Berdakwah Sunnah di Media Nasional
Reporter: Anastasia Gustiarini
Redaktur: Hilyatul Fitriyah
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤
Artinya: Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. [QS. Ali Imran : 104]
MasyaAllah, sungguh berdecak kagum kala membaca Curriculum Vitae (CV) milik Ukhtuna Afriza Hanifah. Bayangkan enam lembar berisikan profil berbagai prestasi, penghargaan, pengalaman kerja, karya, maupun aktivitas positif lainnya yang digelutinya.
Wanita kelahiran Tegal, 22 September 1989 ini merupakan penulis profesional yang juga menjadi penggerak literasi.
Pemilik NIP ART211-54075 mengawali karir menulis sejak tahun 2011 dengan portofolio beragam jenis karya tulis seperti penulisan jurnalistik, penulisan konten termasuk optimasi mesin pencari, esai, artikel, opini, serta penulisan buku baik buku dewasa maupun buku anak dengan fokus genre nonfiksi serta spesialis penulisan tema Islam dan Sejarah Islam.
“Ana sudah suka menulis sejak kecil. Namun sebatas menulis surat untuk teman ataupun menulis buku harian. Baru benar-benar menulis karya yang dibaca khalayak pada saat SMA. Saat itu, ana menjadi penulis buletin islami yang diterbitkan ROHIS,” kenangnya.
Menyelipkan Dakwah Sunnah
Ukhtuna Afriza mengisahkan bahwa ia mulai menulis secara profesional sejak menjadi jurnalis Republika di tahun 2011. Selesai lulus jenjang sarjana di Universitas Indonesia (UI) Program Studi Arab, ia menjadi salah satu reporter di bagian penulisan berita baik hardnews maupun softnews.
Ia juga pernah memegang rubrik antara lain Kabar Kota Jabodetabek, Kabar Jawa Tengah dan DIY, serta Rubrik Internasional. “Posisi terakhir saya dipercaya sebagai penulis utama rubrik Islam Digest,” tuturnya.
Saat menjadi penulis di rubrik Islam Digest inilah kali pertama Afriza mendapatkan momen berkesan karena usulannya untuk menulis tema terorisme disetujui oleh pihak redaktur. Padahal sebelumnya sebagai reporter, ia hanya menerima usulan tema dari redaktur saja.
Lulusan sarjana dengan peminatan Sejarah dan Budaya Timur Tengah UI ini mengingat betul bahwa satu rubrik penuh ia isi dengan berbagai referensi sunnah, “saya sadar bahwa saya berada di sana (media nasional) dan saya manfaatkan untuk berdakwah. Saya selipkan dakwah di rubrik itu. Caranya yaitu setiap tulisan yang saya tulis berdasar dari referensi kitab–kitab sunnah, buku, artikel maupun tulisan dari beberapa ulama sunnah," terangnya.
Menurut Ukhtuna Afriza, pada tahun 2012 hingga 2013 dakwah sunnah masih terbilang jarang. Para dai dari kalangan sunnah pun masih sangat asing di telinga masyarakat. Namun dengan izin Allah, ia memiliki kekuatan untuk menuliskannya sesuai dengan syar'i. Hal itu diakuinya tidak terlepas dari keistimewaan dakwah sunnah yang memang ilmiah.
“Tidak ada dakwah yang sekuat referensinya seperti dakwah sunnah, karena berdasar dalil Al Quran dan As sunnah. Tentu diterima, tidak ada yang menolaknya,” tegasnya
Bahkan pada rubrik tersebut, ia juga mencantumkan beberapa profil ulama sunnah terkemuka seperti Syeikh Abdul Wahhab dan Syeikh Utsaimin. Saat menceritakan kembali memori ini, ia bahkan sampai berdecak kagum mengingat kebesaran Allah atas keberhasilannya menulis di media nasional yang notabene diakuinya jauh dari sunnah.
