Sirah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan openai)

Kekompakan
Keluarga Abu Dahdah
dalam Ketaatan

Penulis: Azhar Abi Usamah

Editor: Athirah Mustadjab


Setiap orang memiliki panutan yang dapat dijadikan teladan dalam hidup. Darinya, ia mendapat inspirasi dan contoh nyata. Termasuk di dalamnya keteladanan dalam kehidupan rumah tangga kaum muslimin yang pada akhir-akhir ini banyak sekali terlihat mengalami masalah dan ketimpangan di sana-sini. Dimulai dari maraknya praktik nusyuz antara suami dan istri, hingga ketidakpahaman terhadap tujuan dilakukannya pernikahan itu sendiri. Oleh karena itu, kita perlu membaca acuan konkret, untuk mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan rumah tangga, dari kisah generasi terbaik umat ini.

Di antara kisah yang layak dijadikan sebagai teladan kekompakan kehidupan rumah tangga dalam hal ketaatan ialah keluarga Abu Dahdah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu.

***

Namanya ialah Tsabit bin Dahdah bin Nu’aim Al-Anshari. Abu Dahdah nama panggilannya, Madinah asalnya. Dia termasuk salah satu sahabat Anshar yang pertama kali beriman dengan risalah yang dibawa oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Istrinya biasa dipanggil dengan sebutan Ummu Dahdah.

Disebutkan dalam sebuah kesempatan, Abu Dahdah ikut serta dalam Perang Uhud yang fenomenal. Ketika kaum kafir telah berhasil membalikkan keadaan atas kaum muslimin, sebagian sahabat lari dari kancah pertempuran. Sebagian lagi melindungi Rasul. Abu Dahdah yang mendengar desas-desus dari pihak lawan, bahwa Rasulullah telah terbunuh, mencoba mengingatkan cita-cita awal kaum muslimin agar mereka tak melemah, “Wahai orang-orang Anshar, jika Muhammad benar-benar terbunuh, sesungguhnya Allah adalah Yang Maha Hidup dan tak pernah mati! Karena itu, berjuanglah demi membela agama kalian!” Saat mengucapkannya, tubuh Abu Dahdah juga sudah terluka parah.

Abu Dahdah adalah seorang pejuang sekaligus dermawan. Tidak mengherankan sama sekali karena ia terdidik oleh madrasah Nabi yang secara nyata mencontohkan hal itu semua. Sepeninggal Rasulullah, para sahabat adalah orang-orang yang paling bersemangat mencontoh nilai-nilai yang ditanamkan dalam pembelajaran beliau. Mereka semua benar-benar telah mencerminkan gambaran sekumpulan yang telah berjanji kepada Allah Ta’ala untuk membeli akhirat dengan dunia yang mereka miliki.

***

Rasanya tepat sekali ungkapan, “Jodoh itu akan sejiwa,” tercermin seutuhnya saat melihat kehidupan keluarga Abu Dahdah. Mereka tahu bahwa tujuan pernikahan adalah untuk mencari ridha Allah Ta’ala dan saling menguatkan dalam ketaatan. Secara otomatis, pasti akan ada banyak halangan dan rintangan di sepanjang jalannya. Namun, justru dari banyaknya rintangan itulah, tatkala sepasang insan menghadapinya bersama sembari mengharapkan pahala, maka momen perjuangan itu 'kan menjejakkan memori indah.

Disebutkan oleh banyak ulama sejarah, ahli tafsir, serta para penulis biografi mengenai kekompakan Abu Dahdah dan Ummu Dahdah. Siluetnya tergambarkan dalam firman Allah Ta’ala,


مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ


“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)


Sewaktu ayat di atas turun, hampir semua ahli tafsir menyebutkan kejadian yang dialami oleh Abu Dahdah radhiyallahu 'anhu berkenaan dengan ayat itu. Disebutkan bahwa suatu ketika ada seorang sahabat sedang membuat pagar untuk kebun kurmanya. Di tengah-tengah pembangunan, ia terhalangi oleh kurma milik sahabat lainnya. Ketika sahabat pemilik kurma diminta kesediaannya untuk mengikhlaskan pohonnya, ternyata ia menolak untuk memberikan kurmanya. Sahabat yang membangun pagar itu lalu mengadu kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulan memiliki pohon kurma, sedangkan aku ingin membangun pagar di sana. Mohon perintahkan kepadanya agar ia sudi memberikan kurma itu padaku sehingga aku bisa membangun pagarku.” Rasulullah berkata pada sahabat pemilik kurma, “Berikanlah pohon itu untuknya, kau akan mendapat gantinya di surga!” Namun, ternyata sahabat itu pun tetap menolak. Itu manusiawi, sama seperti perbuatan sebagian kita saat ini.

