Kafilah Dakwah: Pelopor Kebaikan, Penjaga Estafet Dakwah Antar Generasi
Penulis: Leny Hasanah
Editor: Subhan Hardi
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam bersabda:
ู ููู ุณูููู ููู ุงูุฅูุณููุงูู ู ุณููููุฉู ุญูุณูููุฉู ููุนูู ููู ุจูููุง ุจูุนูุฏููู ููุชูุจู ูููู ู ูุซููู ุฃูุฌูุฑู ู ููู ุนูู ููู ุจูููุง ูููุงู ููููููุตู ู ููู ุฃูุฌููุฑูููู ู ุดูููุกู ููู ููู ุณูููู ููู ุงูุฅูุณููุงูู ู ุณููููุฉู ุณููููุฆูุฉู ููุนูู ููู ุจูููุง ุจูุนูุฏููู ููุชูุจู ุนููููููู ู ูุซููู ููุฒูุฑู ู ููู ุนูู ููู ุจูููุง ูููุงู ููููููุตู ู ููู ุฃูููุฒูุงุฑูููู ู ุดูููุกู
โBarang siapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.โ (HR. Muslim, No. 1.017)
Di tengah arus perubahan zaman, dakwah Islam masih menghadapi tantangan klasik yang belum sepenuhnya teratasi. Salah satunya keterbatasan jumlah daโi, terutama di daerah terpencil dan pelosok negeri.
Kondisi ini tampaknya semakin terasa seiring masih minimnya daโi yang menetap dan membersamai umat dalam jangka panjang. Hal ini kerap dipandang sebagai penanda bahwa dakwah tidak cukup dilakukan secara insidental, tetapi memerlukan kehadiran, ketekunan, dan kesinambungan.
Mengirim Daโi ke Pelosok Negeri
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Program Kafilah Dakwah HSI BERBAGI digagas. Program ini dirancang sebagai upaya menghadirkan dakwah sunnah yang diharapkan lebih terarah, terukur, dan berjangka panjang melalui pengiriman daโi ke wilayah yang belum memiliki atau masih minim daโi ahlussunnah.
Daโi yang ditugaskan tidak hanya berperan sebagai pengisi kajian. Mereka diharapkan menjadi bagian dari masyarakat, membangun kedekatan, memetakan kondisi umat, menjalin ukhuwah, serta menyiapkan kader dakwah dari kalangan lokal. Dengan pendekatan tersebut, dakwah diharapkan tidak berhenti pada satu generasi.
โProgram Kafilah Dakwah ini bertujuan untuk mengirimkan daโi-daโi ke berbagai daerah yang masih belum ada atau minim daโi ahlussunnah,โ ujar Abu Umar, Ketua Program Kafilah Dakwah HSI BERBAGI. Menurutnya, program ini lahir karena minimnya daโi ahlussunnah di daerah penerima manfaat HSI BERBAGI, adanya permintaan santri HSI AbdullahRoy di daerah asal mereka, serta kebutuhan lembaga sunnah yang masih kekurangan tenaga pendakwah.
Pengumuman program ini disebarkan sejak akhir November 2025 melalui grup diskusi HSI AbdullahRoy. Hingga 13 Desember 2025, tercatat 20 pendaftar dari berbagai daerah, di antaranya Aceh, Riau, Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, hingga Papua.
Seleksi, Penempatan, dan Tanggung Jawab
Program Kafilah Dakwah menyasar daโi internal dari santri aktif HSI AbdullahRoy dan alumni penerima bantuan HSI BERBAGI, serta pendaftar eksternal yang wajib memperoleh rekomendasi pembina HSI BERBAGI, ketua yayasan, asatidz ahlussunnah, atau lembaga sunnah.
Lokasi penugasan ditentukan HSI BERBAGI dengan sejumlah pertimbangan, antara lain belum adanya dakwah sunnah di lokasi tersebut, potensi pengaruh dakwah, kondisi ekonomi, hingga medan dan tingkat kesulitan akses. โPenentuan lokasi berdasarkan rekomendasi Ustadz AbdullahRoy, Ketua Yayasan HSI BERBAGI, Ketua Divisi HSI BERBAGI, serta hasil survei lapangan,โ kata Abu Umar.
