Dahsyatnya Dakwah dengan Tulisan
Penulis: Ary Abu Ayyub
Editor: Athirah Mustadjab
Pengantar
Umat Islam memiliki warisan intelektual para ulama dari zaman ke zaman berwujud manuskrip yang luar biasa banyaknya. Naskah-naskah kuno tersebut berasal dari berbagai lintas disiplin ilmu yang mencerminkan tradisi tulis ulama masa silam yang tidak ternilai harganya. Konon, jumlah warisan itu mencapai ratusan juta naskah[1], di luar naskah yang dihancurkan dari Perpustakaan Baitul Hikmah oleh Hulagu Khan ketika menguasai Baghdad pada 1258 M. Sejarah mencatat saat itu jutaan manuskrip dibuang ke Sungai Tigris sehingga tinta dari naskah-naskah tersebut membuat air sungai berubah warna selama berhari-hari, dan banyak ilmu yang tak tergantikan hilang selamanya. Juga di luar pembakaran ribuan buku di Granada oleh Inkuisisi[2] pada tahun 1499 M, pada masa Reconquista[3] di Spanyol ketika kaum Muslim kehilangan kekuasaan di Andalusia.
Dari warisan itulah saat ini kita mengetahui nama-nama besar seperti Imam Malik dengan Al-Muwattha’-nya, Asy-Syafi’i dengan Al-Umm-nya, An-Nawawi dengan Riyadh Ash-Shalihin-nya, As-Suyuthi dengan Tafsir Jalalain dan Al-Itqan fi Ulumil Qur’an-nya, Ibnu Taimiyyah dengan Majmu’ Fatawa-nya dan ratusan ulama lain dengan karya-karya monumentalnya. Karya-karya itu tetap eksis melintasi tempat dan zaman yang sangat luas sehingga memberikan manfaat yang besar bagi generasi di belakangnya.
Hal itu sekaligus menunjukkan dahsyatnya dakwah melalui tulisan yang mereka wariskan. Melalui kekuatan tulisan, mereka telah berhasil menyebarkan nilai-nilai Islam yang mendalam dan membangkitkan semangat umat untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan lebih baik, lintas tempat dan lintas zaman. Artikel ini, biidznillah, akan mengeksplorasi perjalanan dakwah melalui tulisan yang tidak hanya mempertahankan warisan intelektual para ulama, tetapi juga menjadi sarana yang efektif dalam menyebarluaskan dakwah di era modern ini.
Tradisi Tulis-Menulis dalam Islam
Allah dan Rasul-Nya sejak awal telah mendidik umat Islam untuk menjaga agamanya dengan menulis. Ketika berfirman tentang utang-piutang, Allah banyak menyebutkan kata “menulis”, hingga pada firman-Nya,
وَلَا تَسْـَٔمُوْٓا اَنْ تَكْتُبُوْهُ صَغِيْرًا اَوْ كَبِيْرًا اِلٰٓى اَجَلِهٖۗ
“Janganlah kamu bosan mencatatnya sampai batas waktunya, baik (utang itu) kecil maupun besar.” (QS. Al-Baqarah: 282)
Ini menunjukkan bahwa, dalam tradisi Islam, menulis adalah sebuah keniscayaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ
“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”[4]
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
لا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ
“Janganlah kalian menulis dariku, dan barang siapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an maka hapuslah.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri)
Secara eksplisit, hadits ini menunjukkan bahwa tradisi menulis di dalam Islam sudah dimulai sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejak Al-Qur’an diturunkan, Nabi telah memerintahkan para sahabat untuk menulisnya, selain menghafalnya. Adapun alat yang digunakan untuk menulis wahyu pada saat itu masih sangat sederhana. Para sahabat menulis Al-Qur’an pada ‘usub (pelepah kurma), likhaf (batu halus berwarna putih), riqa’ (kulit), aktaf (tulang unta), dan aqtab (bantalan dari kayu yang biasa dipasang di atas punggung unta).[5]
