Berlabuh Bersama Ilmu
Reporter: Loly Syahrul
Editor: Hilyatul Fitriyah
Tak ada yang tahu di mana dan kapan takdir Allah mempertemukan dua hati yang saling mencari. Kadang pertemuan itu tampak begitu sederhana, tanpa isyarat apa pun. Namun, justru menjadi awal dari takdir yang luhur. Jodoh misalnya, hanya Allah yang Maha Mengetahui kapan dan bagaimana ia akan terwujud.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.” [QS. Ar-Rum: 21]
Akhuna Rachmat dan Ukhtuna Nita tak pernah menyangka bahwa keputusan sederhana untuk belajar tauhid di HSI akan menjadi titik awal yang mengantarkan ke gerbang pernikahan mereka. Pada bulan Desember tahun lalu, menjadi momen yang tak akan pernah terlupa, keduanya pun resmi menjadi sepasang suami istri. Dari yang awalnya sama-sama menuntut ilmu di HSI, kini mereka belajar bersama dan melangkah seiring dalam ikatan yang suci.
Belajar Bersama, Tumbuh Bersama
Sejak awal, keduanya sepakat bahwa ilmu adalah fondasi utama dalam membangun keluarga. Rumah tangga bagi mereka bukan sekadar tempat bernaung, melainkan ladang untuk terus saling mengingatkan dalam kebaikan serta mengumpulkan bekal di akhirat kelak. Itulah sebabnya, setelah menikah, Akh Rachmat dan Ukh Nita tidak lantas berhenti menuntut ilmu. Mereka tetap aktif belajar di HSI bahkan rajin menghadiri berbagai daurah.
Meski mengaku lebih sering belajar sendiri-sendiri, semangat keduanya tidak pernah surut. Justru, pernikahan menjadi penyemangat baru agar kobaran bara api menimba ilmu tak padam. “Masih sendiri-sendiri dan jarang kerja sama muraja’ah. Pernah sharing catatan, tapi biasanya setelah kajian,” ujar Akh Rachmat.
Ukhtuna Nita menambahkan, “Iya, kami memang lebih sering belajar masing-masing. Kadang saling mengingatkan, tapi untuk sharing catatan itu biasanya setelah kajian atau habis ikut daurah bareng.”
Bagi keduanya, belajar bersama pasangan adalah kenikmatan tersendiri. “Setuju, karena makin semangat, juga tambah senang. Ke mana-mana ada barengannya, dan bisa jadi topik pembahasan saat berdua,” kata Akh Rachmat.
“Setuju banget,” sambung Ukh Nita. “Belajar bareng bikin semangat, jadi lebih bahagia juga. Kalau ada yang belum paham, bisa saling bantu. Jadi sama-sama belajar, yang satu mungkin sudah tahu, yang lain kurang paham, jadi saling melengkapi dan begitu sebaliknya,” sambungnya kemudian.
Ketika salah satu merasa lelah atau kehilangan semangat dalam belajar, ternyata pernikahan mereka menghadirkan pasangan yang siap menjadi penguat. Ketika ditanya apa ada saat-saat futur hingga malas menuntut ilmu, Akhuna Rachmat dan Ukhtuna Nita menceritakan pengalamannya. “Ada, ketika ana sedang down, istri mengingatkan dan memotivasi dengan sihir halal, yaitu rayuan,” seloroh Akh Rachmat.
Ukhtuna Nita tak mau kalah. Ia menimpali, “Kalau ana lagi malas belajar, suami suka mengingatkan, bahkan ngajak belajar bareng biar ikut termotivasi juga. Kadang dirayu, ditanya mau apa, nanti dibeliin. Siapa yang bisa nolak? Selain dapat sesuatu, jadi ikut senang dan semangat lagi.”
Di balik canda mereka, tersimpan kesungguhan untuk saling bahu-membahu menjaga bara ilmu agar tetap berkobar dalam kehidupan mereka. Rutinitas halaqah, kajian, dan belajar menjadi jembatan yang mempererat kebersamaan mereka dalam menimba ilmu.
Awal Bertemu HSI
Setiap perjalanan memiliki awalnya sendiri. Bagi Akhuna Rachmat, kisahnya dimulai dari keluarga. “Dulu, ana tahu HSI dari kakak ipar yang memberitahu abang ana. Jadi abang ana menjelaskan ke keluarga sampai ke orang tua. Alhamdulillah ana terus tertarik dan ikut mendaftar. Ana Angkatan 202,” kenangnya.
Sementara Ukhtuna Nita menemukan HSI lewat unggahan teman di media sosial. “Kalau ana bisa tahu HSI itu dari story teman di IG. Waktu itu, reminder pembukaan angkatan ke berapa gitu, masih Covid, ana lupa tahun 2020 atau 2021. Sebenarnya ana belum tahu HSI itu platform belajarnya akan seperti apa. Hanya karena memang lagi ingin menimba ilmu agama, lagi haus banget ilmu, fase-fase awal hijrah begitu. Jadinya pas pembukaan itu, ana langsung daftar,” tuturnya. Ukhtuna Nita tercatat sebagai santri Angkatan 221.
