Ibu, Saatnya Jadikan Me Time-mu berpahala!
Reporter: Loly Syahrul
Redaktur : Hilyatul Fitriyah
Seorang ibu mempunyai peran sentral dalam biduk rumah tangga, di mana kesibukannya lebih banyak untuk mengurus keperluan anak-anak, suami, dan rumah. Bagi para ibu, mengurus rumah tangga bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga pengabdian yang melibatkan seluruh jiwa.
Bayangkan, seharian penuh seorang ibu menjalani rutinitas tanpa henti. Tentu semua itu menguras energi. Tidak jarang, rutinitas yang padat membuat para ibu mengalami kelelahan fisik maupun psikis.
Me Time : Rehat yang Penuh Makna
Setelah menjalankan peran yang begitu luas sepanjang hari, banyak ibu merasakan perlunya jeda kecil untuk memulihkan tenaga. Ukhtuna Mari, santriwati HSI Angkatan 212, mengaku membutuhkan jeda istirahat itu atau yang kini populer disebut me time.
Ketika diwawancarai Majalah HSI, ia menuturkan, “Ana kalau sudah lelah di rumah, rasanya butuh me time. Dan tidur adalah me time paling efektif bagi ana, karena setelah bangun tidur, badan segar dan pikiran kembali jernih.”
Tampaknya ini bukan suara hati satu orang ibu saja, karena tentu kaum perempuan banyak yang setuju.
Istilah me time tentu tidak asing terdengar. Istilah tersebut senantiasa dihubungkan dengan kegiatan yang dapat memperbaharui kesehatan fisik dan mental. Waktu bersendirian tersebut biasanya dilakukan untuk merelaksasi jiwa dari kejenuhan akibat rutinitas yang menumpuk.
Me time sejatinya dibutuhkan setiap jiwa. Me time bukanlah sebuah pelarian akan tetapi jalan keluar berkualitas yang dibutuhkan sebagai cara ampuh mengembalikan energi yang hilang.
Lelah Menjadi Sinyal Untuk Istirahat
Majalah HSI berkesempatan mewawancarai beberapa santriwati mengenai me time-nya para ibu. Kebanyakan mereka sepakat bahwa rasa lelah sejatinya adalah sinyal bahwa tubuh membutuhkan istirahat. “Kadang jeda dibutuhkan bukan saja untuk mengembalikan kekuatan secara fisik, akan tetapi juga mengembalikan kesegaran pikiran,” Ukhtuna Dewi santriwati Angkatan 231 menegaskan.
Jeda bukan tanda kelemahan. Ini adalah hal manusiawi yang bisa dirasakan oleh siapa saja. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk tetap melakukan sesuatu jika badan sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Namun, sayangnya para ibu umumnya hanya fokus mengabdikan tenaga dan waktunya untuk keluarga, sampai-sampai lupa mengurus diri. Ibarat lilin yang menerangi sekitar, tapi apinya membakar tubuh sendiri hingga habis.
Padahal Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wassallam berpesan bahwa, “Tubuhmu punya hak atasmu” (HR.Bukhari)[1]. Jadi kita harus peka terhadap sinyal-sinyal yang ditunjukkan oleh tubuh ketika sudah mulai lelah, sebelum terlambat.
Me Time dalam Berbagai Versi
Sebagian besar menginterpretasikan me time persis makna per katanya yakni memanfaatkan waktu untuk diri sendiri. Akan tetapi, ternyata artinya tidak harus selalu bersendirian.
Ukhtuna Evi, santriwati Angkatan 222, memberikan pendapat. “Buat ana, me time adalah ketika ana keluar dari kegiatan rutin mengurus rumah. Misalnya, kadang ana bertemu dengan teman-teman yang sefrekuensi,” ungkapnya. “Kami bisa berbincang apa saja. Ini adalah booster yang membebaskan ana dari kelelahan mengurus rumah tangga dan mengembalikan kejernihan pikiran,” sambungnya. “Kadang hal ini malah meningkatkan motivasi ana untuk selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan bertekad untuk mengurus rumah tangga lebih baik lagi,” pungkas Ukhtuna Evi sejurus kemudian.
Lain halnya dengan Ukhtuna Martini yang lebih memilih mengisi me time-nya dengan kegiatan menyulam. “Menyulam membuat ana merasa produktif. Di dalam menyulam ada ketenangan,” ungkap santri Angkatan 221 tersebut.
Adalagi me time yang multi faedah karena selain memperhatikan kesehatan jiwa juga berdampak kepada kesehatan fisik, “Me time ana adalah ketika olahraga lari. Selama lari itulah ana bisa fokus ke diri ana sendiri,” tutur Ukhtuna Fera.