Setelah memenangkan Perang Badar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan kebijakan pasca perang yang menunjukkan keseriusan beliau dalam membangun generasi Islam yang melek huruf. Selain mengambil tebusan untuk para tawanan, Nabi juga menawarkan pilihan lain: Setiap dari mereka yang tidak mampu menebus dirinya, diminta untuk mengajar baca dan tulis bagi sepuluh anak-anak Madinah sebagai ganti tebusannya.[6]
Seterusnya, tradisi menulis ilmu dan menyebarkannya telah menjadi bagian penting dari dakwah Islam dari zaman ke zaman sampai kini dan insyallah sampai nanti. Telah banyak diriwayatkan dari para salaf tentang menjaga ilmu dengan menulis, di antaranya:
Abu Hurairah berkata,
لم يكن أحد من أصحاب رسول الله أكثر حديثاً مني إلا عبد الله بن عمرو بن العاص فإنه كتب ولم أكتب
“Tidak ada sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang lebih banyak mengambil hadis Nabi daripada aku selain Abdullah bin Amr. Adapun dia mencatatnya sedangkan aku tidak.” (HR. Al-Bukhari dan At-Turmudzi)[7]
Sa'id bin Jubair berkata,
كنت أسير مع ابن عباس في طريق مكة ليلا وكان يحدثني بالحديث فأكتبه في واسطة الرحل حتى أصبح فأكتبه
“Aku sedang berjalan bersama Ibnu Abbas di jalan menuju Mekkah pada malam hari, dan dia menyampaikan kepadaku sebuah hadits. Aku menuliskannya di atas pelana unta sampai pagi, dan kemudian aku menuliskannya lagi.”[8]
Abdullah bin Amr berkata,
كنت أكتب كل شيء أسمعه من رسول الله صلى الله عليه وسلم أريد حفظه فنهتني قريش وقالوا: أتكتب كل شيء تسمعه ورسول الله صلى الله عليه وسلم بشر يتكلم في الغضب والرضا! فأمسكت عن الكتاب فذكرت ذلك لرسول الل صلى الله عليه وسلم فأومأ بأصبعه إلكتب فوالذي نفسي بيده ما يخرج منه إلا حق.
"Aku menulis setiap yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk aku hafalkan. Lalu kaum Quraisy melarangku dan berkata, 'Apakah kamu menulis semua yang kamu dengar dari Rasulullah, sedangkan beliau adalah manusia yang berbicara dalam keadaan marah maupun senang?' Maka aku pun berhenti menulis hingga aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun menunjuk ke mulutnya dengan jarinya seraya berkata, 'Tulislah! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah keluar dari mulutku kecuali kebenaran.'" (HR. Abu Daud dan Ahmad)[9]
Abu Zinad berkata,
كنا نكتب الحلال والحرام وكان ابن شهاب يكتب كل ما سمع فلما احتيج إليه علمت أنه أعلم الناس
“Dahulu kami menuliskan hal yang halal dan haram, sedangkan Ibnu Syihab menuliskan semua hal yang dia dengar. Ketika aku membutuhkannya, aku tahu bahwa dia adalah orang yang paling berpengetahuan.”[10]
Ad-Dhakhak rahimahullah berkata,
إذا سمعت شيئا فاكتبه ولو في حائط
"Jika kamu mendengar sesuatu, tulislah, meskipun di dinding." (Diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi)[11]
Anas radhiyallahu 'anhu berkata kepada anak-anaknya,
يا بني قيدوا العلم بالكتاب
"Wahai anak-anakku, ikatlah ilmu dengan menuliskannya." (Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dan Al-Khatib Al-Baghdadi)[12]
Dengan demikian, tidak mengherankan jika pada abad-abad berikutnya telah tertulis banyak sekali manuskrip dalam berbagai disiplin ilmu dan menjadi warisan yang tidak terhingga sampai dengan saat ini.
