Keikhlasan dan Popularitas Dalam Menuntut Ilmu
Penulis: Abu Ady
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.
Ilmu adalah cahaya yang menuntun jiwa, pelita hati yang menyingkap gelapnya kebodohan dan ladang pahala yang tidak terlihat oleh mata namun terasa oleh nurani. Menuntut ilmu merupakan sebuah ibadah mulia yang harus diniatkan dengan penuh keikhlasan karena Allah. Ikhlas merupakan ruh yang menuntun hati agar tidak tersesat. Ikhlas juga kunci yang membedakan amal yang diterima Allah dari yang hanya sekadar perbuatan lahir. Tanpa ikhlas, segala amal termasuk menuntut ilmu, hanyalah gerakan lahir yang tampak indah, tetapi di dalamnya kosong tanpa nilai.
Menuntut ilmu bukan sekadar membaca, menghafal atau menulis catatan, tapi ilmu adalah ibadah yang menuntut kesungguhan hati, menegakkan tauhid, menata jiwa dan menyalakan lentera bagi setiap amal. Ibnul Jauzi berkata, โIlmu adalah ibadah hati.โ[1]
Ilmu adalah ibadah hati yang memengaruhi ibadah fisik. Menuntut ilmu merupakan jalan mengenal Allah, menegakkan kebenaran dan menjadi cahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Syaikh Al-Utsaimin berkata, โIlmu adalah amal shalih terbaik dan merupakan ibadah paling mulia, jauh lebih mulia dari segala jenis ibadah sunnah, karena menuntut ilmu bagian dari bentuk jihad.โ[2]
Menuntut ilmu harus dibangun di atas dasar tauhid yang murni, tanpa bercampur nafsu dunia atau keinginan untuk terlihat di mata manusia. Ikhlas bukan hanya ucapan, tetapi tercermin dalam tujuan belajar, cara menempuh jalan dalam menuntut ilmu, adab terhadap guru dan buah ilmu yang tampak dalam amal. Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda,
ุฅููููู ูุง ุงูุฃูุนูู ูุงูู ุจูุงูููููููุงุชูุ ููุฅููููู ูุง ููููููู ุงู ูุฑูุฆู ู ูุง ููููู
โSesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.โ (HR. Al-Bukhari nomor 1, Muslim nomor 1907).
Semua amal termasuk menuntut ilmu, bergantung pada niat. Seorang penuntut ilmu yang niatnya bukan karena Allah, meskipun terlihat rajin dan tekun, sejatinya menempuh jalan kesia-siaan. Keutamaan ilmu bukan diukur dari hafalan yang banyak, bacaan yang luas atau gelar yang tinggi, tetapi pada niat yang lurus. Ilmu yang dicari karena Allah melahirkan ketakwaan, rasa takut kepada-Nya, tawaduk dan istiqamah dalam amal. Sebaliknya, ilmu yang dicari demi pujian, popularitas atau validasi manusia menjadi sebab kehinaan, meskipun secara lahir tampak indah dan mengesankan.
Pada hari ini, kita hidup di era digital, hampir setiap detik hidup manusia terekam dan dibagikan di media sosial. Tidak terkecuali para penuntut ilmu. Rak buku yang tertata rapi, catatan yang tertulis indah atau meja belajar yang bersih sering dijadikan konten yang dikagumi, di-like dan dibagikan. Fenomena ini tampak sepele bagi sebagian orang, tetapi bagi penuntut ilmu, ini merupakan ujian besar.
Ada suatu hal penting yang tersembunyi di balik layar. Apakah catatan itu dibagikan untuk menginspirasi atau sekadar untuk dipuji? Apakah buku itu difoto untuk menebar manfaat atau untuk memamerkan diri? Apakah belajar itu direkam agar ilmu diamalkan atau agar terlihat rajin?
Allah Taโala menilai hati yang tidak tampak secara kasat mata, sementara manusia menilai apa yang mereka tatap pada layar. Ini titik penting dalam hidup penuntut ilmu untuk meneguhkan niat agar setiap langkah menuju ilmu tetap berada di jalan ikhlas, karena ilmu adalah ibadah dan niat adalah kuncinya.
Bagi yang mem-posting, dilema ini halus tapi nyata. Menampilkan catatan, rak buku atau video belajar bisa menjadi jembatan pahala atau sarana menuju riya. Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda,
โู ููู โุณูููู โููู โุงููุฅูุณูููุงู ู โุณููููุฉู โุญูุณูููุฉูุ โูููููู โุฃูุฌูุฑูููุงุ โููุฃูุฌูุฑู โู ููู โุนูู ููู โุจูููุง ุจูุนูุฏูููุ ู ููู ุบูููุฑู ุฃููู ููููููุตู ู ููู ุฃูุฌููุฑูููู ู ุดูููุกู.
