Dari Redaksi
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Dari Redaksi

Bismillahirrahmanirrahim.

Ada kelelahan yang tidak selalu tampak di wajah manusia hari ini. Senyum masih terpasang, aktivitas tetap berjalan, target demi target terus dikejar. Namun di balik itu semua, tidak sedikit hati yang perlahan mengering, jiwa yang diam-diam letih, dan batin yang kehilangan rasa.

Sebagian manusia lelah karena terlalu lama berlari mengejar dunia. Ambisi dipacu tanpa jeda, pencapaian ditumpuk tanpa sempat dinikmati maknanya. Waktu habis untuk mengejar “lebih”—lebih tinggi, lebih kaya, lebih diakui—hingga lupa bertanya: untuk apa semua ini, dan sampai kapan?

Sebagian yang lain lelah bukan karena ambisi, tetapi karena himpitan keadaan. Mereka bekerja keras sekadar untuk bertahan. Bangun pagi dengan dada penuh beban, pulang malam dengan tubuh yang nyaris tumbang. Bukan karena rakus terhadap dunia, tetapi karena takut esok tidak bisa memberi makan keluarga. Mereka tidak sedang lalai dengan sengaja—mereka hanya kehabisan tenaga untuk sekadar berhenti dan merenung.

Di sisi lain, manusia modern juga hidup di tengah sistem yang serba cepat dan reaktif. Hari-hari dipenuhi layar, notifikasi, tuntutan, dan kesenangan instan. Tanpa disadari, hati menjadi keras, ibadah terasa berat, dosa perlahan dianggap biasa. Jiwa lelah, tetapi solusi yang ditawarkan sering kali hanya bersifat permukaan: liburan singkat, hiburan baru, pelarian sesaat. Lega sebentar, lalu kosong kembali.

Di tengah kondisi inilah, nikmat Allah yang sangat besar datang setiap tahun: Ramadhan. Bulan yang digambarkan oleh Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Bulan yang penuh berkah.

Ia bukan beban tambahan bagi manusia yang sudah letih. Ia adalah undangan lembut dari Allah. Undangan untuk berhenti sejenak. Untuk menurunkan kecepatan. Untuk kembali mengenali diri sebagai hamba.

Puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah mekanisme ilahi untuk menenangkan nafsu yang terlalu lama dibiarkan berisik. Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi menjadi syifa bagi hati yang lama tidak diajak bicara. Malam-malam Ramadhan bukan untuk memforsir diri tanpa arah, tetapi untuk memulihkan hubungan yang mulai renggang dengan Rabb—hubungan yang rusak bukan karena benci, melainkan karena terlalu sibuk.

Melalui tema “Ramadhan:  Healing Sesungguhnya”, Majalah HSI edisi 87 ini hadir mengajak pembaca memandang Ramadhan secara lebih utuh: sebagai proses pemulihan menyeluruh—spiritual, mental, dan akhlak. Bukan sekadar ritual tahunan, bukan pula simbol kesalehan yang berhenti di permukaan, tetapi sebagai tarbiyah ilahiyah yang bekerja perlahan dan mendalam.

Rubrik utama edisi ini mengajak kita melihat bagaimana Ramadhan sesungguhnya adalah bentuk kasih sayang Allah kepada manusia modern yang lelah dan penuh distraksi. Puasa berfungsi sebagai “shock therapy” yang menahan laju syahwat, menata ulang ritme hidup, dan mengembalikan orientasi hati kepada akhirat. Di sana juga diangkat refleksi penting: mengapa ada Ramadhan yang benar-benar menyembuhkan, dan ada pula Ramadhan yang berlalu tanpa bekas.

Pada rubrik Mutiara Al-Qur’an, pembaca diajak menelusuri relasi mendalam antara puasa dan takwa—tujuan agung yang sering diucapkan, namun belum tentu dipahami jalannya. Sementara pada Mutiara Hadits, kita diingatkan tentang bahaya puasa yang hanya berhenti pada level fisik, tanpa dampak pada perilaku dan pengendalian diri.

Rubrik Aqidah menegaskan pentingnya iman dan ihtisab sebagai pondasi agar puasa benar-benar bernilai di sisi Allah. Tanpa keduanya, puasa mudah berubah menjadi rutinitas kosong. Pada bagian Fiqih, pembaca akan mendapatkan panduan praktis sahur dan berbuka sesuai sunnah Nabi ﷺ—membantu menghadirkan ibadah yang tidak hanya semangat, tetapi juga benar secara tuntunan.

Secara khusus, edisi ini juga menghadirkan perhatian pada realitas kehidupan wanita melalui rubrik Mutiara Nasihat Muslimah. Di sana dibahas bagaimana Ramadhan bisa menjadi madrasah pemulihan jiwa di tengah burnout domestik, mental load, dan tekanan emosional yang sering tidak terlihat.

Untuk para orang tua, rubrik Tarbiyatul Aulad mengajak memanfaatkan Ramadhan sebagai momentum healing hubungan dengan anak—mengembalikan kehangatan, memperbaiki komunikasi, dan menata ulang fitrah mereka di tengah derasnya distraksi modern.

Dari sisi keteladanan, rubrik Sirah mengangkat sosok mulia Zainab bintu Khuzaimah radhiyallahu ‘anha, Ummul Masakin, yang menunjukkan bahwa salah satu obat hati yang paling ampuh adalah memberi. Kisah beliau menjadi cermin bahwa orientasi akhirat melahirkan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan materi.

Edisi ini juga dilengkapi dengan naskah Khotbah, doa perlindungan dari murka Allah, Tausiyah Ustadz, serta rubrik Tanya Jawab yang insyaAllah semakin memperkaya bekal pembaca dalam menjalani Ramadhan dengan lebih sadar dan terarah.

Akhirnya, kami berharap edisi ini tidak sekadar dibaca, tetapi direnungi. Tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menggerakkan perubahan—meski kecil namun nyata. Karena sering kali, healing yang paling hakiki tidak terjadi dalam satu lompatan besar, tetapi dalam langkah-langkah kecil yang konsisten menuju Allah.

Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi momentum pemulihan bagi jiwa kita, pelembut bagi hati kita, dan penata ulang bagi orientasi hidup kita.

Selamat membaca. Selamat menjemput Ramadhan dengan hati yang lebih siap. Baarakallahu fiikum.

Redaksi Majalah HSI



245