Berdakwah dengan Tulisan
Dakwah adalah menyeru untuk mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Manusia sangat membutuhkan dakwah sekaligus bertanggung jawab terhadap keberlangsungan dakwah.[13] Di antara sarana untuk memenuhi kebutuhan dan tanggung jawab tersebut adalah dakwah dengan tulisan. Berikut ini beberapa poin penting yang patut disimak seputar dakwah dengan tulisan:
Pertama, Dicontohkan oleh Nabi dan Para Salaf
Dakwah melalui tulisan telah dilakukan sejak zaman Nabi, bahkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Ketika suasana damai pasca Perjanjian Hudaibiyah, Nabi memanfaatkannya untuk berkirim surat kepada para penguasa di Jazirah Arab dan sekitarnya. Tercatat dalam sejarah beliau pernah mengirimkan surat kepada Najasyi (Raja Habasyah), Muqauqis (Raja Mesir), Kisra (Raja Persia), Heraklius (Raja Romawi), Al-Harits bin Abu Syamr (Raja Ghasan), dan beberapa penguasa lain. Tidak semua dakwah itu berhasil mengislamkan raja-raja tersebut, tetapi kebanyakan menghasilkan hubungan diplomatik yang sangat baik untuk perkembangan Islam ke depan.[14]
Seruan dakwah tertulis juga pernah dilakukan oleh Abu Bakar kepada orang-orang yang Murtad setelah wafatnya Nabi. Kepada 11 panglima batalyon yang memimpin pasukan ke berbagai negeri, Abu Bakar membekali surat kepada penduduk negeri-negeri tersebut agar kembali kepada Islam. Surat tersebut berisi peringatan, kabar gembira, dan juga ancaman bagi mereka yang murtad dari agama Allah.[15] Seruan tertulis juga dikirimkan oleh Abu Bakar dan para khalifah setelahnya kepada para gubernur mereka, baik dalam bentuk penugasan, peringatan, maupun selainnya.
Dakwah melalui surat juga banyak dilakukan oleh para ulama. Contohnya Imam Hasan al-Bashri, seorang tabi'in terkemuka. Beliau menulis banyak surat yang berisi nasihat agama dan motivasi kepada pemimpin maupun umat untuk menjalankan ajaran Islam. Di antara isi surat beliau kepada Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz adalah, “Ketahuilah, wahai Amirul Mukminin, bahwa Allah telah menjadikan imam yang adil sebagai penegak bagi setiap yang miring, penekan bagi setiap yang zalim, perbaikan bagi setiap yang rusak, kekuatan bagi setiap yang lemah, keadilan bagi setiap yang terzalimi, dan tempat berlindung bagi setiap yang putus asa. Imam yang adil, wahai Amirul Mukminin, seperti gembala yang penyayang terhadap kambingnya, yang selalu mendampinginya, yang mencarikan padang rumput terbaik untuknya, yang menjauhkannya dari padang rumput yang berbahaya, yang melindunginya dari binatang buas, serta yang menjaganya dari panas dan dingin. Imam yang adil, wahai Amirul Mukminin, seperti ayah yang penyayang terhadap anaknya, yang mengurus mereka ketika masih kecil, dan mendidik mereka ketika sudah dewasa, yang mencari nafkah untuk mereka selama hidupnya, dan yang menabung untuk mereka setelah kematiannya.”[16]
Seterusnya dakwah tertulis semakin berkembang dengan beredarnya makhthuthat (manuskrip), baik yang ditulis langsung seorang Syekh maupun yang ditulis oleh murid-muridnya atas imla’ (dikte) sang Syekh. Manuskrip-manuskrip itu beredar di kalangan ahli ilmu maupun disimpan di perpustakaan kerajaan yang diserap ilmunya oleh para penuntut ilmu dari masa ke masa. Konon jumlahnya mencapai ratusan juta manuskrip dan baru sebagian kecil saja yang diteliti dan diterbitkan di tengah-tengah umat dewasa ini.
Kedua, Memiliki Keunggulan Tersendiri
Selain untuk menjaga ilmu dari lupa dan hilang, para ulama telah membuktikan bahwa tulisan dapat menjadi media dakwah yang efektif. Tulisan memiliki banyak kelebihan dibandingkan dakwah dengan cara ceramah atau pengajaran langsung, di antaranya:
- Penulis memiliki waktu untuk menyusun argumen, mengembangkan ide, dan menulisnya secara terstruktur.
- Tulisan yang baik akan mengurangi risiko kesalahpahaman karena pesan dapat dirujuk kembali dan diperiksa secara rinci.
- Tulisan bisa menjadi sumber otoritatif yang dirujuk berulang kali oleh generasi berikutnya.
- Pembaca dapat memahami pesan secara sistematis karena tulisan lebih terorganisasi dibandingkan komunikasi lisan. Tidak seperti dakwah lisan yang bisa diubah oleh ingatan manusia, tulisan mencatat pesan dengan lebih presisi.
- Tulisan memungkinkan pembaca memahami pesan dakwah secara pribadi sesuai kebutuhan mereka tanpa bergantung pada waktu tertentu dan tanpa tekanan.
