Tarbiyatul Aulad
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Fondasi Harmoni Sejak Dini: Mengajarkan Adab Bertetangga kepada Anak

Penulis: Indah Ummu Halwa & Hawwina Fauzia

Editor: Za Ummu Raihan


Di lingkungan tempat tinggal kita, apalagi di kawasan yang padat penduduk, anak-anak hampir setiap waktu selalu bersama-sama. Mereka bermain, tertawa, berlari ke sana kemari, dan tak jarang juga berselisih kecil. Semua itu adalah bagian dari keseharian yang wajar. Namun, di balik keceriaan tersebut, ada peran besar orang tua yang tak boleh terlewat. Bukan hanya memastikan anak-anak bermain dengan aman dan bahagia, tetapi juga mengajarkan mereka cara bersikap yang baik agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain.

Sebagaimana yang sering kita bahas di rubrik-rubrik sebelumnya tentang pentingnya menjaga hak dan hubungan baik dengan tetangga, pada pembahasan kali ini, insyaallah, kita akan mengulas beberapa tips praktis untuk membimbing anak-anak belajar adab bertetangga sejak dini. Dengan bimbingan yang tepat dan penuh kasih sayang, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang santun, peka, dan disenangi oleh lingkungan sekitarnya, biidznillah.

Anak adalah Tanggung Jawab Orang Tua

Para orang tua tentu paham bahwa bermain adalah fitrah dan dunianya anak-anak. Saking asyiknya, mereka kadang lupa waktu dan tempat, hingga tak menyadari suara yang terlalu keras atau permainan yang berpotensi mengganggu orang lain. Di sinilah peran kita sebagai orang tua dibutuhkan, yaitu memberi pengertian bahwa bermain pun ada adabnya. Anak perlu dibimbing untuk menjaga suara dan memastikan permainan yang mereka lakukan tidak mengganggu, apalagi sampai menyakiti orang lain.

Sebagai bahan renungan bagi kita, jika sikap kita atau anggota keluarga yang berada dalam tanggung jawab kita sampai mengganggu tetangga, maka perkara ini bukanlah hal sepele. Allah dan Rasul-Nya memberikan peringatan yang sangat serius bagi orang yang mengganggu tetangganya, sampai-sampai hal tersebut menjadi sebab terhalangnya seseorang dari surga. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

“Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari no. 6016 dan Muslim no. 46)[1]

Oleh karena itu, sudah saatnya orang tua tidak lagi berlindung di balik kalimat, “Wajar saja, namanya juga anak-anak.” Anak bukan sekadar sedang bermain, tetapi mereka adalah amanah yang Allah titipkan kepada kita. Adab tidak akan tumbuh dengan sendirinya jika tidak diajarkan dan dicontohkan langsung oleh orang tuanya.

Jika orang tua sudah berusaha menasihati, namun anak masih mengulang perbuatan yang mengganggu kenyamanan tetangga; maka setidaknya tunjukkan adab yang baik sebagai orang dewasa. Sampaikan permohonan maaf kepada tetangga yang terganggu, dan jelaskan dengan santun bahwa kita sedang berproses mendidik anak agar menjadi pribadi yang lebih baik. Sikap seperti ini insyaallah akan menjaga ukhuwah dan keharmonisan di lingkungan tempat tinggal kita.

Sekali lagi, perkara ini tidak layak dianggap sepele. Sebab pada akhirnya, kitalah sebagai orang tua yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas amanah anak-anak yang Dia titipkan.

Adab Bermain di Lingkungan Bertetangga

Mengajarkan adab-adab Islam kepada anak dalam setiap sisi kehidupannya adalah bagian dari amanah besar yang Allah titipkan kepada kita. Salah satu adab penting yang perlu ditanamkan sejak dini adalah sikap anak saat bermain agar mereka mampu menempatkan diri dengan baik, kapan pun dan di mana pun berada.

