Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)
Doa Berlindung dari Tetangga yang Buruk
Penulis: Abu Ady
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوْءِ فِيْ دَارِ الْمُقَامَةِ ، فَإِنَّ جَارَ الْبَادِيَةِ يَتَحَوَّل
“Ya, Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang jahat di tempat kediamanku, karena tetangga di dunia dapat berganti-ganti.”
(HR. Al-Bukhari di Al-Adabul Mufrad nomor 117. Dinilai shahih oleh Al-Albani di Shahih Al-Adabil Mufrad)
Makna Lafal
- (اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوْءِ): yaitu dari keburukannya.[1]
- (فِيْ دَارِ الْمُقَامَةِ): yaitu tetangga di akhirat.[2] Keburukan akibat tetangga semacam itu akan terus dirasakan dan bahaya akan terus timbul.[3] Ada pendapat yang menyatakan bahwa kemungkinan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan doa tersebut karena para tetangganya, termasuk pamannya sendiri, Abu Lahab beserta istri dan putranya, yang sangat berlebihan dalam menyakiti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka biasa melemparkan kotoran dan darah ke pintu rumah beliau.[4]
- Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah; beliau berkata, hadits ini shahih, dan para ulama menyetujuinya.
- (فَإِنَّ جَارَ الْبَادِيَةِ يَتَحَوَّلُ): durasi kebersamaan yang singkat akan bisa dihadapi, sehingga kerugiannya tidak besar.[5] Namun, jika seseorang hidup bertetangga secara permanen, tetangga yang buruk akan membuat seseorang hidup tidak nyaman dalam waktu yang panjang.
Ulasan Doa
- Hadits di atas menunjukkan pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pentingnya memilih lingkungan yang kondusif untuk tempat tinggal. Bahkan, dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, “Pilihlah tetangga, sebelum memilih kediaman. Pilihlah teman, sebelum melakukan perjalanan.”[6] Jadi, pertimbangan ketika akan memutuskan tempat tinggal bukan hanya kondisi fisik bangunan, melainkan lingkungan di sekitarnya.
- Doa tersebut menyiratkan dua jenis tetangga: tetangga temporer (sementara) dan tetangga permenan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merasakan ketidaknyamanan akibat bertetangga dengan Abu Lahab, sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berharap agar di akhirat kelak bisa terbebas dari tetangga seperti itu.
- Ketika kita bersafar dan perlu menginap di hotel, kadang kita akan “bertetangga” dalam waktu yang singkat dengan orang lain. Bersebelahan kamar dengan orang yang baik tentu itulah yang kita harapkan. Adapun berdekatan dengan orang yang menimbulkan kebisingan atau suka merokok sehingga asapnya kemana-mana tentu bukan jenis “tetangga” yang kita harapkan.[7]
- Ada tiga jenis tetangga:[8]
- Tetangga yang memiliki satu hak, yaitu tetangga musyrik yang bukan kerabat kita. Dia hanya memiliki hak sebagai tetangga
- Tetangga yang memiliki dua hak, yaitu tetangga muslim yang bukan kerabat kita. Dia memiliki hak sebagai sesama muslim dan sebagai tetangga.
- Tetangga yang memiliki tiga hak, yang berada di tingkatan tertinggi dalam hak bertetangga, yaitu tetangga muslim yang juga merupakan kerabat kita. Dia memiliki hak sebagai muslim, sebagai tetangga dan sebagai kerabat.
- Semakin dekat pintu rumah tetangga, maka semakin besar haknya. Oleh sebab itu, tetangga yang tepat bersebelahan rumah dengan kita itu lebih besar haknya dibandingkan tetangga yang berada dalam jarak dua atau tiga rumah ke samping. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya,[9] “Wahai Rasulullah, aku punya dua tetangga. Mana yang paling besar haknya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang pintu rumahnya paling dekat dari rumahmu.”
- Gangguan dalam hidup bertetangga bisa hadir dalam berbagai rupa: suara bising, asap pembakaran sampah, musik--bahkan audio murattal Al-Qur’an--yang diputar keras-keras, binatang peliharan yang dilepas sembarangan hingga selalu buang air di pekarangan tetangga dan sebagainya. Begitu juga, termasuk gangguan yang sifatnya abstrak, misalnya tetangga yang suka ghibah dan namimah, berdusta dan sebagainya. Kita hendaknya berlindung kepada Allah Ta’ala dari tetangga yang menyebabkan gangguan semacam itu.
- Saking besarnya gangguan yang ditimbulkan oleh tetangga yang buruk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung darinya. Hal ini mengingatkan kita untuk menjadi tetangga yang baik, agar kita tidak menjadi jenis orang yang tidak disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Seorang muslim hendaklah memohon kepada Allah Ta’ala agar bisa bertetangga dengan orang yang baik, di dunia maupun di akhirat.
Referensi
- Al-Adabul Mufrad, Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Al-Mu’jam Al-Kabir, Ath-Thabarani, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- At-Tanwir Syarh Jami’ Ash-Shaghir, Muhammad bin Ismail bin Shalah Al-Husni, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- At-Taysir bi Syarhi Jami’ish Shaghir, Abdurrauf bin Taj Al-‘Arifin Al-Munawi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Az-Zuhdu war Raqa`iq, Ibnul Mubarak, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Faidhul Qadir, Abdurrauf bin Taj Al-‘Arifin Al-Munawi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shahih Al-Adabil Mufrad, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
Lanjut baca? 0%