- Tulisan dapat dibaca ulang, sehingga memberi kesempatan pembaca untuk merenungi dan mendalami materi yang disampaikan.
- Tulisan dapat bertahan dalam waktu yang sangat lama dan terus memberikan manfaat bahkan setelah penulisnya wafat. Ribuan bahkan jutaan orang dapat mengambil manfaat dari sebuah tulisan. Hal ini tentu saja merupakan amal jariyah yang tiada tara, insyaallah.
- Tulisan dapat menjangkau orang-orang di berbagai tempat yang tidak bisa dijangkau oleh da’i secara langsung. Hal ini tentu saja bisa menghemat waktu dan tenaga.
- Dakwah melalui tulisan dapat dibuat beragam, misalnya berupa: buku, artikel, blog, jurnal, pamflet, atau unggahan di media sosial. Hal ini dapat memberikan fleksibilitas untuk menjangkau audiens yang berbeda.
Ketiga, Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan
Agar berbagai kelebihan dakwah tertulis di atas dapat dicapai, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berdakwah melalui tulisan, di antaranya sebagai berikut:
- Ikhlaskan niat. Pastikan bahwa tujuan dakwah adalah untuk menyampaikan kebenaran dan mengajak kepada kebaikan karena Allah, bukan karena mencari popularitas atau keuntungan duniawi.
- Fokuslah pada hal-hal mendasar yang dibutuhkan umat, yaitu memperbaiki agama mereka dan menjauhkan mereka dari hal-hal yang mengancam agama mereka.
- Tulisan harus memiliki landasan ilmu yang kuat, didasari dalil-dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan perkataan para ulama Ahlus Sunnah. Hindari menyampaikan sesuatu yang belum jelas kebenarannya atau masih diperdebatkan tanpa penjelasan yang memadai. Gunakan referensi yang tepercaya.
- Gunakan bahasa yang santun dan mudah dipahami oleh mad’u. Hindari istilah-istilah yang sulit jika sasarannya adalah masyarakat umum.
- Dakwah dengan tulisan sebaiknya tidak bersifat menghakimi, tetapi lebih kepada memberi nasihat dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang. Fokuslah pada solusi, bukan sekadar menyoroti kesalahan.
- Kenali sasaran pembaca yang dituju, sehingga tulisan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, latar belakang, dan tingkat pemahaman mereka.
- Jika dakwah dilakukan melalui media sosial atau kanal online, pastikan tulisan sesuai dengan etika digital, seperti menghormati hak cipta, menghindari fitnah, dan tidak menyebarkan hoaks.
Keempat, Hal-Hal yang Harus Disiapkan
Setelah memahami hal-hal yang harus diperhatikan dalam dakwah melalui tulisan di atas, berikut adalah hal-hal yang harus disiapkan sebelum terjun berdakwah melalui tulisan.
- Pengetahuan yang memadai. Seorang yang ingin berdakwah melalui tulisan harus memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. Ia harus lebih banyak membaca dan meneliti tentang topik-topik yang akan ditulisnya, mencari referensi-referensi tepercaya dari tulisan para ulama terdahulu, dan melengkapi dirinya dengan berbagai pengetahuan yang dibutuhkan.
- Kemampuan menulis yang baik. Seorang yang berdakwah melalui tulisan harus memiliki kemampuan menulis yang baik, di antaranya: tulisan terorganisir dengan baik, bahasa komunikatif, pesan yang disampaikan jelas, dan kreatif dalam penyajian.
- Pemilihan media publikasi. Di era modern seperti sekarang ini, penulis harus memperhatikan media publikasi apa yang akan dia gunakan untuk menyebarluaskan tulisannya. Setiap media publikasi seperti buku, majalah, buletin, pamflet, blog, situs web, atau media sosial memiliki corak dan gaya tersediri yang harus diperhatikan.
- Menjaga etika kepenulisan. Tulisan dakwah harus mencerminkan akhlak penulis yang sesuai dengan ajaran Islam. Beberapa poin penting dalam menjaga etika kepenulisan di antaranya: menghindari plagiarisme, menjaga kredibilitas sumber, mengutamakan kejujuran, serta menjaga akhlak dan adab dalam berkomunikasi melalui tulisan.