1. Memahami Waktu, Tempat, dan Situasi

Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan membuat aturan yang jelas dan konsisten di rumah. Aturan ini membantu anak terbiasa mengenali waktu, kondisi, dan tempat yang tepat untuk bermain. Orang tua bisa mengajak anak berdiskusi sederhana tentang kapan mereka boleh bermain, di mana area bermain yang aman, serta bagaimana adab bermain, termasuk menjaga emosi dan keselamatan diri maupun orang lain.

Dengan pembiasaan ini, saat anak berada di lingkungan sosial, mereka tidak akan kaget atau bingung. Anak akan memahami bahwa tidak semua waktu dan tempat bisa digunakan untuk bermain bebas. Di rumah, mereka sudah terbiasa mengetahui kapan waktunya bermain dan kapan harus berhenti. Misalnya, saat masuk waktu shalat, waktu istirahat siang atau malam, menjelang maghrib, di masjid, di halaman rumah orang lain tanpa izin, atau di tengah perkumpulan orang dewasa yang bisa terganggu oleh suara dan aktivitas anak. Semua itu adalah contoh situasi yang perlu dihindari.

Tentu ini bukan berarti anak dilarang bermain atau mengekspresikan diri. Anak tetap boleh berlarian, tertawa, dan berkreasi selama dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat. Seperti di hari libur, di luar waktu shalat dan istirahat, di area bermain yang semestinya, serta dengan jenis permainan yang aman dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.

2. Menumbuhkan Rasa Empati

Sederhananya, apa pun yang membuat kita merasa terganggu, biasanya juga akan mengganggu orang lain. Oleh karena itu, hal-hal seperti ini perlu kita ajarkan kepada anak sejak dini. Ajak anak untuk belajar menempatkan diri di posisi orang lain bahwa sebagaimana kita tidak suka diganggu, orang lain pun merasakan hal yang sama.

Orang tua bisa menyampaikannya dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan dunia anak. Misalnya, “Nak, kalau kamu sedang capek lalu tidur atau istirahat setelah pulang sekolah, kira-kira bagaimana rasanya kalau ada suara berisik yang mengganggu? Pasti tidak nyaman, ya? Nah, tetangga kita juga bisa merasakan hal yang sama. Jadi, saat waktu istirahat siang atau malam, yuk, kita jaga suara agar tidak mengganggu orang lain.”

Dengan penjelasan yang berulang dan pembiasaan seperti ini, insyaallah rasa empati akan tumbuh kuat dalam diri anak hingga mereka dewasa. Karena sering kali, kurangnya empati sejak kecil justru menjadi sebab munculnya ketidakharmonisan dalam hubungan antar tetangga.

3. Minta Izin dan Menjaga Hak Orang Lain

Anak-anak perlu dilatih sejak kecil untuk menghormati batas dan menjaga hak orang lain. Contoh latihan penerapannya dalam kehidupan bertetangga, misalnya: meminta izin seperti ketika ingin meminjam barang/mainan teman, ketika hendak masuk ke halaman/rumah tetangga, serta beradab ketika bermain di rumah orang lain. Berikut beberapa hal yang perlu disampaikan kepada anak-anak terkait hal ini:

  • Nak, ketika ingin memanggil teman untuk bermain, usahakan mengucapkan salam dan memanggilnya dengan suara wajar dan tidak berteriak-teriak, ya, apalagi disertai dengan menggedor-gedor pintu atau jendela dengan suara keras, mengintip, atau masuk rumahnya tanpa izin, karena itu bukanlah perilaku anak muslim yang beradab, dan akan sangat mengganggu kenyamanan yang lainnya juga. Kemudian, apabila ditanya suara dari dalam rumah, “Siapa?” maka jawablah dengan jelas namamu[2]. Jika sudah memanggil dan mengucapkan salam sebanyak 3 kali[3] namun tidak ada jawaban, maka pulanglah karena itu semua adalah ciri dari muslim yang beradab.
  • Anak, ketika ingin bermain di rumah teman, maka mintalah izin[4] terlebih dahulu, bolehkah main ke rumahnya ataukah tidak? Karena dikhawatirkan keluarganya sedang ada kegiatan, atau ada anggota keluarganya yang sedang sakit, atau sedang ingin istirahat.
  • Anak, ketika main di rumah teman, maka janganlah memasuki suatu ruangan jika tidak dipersilakan, dan tidak menyentuh barang-barang yang tidak diizinkan, ya. Apabila ingin menggunakan barang/mainan teman, kita harus meminta izin terlebih dahulu. Jika diizinkan, boleh digunakan serta dijaga dengan baik. Jika belum diizinkan, maka kita tidak boleh memaksa, sebagaimana kita juga tidak ingin barang kita direbut paksa oleh orang lain.
  • Ingatlah waktu-waktu shalat dan istirahat. Apabila masuk waktu shalat, maka bergegaslah pamit untuk shalat, serta apabila keluarga teman atau teman kita meminta kita pulang, maka kita harus segera beranjak untuk pulang.

