Depresi: Gejala,
Pencegahan, dan Harapan
dijawab oleh dr. Agus Sofyan Syawaludin, Sp.K.J (K)
Pertanyaan dari Cindy Lestari – Gresik, Jawa Timur
Jawaban:
Barakallahu fiik atas pertanyaan Ibu Cindy.
Ibu sudah didiagnosis depresi ringan dan telah mendapat terapi. Kondisi sudah lebih baik, hanya saja masih mudah terpicu dan terkadang menyakiti diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa masih ada sumber stres yang belum selesai.
Perlu dinilai kembali, apa yang membuat Ibu masih menyakiti diri. Apakah karena pengalaman masa lalu yang belum benar-benar berdamai, ataukah karena faktor lingkungan terdekat?
Di awal saya menyebutkan bahwa depresi dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu biologis, psiko edukatif, sosial-budaya, dan nilai keagamaan.
1. Faktor Kepribadian
Orang dengan kepribadian narsisistik biasanya agak sulit menerima nasihat, merasa dirinya paling benar, cara berpikir, cara pandang, dan cara bersikapnya paling benar. Pada orang narsistik yang sulit untuk menerima nasihat dan sulit untuk berubah, ketika dia berhadapan dengan orang yang narsis juga, maka tergantung mana yang lebih kuat narsisnya. Ketika salah satu kalah, maka yang kalah dapat mengalami depresi.
Oleh karena itu, harus ada yang berubah. Apa yang berubah? Penerimaan. Ketika dia menerima permasalahan yang dihadapi, ada kecenderungan mengalah untuk kehidupan yang lebih baik karena dia bisa menemukan nilai-nilai kehidupan dalam sikap mengalahnya atau penerimaannya. Sehingga biasanya depresi akan segera membaik. Ini dari sisi faktor kepribadian.
2. Faktor Pola Pikir
Dari sisi faktor cara berpikir, ada kaitannya dengan pendidikan. Cara berpikirnya perlu diperbaiki lagi. Apa yang sering dipikirkan ketika menghadapi permasalahan hidup? Ketika seseorang menjalani kehidupan, biasanya memiliki ciri khas cara berpikir.
Contoh ada yang cara berpikirnya selalu merasa dirinya worthless, merasa dirinya tidak berharga, “Ah apalah aku ini”, “Aku kan orangnya biasa saja”, “Aku kan orangnya pengalah”, “Aku orangnya apa kata bos aja lah”. Ini harus diperbaiki juga. Jangan sampai kita ada kecenderungan menjadi orang yang selalu menerima, selalu merasa rendah.
Kita harus memiliki sikap maju, produktif, dan mau belajar agar kita terhindar dari keadaan-keadaan seperti di atas, yaitu cenderung mengkritik diri sendiri. Salah satu gejala depresi seperti itu, sering mengkritik diri sendiri. Ini perlu diubah!
3. Faktor Lingkungan
Kemudian, dari faktor lingkungan. Budaya di Indonesia, laki-laki masih sering dianggap lebih tinggi daripada perempuan. Banyak kejadian laki-laki merasa lebih tinggi sehingga sering melakukan kekerasan, baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik.
Paling sering laki-laki melakukan silent treatment kepada pasangan, mendiamkan pasangan sebagai bentuk hukuman. Ini sebenarnya tidak baik. Kalau ada masalah lebih baik segera diselesaikan, ada komunikasi aktif.
4. Faktor Nilai Keagamaan
Faktor yang lain yaitu fenomena nilai-nilai agama. Saya yakin teman-teman yang di sini semua belajar di HSI, ya. Namun, jangan merasa cukup belajar ilmu agama saja.
Ketika ada seorang sahabat yang menanam kurma bertanya kepada Rasulullah, Rasulullah menjawab, ”Kamu lebih paham tentang duniamu!”
Artinya kita diajarkan untuk berpikir dan mencari ilmu-ilmu yang mendukung kehidupan manusia lebih baik. Rasulullah tidak mengajarkan secara langsung cara menanam kurma yang baik. Tapi kita disuruh berpikir. Begitu juga kita perlu mencari ilmu untuk mendukung kesehatan mental kita
Oleh karena itu, ada dokter spesialis kedokteran jiwa, psikolog, konselor terkait kesehatan mental. Mereka dianugerahi Allah kemampuan untuk menilai hal-hal apa saja yang mungkin belum selesai. Mungkin dari faktor terapi yang belum optimal, segi kepribadian yang masih belum bisa menerima, cara berpikir kita yang mungkin masih kurang tepat dari faktor edukasinya, lingkungan yang masih bermasalah, budaya yang tidak mendukung, atau nilai-nilai dan pemahaman agama kita yang mungkin masih kurang. Hal-hal ini nanti akan dinilai oleh psikiater atau psikolog yang perlu didiskusikan bersama-sama.
Pertanyaan dari Niken Budi Setiati – Bekasi
Ayah saya menderita sakit jiwa. Ayah saya mempunyai lima anak, kemudian kakak saya yang nomor tiga sepertinya juga mengalami hal yang sama dengan ayah saya.
Menurut cerita ibu saya, kakak saya dari kecil sudah mudah tersinggung, mudah marah, mudah emosi. Dikarenakan dulu mungkin ibu tidak tahu harus berobat kemana, jadi ibu saya memperlakukan kakak saya agar jangan sampai terpicu marah.