Sejak itu, keduanya menapaki jalan ilmu masing-masing, tanpa saling mengenal sebenarnya. Siapa sangka, atas izin Allah HSI menjadi wadah yang akhirnya mempertemukan mereka dalam sebuah biduk rumah tangga dan semoga Allah ridhoi rumah tangga keduanya hingga akhir hayat. Aamiin.
Jalan Ta’aruf melalui Program Sakinah
Setelah bergabung dengan HSI, Allah menuntun keduanya bertemu dalam program Sakinah, sebuah program ta’aruf yang diselenggarakan Divisi HSI Sakinah khusus bagi santri HSI yang ingin mencari pasangan dengan cara syar’i.
Bagi Akhuna Rachmat, keputusan ikut Sakinah sudah ia niatkan sejak awal untuk mencari pasangan hidup yang sejalan terutama dalam beragama. “Tujuannya jelas yaitu mencari jodoh yang satu manhaj dan satu pemahaman dalam beragama, lewat jalan yang Allah ridhai tentunya, yaitu ta’aruf,” ujarnya.
Sementara Ukhtuna Nita menyambut program itu sebagai bentuk ikhtiar. “Sebelum ikut Sakinah, memang sudah niat ingin sekali menikah. Eh, pas banget waktu itu Sakinah buka pendaftaran. Ana anggap ini jalan dari Allah buat menemukan jodoh yang sevisi,” ungkapnya terdengar penuh syukur.
Proses ta’aruf pun berlangsung sederhana. Dengan panduan tim dari Divisi Sakinah, mereka berdua melakukan tanya jawab dalam proses mediasi untuk lebih saling mengenal. Mereka berdiskusi seputar prinsip hidup, visi keluarga, hingga kesiapan berumah tangga. Setelah kian mantap dan atas tuntunan Allah dari doa-doa yang mereka panjatkan, terutama dalam shalat-shalat istikharah, mereka sepakat untuk melaju ke jenjang pernikahan.
“Alhamdulillah semuanya berjalan dengan adab. Tidak ada obrolan berlebihan, tidak ada pertemuan tanpa tujuan. Jadi lebih tenang, lebih berkah, biidznillah,” tutur sang istri.
Jangan Menunda Menikah
Di akhir obrolan, pasangan ini menitipkan pesan untuk para santri HSI lainnya terutama yang masih jomblo alias belum menikah.
Akh Rachmat menuturkan pesannya, “Motivasinya dengan ingat tujuan penciptaan manusia juga melihat banyaknya fitnah yang membuat kita bisa goyah iman, maka menikahlah segera dengan cara yang baik dan juga mempunyai tujuan yang mulia, yaitu masuk surga bersama pasangan.”
Sementara Ukh Nita mengatakan, “Motivasi belajar tauhid bukan hanya untuk mengenal Allah tapi juga mengenal diri kita sendiri. Karena di sanalah kita belajar bahwa segala yang kita cari sebenarnya sudah ada dalam genggaman Allah. Saat hati mengenal-Nya, ia akan mengerti arah hidupnya, ingin dijaga, disucikan, dan diridhai. Dari sanalah lahir keinginan untuk menjemput pernikahan agar terhindar dari zina, menjaga pandangan, dan menempuh jalan menuju surga dengan cara yang Allah cintai.”
Rumah Tangga dari Majelis Ilmu
Setelah perjalanan ta’aruf dan pernikahan yang saat ini mereka jalani, kini keduanya mantap untuk menatap masa depan dengan semangat yang sama, yaitu semangat menuntut ilmu dan berkhidmat kepada Allah.
Dalam pandangan keduanya, keluarga yang kokoh berawal dari majelis ilmu. HSI bukan hanya tempat belajar, tapi juga ruang tumbuh dan menemukan arah hidup. “Kalau bukan karena sama-sama belajar di HSI, mungkin kami nggak akan saling mengenal,” ujar Ukh Nita.
Akh Rachmat menimpali, “Ana berharap semoga keluarga kami bisa menjadi keluarga pembelajar. Dari HSI, semoga terus berlanjut ke halaqah-halaqah nyata di rumah, mudah-mudahan bisa bersama anak-anak nanti, biidznillah.”
Mereka yakin, ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bekal untuk menyiapkan dan mendidik generasi berikutnya agar tumbuh dalam cahaya tauhid.
Bagi pasangan ini, menuntut ilmu bukan sekadar kewajiban, tetapi nafas kehidupan yang ingin mereka jaga bersama hingga akhir. Karena bagi mereka, berlabuh bersama ilmu adalah cara terindah untuk menjemput ridha Allah, biidznillah..