Doa

Doa agar Senantiasa Mengerjakan Ketaatan dan Menghindari Kemungkaran

Penulis: Athirah Mustadjab

Editor: Za Ummu Raihan


Lafal Doa

اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ فعلَ الخيراتِ، وتركَ المنكراتِ، وحُبَّ المساكينِ، وأن تغفِرَ لي وترحمَني، وإذا أردتَ فتنةً في قومٍ فتوفَّني غيرَ مفتونٍ

"Ya Allah, aku mohon (berilah aku hidayah) untuk mengerjakan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, dan mencintai orang miskin. Mohon ampunilah aku dan rahmatilah aku. Jika engkau hendak menurunkan fitnah kepada suatu kaum, wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah tersebut.” (HR. At-Tirmidzi no. 3233, Ath-Thabrani di Al-Mu’jam Al-Kabir no. 216, Malik di Al-Muwattha’ no. 40, dan Al-Bazzar no. 4172. Dinilai shahih oleh Al-Albani di Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 59)

MAKNA LAFAL

  • (اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ فعلَ الخيراتِ): Yaitu amal kebaikan yang diridhai oleh Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang akan membawa kebaikan[1] di dunia dan di akhirat.[2] Pelakunya terpuji dan akan mendapat pahala.[3]
  • (وتركَ المنكراتِ): Yaitu larangan-larangan Allah.[4] Orang yang meninggalkan kemungkaran akan mendapat pahala jika dia meninggalkannya demi meraih ridha Allah.[5]
  • (وحُبَّ المساكينِ): Mencintai orang miskin merupakan salah satu bentuk amal kebaikan.[6]
  • (وأن تغفِرَ لي): Memohon ampunan Allah atas dosa-dosa yang dilakukan.[7]
  • (وترحمَني): Memohon kepada Allah agar amal shalihnya diterima oleh Allah.[8]
  • (وإذا أردتَ فتنةً) : Kesesatan atau hukuman.[9]
  • (في قومٍ) : Sekelompok orang atau suatu kaum.[10]
  • (فتوفَّني غيرَ مفتونٍ) : Yaitu keinginan agar terbebas dari fitnah (kesesatan atau hukuman) tersebut, serta selamat hingga akhir hayat dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.[11]

ULASAN DOA

  1. Doa ini merupakan contoh jawami’ul kalim Nabi H.[12]
  2. Doa ini merangkum permohonan atas setiap kebaikan dan perlindungan atas setiap keburukan.[13]
  3. Orang miskin yang dimaksud dalam doa ini adalah orang miskin yang tawadhu, bukan orang miskin yang sombong. Mereka tidak sombong. Mereka hayyin, layyin, dan sahl. Mereka tidak suka meminta-minta karena Rasulullah H melarang perbuatan suka meminta-minta jika seseorang sudah memiliki harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.[14]
  4. Hadits ini bukan untuk menyeru umat Islam untuk hidup miskin, fakir, dan terlilit utang. Harus dibedakan antara ajakan untuk bersikap lembut dan menyayangi orang-orang miskin dengan ajakan untuk hidup fakir. Bagaimana mungkin beliau menyeru umatnya untuk hidup fakir padahal beliau sendiri tidak menyukai kefakiran yang membuat tubuh lemah, sakit-sakitan, dan menyebabkan orang tidak mampu menunaikan berbagai kewajiban.[15]
  5. Sesuatu terjadi berdasarkan iradah (kehendak) Allah, bukan kehendak makhluk-Nya. Terjadinya sebuah fitnah (huru-hara/kekacauan) terjadi atas kehendak Allah, bukan kehendak selain-Nya.[16]

Referensi:

  1. Al-Istidzkar. Ibnu Abdil Barr. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  2. Al-Muntaqa Syarhul Muwattha’. Abul Walid bin Khalaf Al-Baji. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  3. Al-Mu’jam Al-Kabir. Al-Imam Ath-Thabrani. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  4. Al-Muwattha’. Al-Imam Malik. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  5. Fatawa Darul Ifta’ Al-Mihsriyyah. Darul Ifta’ Al-Mihsriyyah. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  6. Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih. Mulla Ali Al-Qari. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  7. Musnad Al-Bazzar. Al-Imam Al-Bazzar. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  8. Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  9. Sunan At-Tirmidzi. Al-Imam At-Tirmidzi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  10. Syarhud Du’a minal Kitab was Sunnah. Mahir bin Abdil Hamid bin Muqaddam. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
0