โBarang siapa memulai dalam Islam suatu sunnah yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.โ (HR. Muslim nomor 1017).
Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam juga bersabda,
ู ููู ุฏูููู ุนูููู ุฎูููุฑู ูููููู ู ูุซููู ุฃูุฌูุฑู ููุงุนููููู
โBarang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.โ (HR. Muslim nomor 1893).
Dua hadits ini membuka pintu pemahaman bahwa menampilkan amal, termasuk kegiatan saat belajar, dibolehkan jika niatnya untuk menebar manfaat. Jika seseorang mem-posting catatan atau rak buku untuk memotivasi orang lain agar mereka semangat menuntut ilmu atau mengambil manfaat dari catatannya, ia akan menuai pahala sebagaimana orang mengamalkan apa yang ada pada catatannya. Namun jika niatnya tercemar, hanya ingin dipuji atau membanggakan diri, sungguh Allah tidak akan menerima amal tersebut.
Setiap muslim hendaknya memahami bahwa ilmu yang dijadikan hiasan bukan untuk Allah akan membutakan hati dan ilmu yang seharusnya menuntun jiwa malah menjadi panggung untuk meraih ambisi. Panggung itu selalu ramai dengan tepuk tangan manusia yang fana, sementara pahala ibadah dalam menuntut ilmu itu tidak didapatkan. Menampakkan ibadah di hadapan manusia, apalagi itu hanya berpura-pura maka termasuk dosa yang sangat buruk sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi, โTermasuk dosa yang paling buruk adalah riyaโ, berpura-pura khusyuk, serta menampakkan zuhud di hadapan manusia. Alasannya, hal itu sama seperti beribadah untuk mereka, sementara sisi hak Allah Taโala diabaikan.โ[3]
Namun, jika memang diniatkan untuk kebaikan dan ternyata di tengah jalan, pujian dan like itu dirasakan membuka pintu hati untuk riya, kebaikan itu hendaknya tetap dilanjutkan. Dr. Misyโal Abdul Aziz Al-Falahi berkata, โBisa saja riya dan kecintaan terhadap ketenaran menimpamu di awal perjalananmu melakukan kebaikan, maka jangan berhenti karena hal itu. Terus berjalan dan mintalah kepada Allah dengan memelas dalam doamu agar Allah menjauhkan engkau dari sifat buruk itu, menyelamatkan engkau dari pengaruh buruknya dan membantumu untuk mendapatkan kebaikan darinya. Siapa yang jujur untuk Allah maka Allah akan memudahkannya sampai pada tujuannya.โ[4]
Di sisi yang berbeda, penuntut ilmu lain yang menyaksikan postingan itu berada dalam pergulatan hati. Setiap unggahan berpotensi memancing iri, dengki atau prasangka buruk. Tentang hal ini Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda,
ุฅููููุงููู ู ููุงูุธูููููุ ููุฅูููู ุงูุธููููู ุฃูููุฐูุจู ุงููุญูุฏููุซู
โJauhilah prasangka, karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta.โ (HR. Bukhari, nomor 4849).
Sebaliknya, kita berhusnuzhan kepada saudara kita sesama penuntut ilmu. Husnuzhan menjadi tameng hati, menjaga agar hati tetap bersih dari benih iri dan kebencian. Melihat unggahan orang lain, apalagi yang tampak lebih rajin atau lebih cerdas, bukan tugas kita untuk menuduhnya. Bisa jadi ia menampilkan catatan atau rak buku sebagai motivasi, sebagai syiar kebaikan atau pengingat bahwa belajar itu indah. Menuduh tanpa bukti hanya menumbuhkan benih kebencian, yang lambat laun bisa menghancurkan ketenangan jiwa. Hati-hati dalam hal ini!
Dr. Misyโal Abdul Aziz Al-Falahi menyebutkan fenomena tersebut, โNiat itu amalan hati. Tidak seorang pun boleh menghukumi niat seseorang. Sedangkan hari ini orang mudah saja menghukumi niat orang lain dengan berkata, โDia sebenarnya menginginkan ini,โ โSebenarnya dia melakukan ini.โ[5]
Bagaimana agar selamat dari ujian ikhlas dan iri ini?