Peserta yang lolos seleksi wajib menjalani masa tugas minimal dua tahun tanpa jeda. Mereka juga dituntut menyusun program dakwah, melakukan pemetaan wilayah, menyampaikan laporan rutin, serta melakukan kaderisasi daโi dari masyarakat setempat. Sebagai bentuk tanggung jawab lembaga, peserta mendapatkan mukafaโah sesuai UMR atau had kifayah daerah, jaminan kesehatan, tiket perjalanan, hingga insentif purna tugas.
Datang dari Berbagai Penjuru
Di antara para pendaftar Program Kafilah Dakwah HSI BERBAGI, latar belakang calon daโi tampak datang dari medan yang beragam. Ada yang berdakwah di wilayah dengan akses relatif mudah, ada pula yang bertahun-tahun bergulat dengan keterbatasan di daerah pedalaman.
Ustadz Bahrudin dari Kalimantan Timur mengaku mendaftarkan diri karena ingin lebih bermanfaat bagi masyarakat yang belum tersentuh dakwah sunnah. Selama ini ia berdakwah di wilayah Samarinda, Tenggarong, hingga Sangatta, Kutai Timur. Menurutnya, di tempat tinggalnya kini sudah banyak ustadz, sementara daerah pedalaman dinilainya menunjukkan semangat belajar yang lebih besar.
โJika masyarakatnya sudah mengenal dakwah, maka fokusnya pada penguatan tauhid. Jika belum, dimulai dari pembelajaran Al-Qurโan, makhraj, dan sifat huruf,โ ujarnya. Ia menyatakan siap ditempatkan di mana pun selama dua tahun, meski keluarga memilih tetap tinggal karena anak-anak masih bersekolah.
Menurut pengalamannya, dakwah sunnah tidak lepas dari tantangan, terlebih dakwah tauhid yang sejak zaman Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam pun menghadapi rintangan. Ia menyampaikan rasa syukurnya karena, menurut pengalamannya, di balik tantangan tersebut Allah Taโala tetap menghadirkan banyak sisi kebaikan.
โBertambahnya relasi, mengenal kehidupan umat, hingga bertemu para ustadz dengan perjuangan yang lebih berat, justru membuat saya lebih bersyukur dan terus bersemangat,โ ujarnya.
Cerita lain datang dari Papua. Seorang daโi yang menetap di Jayapura sejak 2021 ini selama berbulan-bulan menempuh perjalanan hingga 90โ100 kilometer untuk mengisi kajian di kawasan transmigrasi. Kajian tersebut diikuti puluhan jamaah, mayoritas petani, dengan jumlah yang kerap naik turun.
โKalau hujan deras, kadang terpaksa libur. Kalau gerimis, pakai mantel,โ tutur Abu Faiz. Risiko perjalanan malam hari, termasuk ancaman begal, menjadi bagian dari keseharian. Ia juga menyampaikan pengalaman seorang dukun yang meninggalkan praktik lama setelah mengenal akidah dan jalan yang lurus.
โAlhamdulillah, Allah azza wa jalla memberikan dia hidayah. Itu yang membuat saya tambah semangat untuk mengisi kajian,โ tambahnya.
Abu Faiz berharap tetap dapat melanjutkan dakwah di Papua. Selain kajian rutin, ia tengah merintis pondok tahfizh putra dan putri dengan sistem biaya semampunya. Saat ini tercatat 24 santri telah bergabung.
Ikhtiar HSI BERBAGI Menjaga Nyala Dakwah
Program Kafilah Dakwah HSI BERBAGI diposisikan sebagai ikhtiar untuk menjaga nyala dakwah sunnah di wilayah yang selama ini luput dari pendampingan berkelanjutan. Program ini dipandang bukan sekadar pengiriman daโi, tetapi upaya menyambung estafet dakwah agar tidak terputus di tengah jalan.
Abu Umar berharap, melalui program ini masyarakat semakin memahami Islam yang murni, bersumber dari Al-Qurโan dan As-Sunnah sesuai pemahaman para salafush shalih. Di tengah keterbatasan jumlah daโi dan luasnya medan dakwah, program ini diharapkan dapat melahirkan pelopor-pelopor kebaikan baru, yakni mereka yang siap hadir, menetap, dan membersamai umat.
Sebab, dakwah bukan hanya tentang siapa yang memulai, tetapi siapa yang menjaga agar cahaya itu tetap menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya.