Demi Satu Hadits:
Keteladanan Jabir radhiyallahu 'anhu
Penulis: Azhar Abu Usamah
Editor: Athirah Mustadjab
Agama Islam tidak hanya dijaga melalui kegigihan para mujahidin di medan perang. Para ulama menjaga kemurnian agama dari dalam, sehingga tak ada sedikit pun barang asing yang menyusupinya. Peran ulama sangat signifikan, layaknya para mujahidin yang berperang habis-habisan. Apabila Allah Ta’ala memotivasi para mujahidin agar semangat mencari kemenangan dan tak segan menghadapi kematian, di sisi lain para ulama berusaha sekuat tenaga menahan getir dan pahitnya cobaan untuk memelihara ajaran Islam sehingga tetap utuh tak berubah.
Satu hal yang menyatukan antara mujahidin yang berjuang dengan memanggul senjata dengan para ulama yang menjaga agama dengan ilmu dan pena; mereka sepenuh hati rela berkorban harta, waktu, tenaga, bahkan nyawa demi menjaga amanah yang diberikan oleh Allah di atas pundak mereka.
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya manusia berlomba-lomba.”[1]
Jabir, Pahlawan di Medan Laga
Namanya adalah Jabir bin Abdillah bin ‘Amr bin Haram Al-Anshari. Kun-yah-nya adalah Abu Abdillah atau Abu Abdirrahman. Asalnya dari Khazraj, suku asli kota Madinah. Dalam kitab biografi, nama beliau tentu tak asing. Jabir dan ayahnya merupakan sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan, jauh-jauh hari sebelum Nabi hijrah ke Madinah, Jabir menjadi salah satu saksi sejarah termuda dalam Baiat Aqabah Kedua bersama 70-an para sahabat tua lainnya. Mereka itulah cikal-bakal benih keislaman di Madinah.
Perjalanan Islam Jabir sudah lama. Sudah banyak peristiwa dan perang yang dilaluinya bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Takdir Allah memang tepat; para sahabat yang masuk Islam sewaktu Baiat Aqabah memang pantas terpilih menjadi pembela agama dan Rasul-Nya. Buktinya, Jabir dan ayahnya sering berdebat tentang siapakah yang akan ikut serta dalam pertempuran saat Rasulullah mengumumkan. Bukan perdebatan soal siapa yang akan tinggal karena takut mati, tetapi karena keduanya tak ada yang mau mengalah untuk menjemput syahadah!
Suatu ketika Jabir menceritakan, “Aku berlaga bersama Rasulullah di sembilan belas pertempuran, tetapi aku tidak ikut serta dalam Perang Badar maupun Uhud. Hal itu karena ayahku melarangku (untuk menjaga sembilan[2] saudariku). Ketika ayahku gugur (di Perang Uhud), aku tak pernah melewatkan satu pertempuran pun setelahnya.”
Banyak momentum krusial yang telah beliau lewati semasa hidup Nabi. Dari Perang Dzatur Riqa’ yang penuh keprihatinan, Perjanjian Hudaibiyah dan Baiatur Ridhwan yang dipenuhi nilai keimanan, hingga Perang Tabuk yang memperlihatkan pengorbanan, tak ada satu pun yang terlewat dalam agenda jihad seorang Jabir bin Abdillah! Salah satu momentum yang diingat oleh Jabir ialah tatkala Nabi bersabda kepadanya dan kepada 1.400 sahabat lain pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, “Kalian adalah penduduk bumi terbaik!”
Keakraban bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
Selama hidup bersama Rasulullah, banyak kejadian yang telah beliau alami. Suka dan duka menjadi pernik yang tak terpisahkan dalam kehidupan mereka.
Suatu ketika, sepulang dari Perang Dzatur Riqa’, Jabir tertinggal oleh rombongan karena untanya lambat dan lemah. Tiba-tiba Rasulullah muncul dari belakang menyapanya. Setelah mengetahui sebabnya, Rasul menyuruh Jabir agar menambatkan untanya. Setelah itu beliau mencucuk lambungnya beberapa kali dengan kayu. Akhirnya Nabi menyuruh Jabir untuk menaiki unta tersebut. Ajaib! Unta yang awalnya lemah, kini menjadi sangat gesit.
Malam itu Rasulullah terlibat obrolan seru dengan Jabir. Lebih dari dua puluh kali Nabi mendoakan agar Jabir diampuni. Beliau pun menawar unta Jabir dengan harga yang sangat mahal. Di sela-sela obrolan itu, Rasul yang perhatian bertanya kepada sahabatnya yang masih muda itu, “Jabir, kau sudah menikah?” “Ya,” jawabnya. “Gadis atau janda?” tanya Nabi lagi. “Janda,” jawab Jabir. “Mengapa kau tidak menikahi gadis, sehingga dirimu bisa bermain-main dengannya, dirinya pun bisa bermanja-manja denganmu?” tanya Rasul heran. Pada akhirnya Jabir beralasan, “Rasul, sesungguhnya ayahku telah gugur di Uhud, sedangkan beliau meninggalkan tujuh anak wanita. Aku lantas menikahi janda yang bisa mengatur dan mengurusi kebutuhan mereka semua.” Rasul pun berkata, “Kau sudah benar, insyaallah .…”[3]
Demi satu hadits!