Tetapi seiring waktu, saat kuliah, kakak saya yang sebenarnya secara kecerdasan bagus, dia mengalami semacam pem-bully-an oleh teman-teman kuliahnya. Hal ini terjadi mungkin karena dia terlihat aneh, mudah tersinggung dan kadang kalimatnya kurang bisa dipahami oleh orang sekitarnya. Akhirnya kakak saya mengalami depresi, Dok!
Kuliah berhenti di tengah jalan dan kakak saya dibawa berobat ke rumah sakit jiwa. Kakak saya sudah mendapat obat-obatan dan sampai saat ini kakak saya masih bergantung dengan obat-obatan tersebut. Obat tidur yang diberikan ini memberikan efek pada kakak saya yaitu mulut menjadi seperti miring, bicara pelo.
Namun apabila dosis obat tidurnya dikurangi, kakak saya tidak bisa tidur, bisa sampai 3 hari tidak tidur. Tertawa sendiri, bicara sendiri. Yang ingin saya tanyakan, apakah penyakit yang diderita kakak saya ini keturunan atau memang karena kelainan mental dan kurangnya terapi, Dok
Jawaban:
Fenomena seperti ini banyak sekali terjadi di masyarakat. Seseorang yang perilakunya sangat jauh dari layaknya orang normal, dianggap sesuatu yang mengganggu, dianggap aib, atau kelemahan. Saya mengingatkan kembali bahwa masalah kesehatan mental dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu faktor biologi, psiko edukatif, sosial budaya dan spiritual religi. Pertanyaannya, apakah sebuah masalah mental itu ada faktor keturunan? Berdasarkan penelitian, bisa iya bisa tidak.
Perlu saya tekankan bahwa empat faktor tadi bukan penyebab tunggal, tetapi saling berkaitan satu sama lain. Apakah orang-orang yang memiliki riwayat keturunan permasalahan kesehatan mental, semua keturunannya pasti akan sakit juga? Jawabannya, tidak. Tergantung kondisi biologisnya.
Dari segi faktor biologis, kalau hormon pengontrol cara berpikir dan cara berperilaku seimbang, maka seberat apapun permasalahan kehidupannya, insyaallah, Allah jaga. Tetapi kalau ada kecenderungan faktor biologinya tidak seimbang, maka apabila tertimpa masalah sedikit saja, dia bisa mengalami sakit atau gangguan mental.
Pada kasus ini, Bapak sudah didiagnosis dengan skizofrenia. Kakaknya juga sudah tegak diagnosis dan ternyata ketika diberikan obat menunjukkan tanda-tanda perbaikan dan kestabilan. Namun, sayangnya ketika diberikan obat tersebut muncul efek lidahnya menjadi pelo. Inilah pentingnya pengetahuan atau pendidikan tentang tata cara minum obat dan pengetahuan tentang obat itu sendiri.
Pengobatan pasien dengan masalah mental terutama pada penderita skizofrenia memang unik obatnya. Pasien yang satu dengan pasien yang lain dengan diagnosis yang sama bisa jadi obatnya berbeda walaupun protokolnya sama. Misalnya, standar protokol obat skizofrenia yaitu obatnya A B C D. Maka obat yang akan diberikan adalah yang rekomendasi pertama (atas) yaitu obat A dulu, baru turun ke bawah B, dan seterusnya sampai D. Uniknya, pada orang-orang dengan masalah kejiwaan, ketika diberikan obat A, belum tentu cocok. Sehingga dia harus lompat ke obat C, misalnya. Oleh karena itu, pasien perlu kontrol ulang.
Jadi tidak perlu takut, hal ini lumrah terjadi. Lanjutkan pengobatannya dan segera konsultasi lagi dengan psikiater yang memberikan obat tersebut agar pasien, ketika mendapatkan pengobatan, merasa nyaman. Karena yang terpenting adalah ketika diberikan obat, pasien nyaman, supaya pasien mau rutin berobat dan tidak sampai putus obat. Keluarga juga ikut tenang karena melihat pasien selama pengobatan menjadi tenang.
Pertanyaan dari Mukhlisin, 30 tahun
Dok, bagaimana cara membedakan depresi klinis yang memerlukan penanganan medis dengan kesedihan atau ujian hidup biasa yang sering dialami oleh manusia?
Jawaban :
Dikatakan depresi apabila menetap selama 2 minggu berturut-turut, terus, dan menyebabkan produktivitas atau fungsi perannya terganggu. Ciri khas orang depresi adalah ada gangguan pada fungsi perannya. Ketika seseorang sedih ditinggal pasangan hidupnya yang meninggal dunia, tetapi dia masih bisa makan, sedihnya kadang hilang kadang muncul lagi, tidak menetap sepanjang hari, maka ini adalah fenomena normal.
Bisa saja ada gangguan fungsi peran pada orang yang sedih biasa. Akan tetapi belum tentu semua fungsi peran terganggu. Misalnya, dia sedih kehilangan pasangan hidupnya tapi dia tetap masih bisa menjalani tugasnya. Meskipun sedih, dia masih bisa melakukan aktivitas hariannya. Masih mau makan, menjalankan tugas-tugasnya. Pada orang depresi, hilang semuanya. Nafsu makannya hilang, tidak mau melakukan aktivitas apa-apa dan berlangsung sepanjang hari. Jadi waktunya itu 24 jam sampai berhari-hari bahkan sampai 2 minggu.
Demikian cara membedakan fenomena normal dengan fenomena depresi. Kalau fenomena depresi maka harus diberikan terapi. Terapinya ada dua, tidak harus obat. Bisa dengan teknik konseling, kalau kondisi sudah berat baru pakai obat. Jadi perlu konsultasi untuk membedakan ini fenomena normal atau fenomena depresi.