan satu ayat:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ ٱللَّهِ
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hati mereka dalam mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16)
Beliau pun bertaubat dan menjadi ulama besar. Ini menunjukkan bahwa masa lalu yang buruk bukan penghalang untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Faktanya, menuntut ilmu adalah jalan terbaik untuk memperbaiki diri.
Ikatlah Ilmu dengan Menulis
Menulis adalah sarana menjaga ilmu agar tidak hilang. Para salaf membiasakan menulis faedah, pertanyaan, dan jawaban dari guru-guru mereka. Agar tulisan tersebut bermanfaat, perhatikan kiat-kiat berikut ini:
- Luruskan niat karena Allah.
- Luangkan waktu untuk membaca ulang catatan.
- Rapikan tulisan agar mudah dipahami.
Maka sejatinya, menuntut ilmu tidaklah dibatasi oleh usia, kesibukan, maupun masa lalu. Fondasi yang dibutuhkan adalah niat yang ikhlas, kesungguhan, serta pengorbanan. Sedikit ilmu yang diamalkan lebih baik daripada banyaknya ilmu yang diabaikan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa menuntut ilmu hingga akhir hayat. Amin. Hadza wallahu a’lam.