Inspirasi dari Para Ulama
Ada ungkapan yang mengatakan bahwa menulis dapat memperpanjang umur seseorang. Ini adalah kiasan yang bermakna bahwa dengan tulisan, seseorang masih terus akan hidup, berperan serta, dan menginspirasi di tengah-tengah umat meskipun ia telah meninggal dunia sejak lama. Hal ini sama sekali tidak berlebihan jika kita memperhatikan contoh-contoh berikut ini.
- Imam Al-Bukhari yang wafat pada tahun 256 H dikenal memiliki banyak karya. Salah satu karya monumentalnya, Al-Jami' Ash-Shahih, telah menjadi rujukan utama umat Islam setelah Al-Qur’an sampai dengan saat ini, hampir 1.200 tahun setelah wafatnya.
- Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari yang telah wafat pada tahun 310 H (923 M) dikenal meninggalkan manuskrip ilmiah sekitar 350.000 lembar sepanjang hidupnya yang mencapai usia 86 tahun. Sampai kini, 1.100 tahun lebih kemudian, karya-karya beliau masih terus dibaca dan diteliti oleh para penuntut ilmu.
- Ibnu Taimiyah yang wafat pada tahun 728 (1328 M) telah meninggalkan karya lebih dari 500 kitab. Kitab-kitab itu masih terus dibaca dan diteliti hingga saat ini, lebih dari 700 tahun setelah wafatnya.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani yang wafat pada tahun 852 H (1449 M) telah meninggalkan sekitar 150 kitab. Karya beliau, seperti Bulughul Maram dan Fathul Bari, masih terus dibacakan dan dipelajari sampai sekarang, hampir 600 tahun setelah wafatnya.
- Imam As-Suyuthi yang wafat pada tahun 911 H (1505 M) meninggalkan sekitar 500 kitab. Karya beliau seperti Tafsir Jalalain masih terus dipelajari sampai sekarang, lebih dari 500 tahun setelah wafatnya.
Beberapa contoh di atas menunjukkan betapa dahsyatnya pengaruh dakwah melalui tulisan. Karya-karya para ulama tersebut tidak hanya menjadi sumber ilmu dan inspirasi bagi generasi setelahnya, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa tulisan dapat memperpanjang peran dan pengaruh seseorang jauh melampaui batas usia kehidupannya. Selain memberikan manfaat yang luar biasa bagi umat Islam di berbagai tempat dan zaman, karya-karya tersebut, insyaallah, juga menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan pahala kepada para pemiliknya. Hal ini sekaligus mengingatkan kita akan pentingnya memanfaatkan potensi tulisan sebagai media untuk menyebarkan kebaikan dan ilmu yang bermanfaat.
Penutup
Alasan, motivasi, cara, hingga inspirasi sedemikian bertabur dalam paparan di atas. Semoga makin tergeraklah hati kita untuk menggoreskan tinta ilmu, agar umat ini senantiasa diterangi oleh cahaya Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas pemahaman shahih para salaful ummah.
Referensi:
- Al-Albany, Muhammad Nashiruddin. 1408 H/ 1988 M. Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir Wa Ziyadatuhu. Beirut:Al-Maktab Al-Islamy.
- Al-Mawardi. Ali bin Muhammad. 1407 H/1978 M. Adabu Ad-Dunya wa Ad-Din. Beirut: Daar Al-Kutub Al-Ilmiyyah. Versi Pdf dapat dilihat di: https://shorturl.at/XaDY1
- Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 1997. Sirah Nabawiyah. Penerjemah: Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
- As-Sulami, Muhammad bin Shamil. 1422 H/2002 M. Tahdzib wa Tartib Kitab Bidayah Wan Nihayah. (Edisi Indonesia Al-Bidayah Wan Nihayah: Masa Khulafaur Rasyidin Ibnu Katsir. Penerjemah: Abu Ihsan Al-Atsari). Jakarta: Darul Haq.
- Ibnu Abdil Bar, Yusuf. 1435 H. Jami’u Bayani Al-Ilmi wa Fadlihi. Damam: Daar Ibnu Al-Jauzy. Versi PDF dapat dilihat di: https://shorturl.at/busoT
- Pakhrujain & Habibah. 2022. Jejak Sejarah Penulisan Al-Qur’an. Mushaf Journal: Jurnal Ilmu Al Quran dan Hadis. Vol. 2 No. 3 Desember 2022, hlm. 224-231.