4. Mengucapkan “Terima kasih”, “Maaf” dan Berpamitan

Di antara adab yang baik dalam agama kita, adalah berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita. Maka ketika hendak pulang dari rumah teman/tetangga, jangan lupa mengucapkan terima kasih atau “jazaakumullah khayran” kepada anggota keluarga teman maupun teman kita atas izin bermain di rumahnya yang diberikan, jajanan yang disuguhkan, minuman yang diberikan, serta mainan yang telah dipinjamkan.

Selain itu, jangan lupa juga untuk menyampaikan maaf apabila selama kita bermain di rumah teman/tetangga, ada hal-hal yang kurang berkenan baik sengaja ataupun tidak, barangkali tidak sengaja merusakkan mainan teman, atau menggunakannya terlalu lama, sebagai bentuk bertanggung jawab atas perbuatan kita, dan berpamitan dengan tak lupa mengucapkan salam.

5. Menumbuhkan Rasa Syukur dan Menghargai Kebaikan Orang Lain dengan Mendoakan Kebaikan

Orang tua juga bisa mulai mengajarkan doa ringkas dan sederhana berikut kepada anak-anak sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah dan menumbuhkan rasa berterima kasih atas kebaikan orang lain, ketika mereka telah diberi sesuatu berupa jamuan/jajanan/makanan dari orang lain, yaitu,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي، ‌وَأَسْقِ ‌مَنْ ‌أَسْقَانِي 

“Ya Allah, berilah makan kepada orang yang memberi aku makan, dan berilah minum kepada orang yang memberi aku minum.” (HR. Muslim no. 2055)

Fondasi Harmoni Sejak Dini untuk Akhlak Jangka Panjang

Aba dan Umma, boleh jadi selama ini kita belum terpikir untuk mengajarkan adab kepada anak secara rinci sejak usia dini, termasuk adab terhadap tetangga. Padahal, membiasakan anak menjaga adab bertetangga bukan semata agar lingkungan sekitar terasa lebih tenang, aman, dan nyaman. Lebih dari itu, inilah bagian penting dari proses menanamkan akhlak yang akan mereka bawa hingga dewasa.

Anak yang sejak kecil dibimbing untuk peka terhadap perasaan orang lain, memahami batasan, dan menghargai hak sesama, insyaallah akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat imannya sekaligus matang dalam bersosialisasi. Fondasi inilah yang kelak membantu anak menjalani kehidupan dengan sikap yang bijak, santun, dan menenangkan bagi lingkungan di sekitarnya.

Sebagai penutup, mari kita sadari bahwa setiap arahan kecil yang kita berikan hari ini akan menjadi bekal besar bagi anak-anak di masa depan. Dari hal-hal sederhana seperti mengatur waktu bermain, menjaga suara, hingga belajar berempati kepada tetangga, semua itu adalah investasi akhlak yang nilainya tak ternilai. Semoga Allah memudahkan kita untuk terus membimbing anak-anak dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang beradab, dicintai lingkungan, dan diridhai oleh-Nya. Insyaallah, dari rumah-rumah kecil inilah akan lahir harmoni besar dalam kehidupan bermasyarakat.

Referensi:

  • Al-Qur’anul Karim.
  • Shahih Bukhari, Maktabah Syamilah.
  • Shahih Muslim, Maktabah Syamilah.