Tampaknya Ukhtuna Fera bukan sekedar berolahraga lari, tetapi ia mengaku kerap sembari berdzikir. “Kadang sambil dzikir pagi jika dilakukan di pagi hari, atau sambil dzikir petang jika ana lari di sore hari,’’ imbuhnya. Pantas saja ia menemukan ketenangan, mungkin dari hati yang senantiasa diupayakan terhubung dengan Rabbul ’alamin.
Memang tidak ada standar baku dalam melakukan me time. Semua subjektif alias kembali pada pilihan masing-masing. Selama bisa menenangkan hati dan tidak melalaikan dari kewajiban kita sebagai hamba-Nya, me time sah-sah saja menjadi sarana positif menyalurkan kegiatan yang dilakukan.
Saat Me Time Jadi Pelarian
Me time bisa menjadi waktu luang yang berkah jika dipergunakan sebagai sarana untuk mendukung ibadah kepada Sang Khalik. Misalnya dengan meniatkan me time untuk recharge energi agar tubuh kembali segar dan bugar menjalankan aktivitas-aktivitas ibadah dan segala yang Allah ridhoi.
Akan tetapi sebaliknya, me time bisa berubah menjadi malapetaka jika kita lalai dari mengingat Allah atau kita pergunakan untuk melakukan kegiatan yang bertentangan dengan syari'at. Me time rentan menjadi wasting time alias aktivitas membuang-buang waktu kalau seperti itu kondisinya.
Beberapa santri berbagi pengalaman. “Pernah ana niatnya mau rehat sebentar, tapi malah keasyikan nonton film sampai lupa waktu. Sesaat rasanya seperti hilang rasa lelah, tapi setelah dirasa, sebenarnya mata dan badan ikut capek dan yang paling nggak enak adalah rasa sesudahnya. Nyesel banget sudah membuang-buang waktu sia-sia,” sesal Ukhtuna Fitri, santriwati Angkatan 201.
“Yang sering nggak ada rem kalau sudah me time jalan dengan teman-teman. Ujungnya menghabiskan waktu sampai setengah hari karena nuruti teman ingin ke sana, ingin ke sini, dan tidak enak mau nolak,” ujar Ukhtuna Linda. Warga Jakarta Barat ini berbagi pengalamannya sekaligus tips. Menurutnya, sekarang ia memilih menyepakati lebih dulu dengan para sahabat jika ingin keluar jalan-jalan bersama. “Saya ajak teman-teman janjian dulu, mau kemana, ngapain, dan pulang jam berapa. Agar jelas agendanya dan tidak berlarut-larut,” tuturnya.
Sejatinya, me time yang benar adalah yang dapat mengembalikan kesegaran badan, yang mampu menyalurkan energi baru, dan menjadikan hati penuh semangat. Bukan menjadikan hati justru lalai atau badan lelah sesudahnya.
Tips Me Time Berpahala
Bagaimanapun me time adalah salah satu ikhtiar para ibu dalam mengisi waktu istirahat dengan kegiatan yang bermanfaat. Tips awal yang paling jitu adalah memulai dengan meluruskan niat hanya karena Allah. Dengan meniatkan me time demi memperbaharui energi untuk ibadah, insyaallah, ini bernilai pahala.
Selanjutnya, dalam me time kita harus tetap memperhatikan batasan waktu yang telah dibuat agar tidak kebablasan hingga meninggalkan kewajiban. Sebagai muslim, kita harus bisa mengelola waktu menjadi produktif. Bila perlu, kita bisa menggunakan alarm untuk pengingat diri.
Hal yang tak kalah penting adalah memilih jenis kegiatan dalam me time. Pilih yang sekiranya benar-benar dapat menjernihkan pikiran. Bersendirian di rumah, sekadar berbaring di kamar, sambil mendengar murotal atau kajian, bisa jadi efektif mengusir penat, biidznillah.
Melakukan journaling mungkin bisa jadi alternatif pilihan. Selain menata buku jurnal yang cantik akan menyegarkan pikiran, kegiatan journaling bisa menjadi penakar kegiatan sehari-hari. Ada-tidaknya kemajuan yang berhasil kita capai, dapat kita ukur melalui kegiatan journaling.
Me time juga bisa menjadi momen refleksi diri agar kita menjadi ibu yang lebih baik dalam keluarga dan tentu agar menjadi hamba-Nya yang lebih taat.
Kita tidak perlu merasa bersalah telah jeda sejenak dari kegiatan rutin dengan mengambil me time untuk istirahat bagi kepentingan sendiri. Karena ibu yang beristirahat sejenak dari penatnya kegiatan sehari-hari dengan niat lillah, demi Allah, insyaallah, akan kembali berjuang melakukan kegiatan dengan hati lebih lapang.
Ibu dengan hati lapang, akan mampu menjalankan aktivitas untuk keluarga dengan lebih ringan biidznillah. Mudah-mudahan semua agenda ibu terlaksana dengan baik serta membawa ketentraman dalam keluarga.