Ketika Abu Dahdah mendengar kejadian itu, ia teringat dengan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 245 di atas. Dirinya mendatangi Rasulullah seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Allah menginginkan pinjaman dari kita, padahal Dia Maha Kaya dan tidak butuh pinjaman?” Rasulullah menjawab, “Duhai, Abu Dahdah. Allah ingin memasukkan kalian ke dalam surga dengan pinjaman itu.” Abu Dahdah menyahut, “Jika demikian, berikanlah tanganmu, wahai Nabi!” Rasul pun menjulurkan tangan beliau dan Abu Dahdah berikrar, “Sesungguhnya jika aku telah meminjamkan bagi Allah sebuah pinjaman, apakah Dia akan menjamin diriku serta putriku bisa hidup bersama sekeluarga di surga?” “Ya,” jawab Nabi. Abu Dahdah melanjutkan, “Sesungguhnya aku memiliki dua kebun. Kebun pertama di daerah rendah, sedangkan yang kedua di tempat yang lebih tinggi. Demi Allah, aku tidak lagi memiliki selain dari keduanya. (Mulai saat ini) aku berikan untuk Allah Ta’ala.” Rasulullah lalu memberikan arahan yang lebih bijak, “Tidak. Berikanlah satu kebun untuk Allah, sedangkan yang lainnya kau gunakan untuk menafkahi dirimu serta keluargamu.” Setelah itu, Abu Dahdah meralat akadnya, “Maka demi Allah, persaksikanlah, wahai Nabi, bahwa aku telah menjadikan kebun terbaikku untuk Allah Ta’ala. Kebun itu berisi 600 batang pohon kurma.” Rasulullah berucap bangga disertai haru kepada sahabatnya itu, “Jika demikian, Allah pasti akan memberikan balasan surga buatmu!”

Abu Dahdah pulang dengan bahagia, lantaran ia telah meminjamkan kebunnya dengan surga. Pertama kali ia pergi ke kebun yang dia sedekahkan, sebelum pulang ke rumah. Dia tahu di sana ada anak dan istrinya yang belum tahu tentang peristiwa menggembirakan ini. Abu Dahdah sangat yakin bahwa anak dan istrinya pasti akan mendukung keputusan yang telah dia ambil. Belum sampai memasuki kebun itu, Abu Dahdah sudah tak sabar memanggil istrinya yang ada di dalam, “Ummu Dahdah! Ummu Dahdah!” Istrinya dengan bersegera menjawab panggilan akrab itu, “Iya, suamiku!”

“Keluarlah sekarang! Aku sudah meminjamkan (menyedekahkan) kebun yang berisi 600 pohon kurma ini untuk Allah ‘Azza wa Jalla!” ujar Abu Dahdah dengan gembira.

Sesuai prediksi kita bersama, jawaban istri shalihah tersebut bagaikan gayung bersambut, “Semoga Allah memberkahimu dan hal yang engkau beli.” Setelah itu Ummu Dahdah menyenandungkan syair berisi kebahagiaan atas limpahan rezeki berupa kurma dan suami yang shalih. Tak lupa, Ummu Dahdah juga menyuruh anak mereka untuk memuntahkan kurma yang belum selesai dikunyah juga mengeluarkan buah kurma yang disimpan di dalam bajunya. Kebahagiaan itu berlangsung hingga mereka semua sampai ke kebun kurma yang lain.

***

Ini bukan kegilaan. Ini juga bukan cerita fiksi yang kerap dijadikan bahan hiburan. Namun, ini adalah iman yang diperindah dengan ketaatan, yang kian indah tatkala dipraktikkan oleh suami-istri yang memiliki hasrat manusiawi, tetapi memilih untuk mengenyampingkannya demi ridha Ilahi. Seindah apa pun perkumpulan di dunia, masih lebih indah lagi jikalau itu terjadi di surga.

***

Abu Dahdah wafat setelah Perang Uhud akibat luka yang beliau derita. Ada juga yang mengatakan, bahwa Abu Dahdah wafat setelah Perjanjian Hudaibiyah tahun 6 Hijriah. Semoga Allah meridhai Abu Dahdah sekeluarga dan membimbing kita semua untuk bisa meniru sirahnya. Amin.

Referensi:

  • Tafsir Ibnu Katsir. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Tafsir Al-Qurthubi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Maktabah Asy-Syamilah. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah. Al-Maktabah Asy-Syamilah.