Selain mujahid di medan laga, Adz-Dzahabi rahimahullah menyebut Jabir sebagai, “Seorang imam agung, mujtahid, al-hafizh, … dan Faqih.” Hal itu tak mengherankan sama sekali karena catatan sejarah memang tak pernah bohong. Tatkala para ahli hadits meneliti jumlah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir, mereka menyimpulkan bahwa ada setidaknya 1.540 hadits yang telah beliau riwayatkan dari Rasulullah.
Di samping itu, Jabir juga menyerap banyak ilmu dari para sahabat senior yang masih tersisa, semisal Abu Bakar, Umar, Ali, dan Mu’adz. Sewaktu Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma wafat, Jabir bin Abdillah seakan tak memiliki tandem dalam masalah keilmuan. Beliau pun menjadi mufti satu-satunya di kota Madinah hingga wafat.
Jabir dikaruniai usia yang cukup panjang, lebih dari 90 tahun. Ketika sudah uzur, beliau menjadi buta, tetapi majelisnya di Masjid Nabawi tak pernah sepi. Banyak ulama tabi’in yang menimba ilmu dari beliau, di antaranya Sa’id bin Musayyib, Mujahid, Atha’ bin Abi Rabah, Al-Hasan Al-Bashri dan selain mereka. Seakan para penuntut ilmu itu tahu bahwa di hadapan mereka adalah mata air pengetahuan yang tak pernah kering dan muhibah ilmu yang tak kenal lelah.
Pengembaraan Jabir mencari mata air ilmu pun layak mendapatkan penghargaan semisal itu. Salah satunya ialah yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, “Sampai berita padaku bahwa ada seorang yang mendengar satu hadits dari Rasulullah (yang belum aku dengar). Aku membeli unta lalu mempersiapkan bekal perjalanan jauhku. Sebulan lamanya safar itu kutempuh hingga aku sampai ke Syam. Ternyata lelaki itu adalah Abdullah bin Unais. (Sesampai di depan rumahnya) aku berkata kepada penjaga pintu, ‘Tolong katakan kepada majikanmu bahwa Jabir sedang menunggu di depan pintu.’ Penjaga pintu bertanya sedikit memastikan, ‘Jabir putra Abdullah?’ ‘Ya,’ jawabku. Sejurus kemudian Abdullah bin Unais datang dengan tergopoh-gopoh lalu memelukku. Aku lantas bertanya, ‘Ada satu hadits yang sampai kepadaku, bahwa kau mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai hukum qishash[4]. Aku khawatir kematian mendahului kita berdua sebelum aku sempat mendengarnya. Abdullah bin Unais berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari kiamat manusia akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang, belum dikhitan dan buhman.’ Aku bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan buhman?’ Abdullah menjawab, ‘Yaitu tidak membawa apa pun.’ ‘Kemudian Allah menyeru mereka dengan suara yang didengar oleh semua yang hadir, dekat maupun jauh — atau yang jauh mendengar seperti yang dekat, ‘Akulah Al-Malik (Maha Raja)! Akulah Ad-Dayyan (Yang Maha Membalas amalan)! Tidaklah boleh bagi seorang pun dari penduduk neraka yang ketika sudah masuk neraka, ia memiliki hak yang belum tertunaikan dari penduduk surga sehingga Aku tunaikan, meski hanya sebuah tamparan.’ Kami bertanya, ‘Bagaimana itu bisa terjadi, sedangkan manusia saat itu datang dalam keadaan tak berpakaian, tidak dikhitan, juga tak membawa apa pun?’ Beliau bersabda, ‘Dibalas dengan kebaikan dan kejelekan yang kita punyai.’”[5]
Lihatlah, sepanjang lebih dari 1.000 kilometer ditempuh dengan susah payah demi mendengar satu hadits dari Rasulullah! Ketika itu, usia Jabir juga sudah tidak muda untuk bepergian jauh. Jika bukan karena tingginya semangat dalam mencari ilmu dan menjaga agama Islam, tentu sahabat Jabir tak akan repot-repot datang sendiri ke Syam yang begitu jauh. Nyatanya, itu bukan hanya soal jarak, tetapi sahabat Jabir hendak mengajari kita arti dari keberkahan niat serta cara kita dalam mencari ilmu.
Sekarang, di manakah posisi kita dibandingkan mereka?
Referensi:
- Al-Ishabah fi Tamyizis Shahabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, tahun 1412 H, Darul Jil, Lebanon, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tahdzibut Tahdzib, Al-Hafizh Syamsuddin Abu Abdillah Adz-Dzahabi, tahqiq: Ghanim Abbas Ghanim dan Majdi As-Sayyid Amin, Al-Faruq Al-Haditsiyah, tahun 1425 H, Mu’assasah Sulaiman Ar-Rajihi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Siyar A’lamin Nubala’, Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahabi, Mu’assasah Ar-Risalah, Lebanon, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Musnad Ahmad, Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani, tahqiq: Syuaib Al-Arnauth, Mu’assasah Qurthubah, Mesir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Fathul Bari, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, tarqim: Muhammad Fu’ad Abdulbaqi, tahun 1379 H, Darul Ma’rifah, Lebanon, Al-Maktabah Asy-Syamilah