Orang yang mem-posting bisa menegaskan niatnya melalui langkah sederhana, seperti menghadirkan niat ikhlas sebelum mengunggah, menekankan manfaat di caption atau konteks dan merenungkan perasaan setelah unggahan. Apakah puas karena memberi manfaat, atau karena like dan komentar?
Namun semua niat yang lurus, semua catatan yang rapi dan setiap video atau ilmu yang dibagikan akan kehilangan makna jika ilmu itu hanya berhenti di kepala. Bayangkan pohon yang manfaatnya ada pada buah, batangnya rindang, daunnya hijau, namun tidak pernah berbuah. Keindahannya memikat mata, tetapi tidak memberi manfaat bagi siapa pun, bahkan bagi pemiliknya sendiri. Begitu pula ilmu yang tidak diamalkan, ia bisa tampak mulia, tampak agung, bahkan bisa menjadi alasan orang memuji kita, namun ia tidak menuntun hati kepada Allah, tidak menumbuhkan ketakwaan dan tidak memberi cahaya bagi orang lain. Syaikh Saaโd Yusuf Muhammad menyebutkan di antara adab menuntut ilmu adalah mengamalkannya kemudian, dia berkata, โPengamalan adalah tujuan utama dalam menuntut ilmuโ[6]
Ilmu yang tidak diamalkan menjadi bukti lemahnya iman. Allah Taโala berfirman,
ุฃูุชูุฃูู ูุฑูููู ุงููููุงุณู ุจูุงููุจูุฑูู ููุชูููุณููููู ุฃูููููุณูููู ู
โApakah kamu menyuruh manusia berbuat kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri?โ (QS. Al-Baqarah: 44).
Inilah saatnya seorang penuntut ilmu menundukkan kepalanya dan bertanya jujur kepada hatinya. Apakah setiap pelajaran yang dipelajari telah menuntun diri kita pada amalan nyata atau hanya menjadi hiasan kosong yang membutakan jiwa? Apakah kita belajar agar Allah ridha, atau sekadar untuk menampilkan kesan rajin dan cerdas di hadapan manusia? Pertanyaan sederhana ini menjadi pengukur sejati, karena Allah tidak menilai catatan indah atau banyaknya buku yang dibaca, melainkan menilai buah amal yang lahir dari ilmu itu.
Lebih jauh lagi, hari ini seorang penuntut ilmu hidup di tengah keramaian syubhat dan hoaks yang mengalir deras di media digital. Setiap klik, unggahan dan komentar bisa menjadi jalan kebenaran atau kesesatan. Tidak sedikit orang terseret ke dalam arus informasi dangkal, menelan apa yang tampak indah, memuji yang viral dan menyebarkan apa yang populer, tanpa menimbang kebenaran atau memeriksa asal-usulnya. Menuntut ilmu bukan sekadar membaca, menonton, atau meniru tetapi menuntut kepastian dalam kebenaran. Seorang penuntut ilmu yang ikhlas dan bersungguh-sungguh menolak hoaks, tidak terseret opini lemah. Ia menempatkan ilmu sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, sehingga ia meneliti sumber, menimbang dalil dan menolak menyebarkan apa yang belum dipastikan kebenarannya.
Akhirnya, kita menyadari bahwa menuntut ilmu adalah jalan menuju Allah, bukan jalan menuju popularitas. Ia adalah ibadah tauhid, bukan panggung pencitraan. Di zaman digital ini, ujian ikhlas semakin berat, tetapi pahala bagi orang yang jujur dan istiqamah juga semakin besar.
Semoga Allah Subhanahu wa Taโala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam menuntut ilmu, yang menjaga tauhid dalam niat, yang selamat dari riya yang tampak maupun tersembunyi, yang mengambil ilmu dari sumber yang jelas, serta yang menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ketakwaan dengan mengamal-kannya hingga akhir hayat. Amin.
Referensi
- Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah, Al-Maktab Al-Islami, cetakan kelima, 1403 H, Beirut.
- Kitabul Iโlm, Syaikh Shalih Al-Utsaimin, Muassasah As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, cetakan kesembilan, 1435 H, Qasim.
- Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi, Darut Taufiq, cetakan kedua, 1988, Kairo.
- Nawafidz Tarbawiyyah 'Ala Ahadits Al-Arbaiโn An-Nabawiyyah, Dr. Misyโal Abdul Aziz Al-Falahi, Darul Qalam, cetakan pertama 2019, Damaskus.
- Mausu'atul Akhlaq Al-Islamiyyah, Syaikh Saโad Yusuf Muhammad.
- Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.