Bersaing dengan Mahasiswa Timur Tengah
Hal prestisius lainya yang dikenang Ukhtuna Afriza di antara sederet prestasi kejuaran yang pernah ditorehnya yaitu memenangkan Juara 1 Kategori Umum Lomba Menulis Sirah Nabawiyyah. Tak tanggung-tanggung, yang menjadi pesaingnya adalah mahasiswa Al Azhar Kairo serta para mahasiswa yang menempuh pendidikan di Timur Tengah sana.
Tentu saja, tak dipungkiri lagi pesaingnya jelas memiliki skill serta ilmu yang mumpuni. Mereka juga merupakan calon–calon dai yang memang ditempa menyampaikan ilmu. Sedangkan ia hanya menimba ilmu secara mandiri baik dari kitab–kitab maupun dari ceramah ustadz mengenai materi Sirah.
Alhamdulilah atas karunia Allah, ia bisa menjadi juara pertama. Topik yang diangkat kala itu ialah tentang Pendidikan Rasullullah seperti bagaimana Rasulullah mendidik para sahabat.
Ukhtuna Afriza menuturkan bahwa kondisinya sebagai ibu membuatnya lebih peduli akan pendidikan. Menurutnya, tak ada yang bisa menandingi metode pendidikan Rasulullah sehingga inilah yang menjadi motivasinya untuk dapat menerapkan parenting nabi. Salah satunya dengan cara mempelajari Sirah.
Sirah menjadi kecintaannya selain menulis. Ia bahkan membentuk sendiri program “Berkisah Sirah”sejak 2018. Ia menjadi founder menginisiasi gerakan sosial yang mengedukasi para orang tua agar rajin berkisah di rumah untuk anak-anak, menulis konten dan materi berkisah untuk anak-anak.
Torehan Karya
Kecintaannya kepada anak juga dibuktikan dengan melahirkan berbagai karya buku anak. Terhitung sejak tahun 2021, sudah lebih dari 15 buku yang ditulisnya, di antaranya :
- Seri Loving the Prophet; Pohon yang Menangis-The Crying Tree (Bilingual); Penerbit Ahlan (2023).
- Shahabat Nabi & Ayahnya; Maskana Kids - Pustaka RMA (2022).
- Seri Anak Hebat - Aku Sayang Adikku; Noura - Mizan Grup (2018).
Adapun, buku untuk kalangan dewasa yang juga tak kalah dihasilkannya, di antaranya :
- Antologi "Jejak-jejak Mas Gagah" menulis bersama Helvy Tiana Rosa pada tahun 2015.
- “Sepintal Janji” dalam antologi "Jodoh Pasti Bertamu" bersama @akukaudankua (Indiva Media Kreasi; 2016).
- “Bangkit dari Kritik” dalam antologi "Assalamu’alaikum, Cantik!" Bersama Muslimahdaily.com (Quanta) pada tahun 2017.
- "Luluskah Anak Kita di 1000 Hari Pertama Kehidupan Mereka? Cek Rapor Anak Yuk!" dalam antologi "1000 Hari Pertama Ananda" (Kementerian Komunikasi dan Informatika & Good News from Indonesia) pada tahun 2018.
- Buku berjudul "Baba; Bonding Ayah dengan Anak" terbitan Maskana Kids (Pustaka RMA) launcing pada tahun 2022.
- Terkahir, editor untuk Quranic Insights for Entrepreneur; Amzah penerbit Bumi Aksara pada tahun 2023.
Tak hanya buku hardcopy, karya e-book yang dihasilkannya antara lain:
- Buku Atasi Speech Delay "Mobil Merah dan Boneka Beruang" (e-book terbitan Peduli Speech Delay, 2024).
- "Ketika Pipin Ingin Pintar" (e-book anak terbitan CH Mellifera - Hexagon City, Institut Ibu Profesional, 2022).
- "Andai Aku jadi Penyelam" (e-book anak melalui komunitas Ibu Profesional Depok, 2020)
- "101 all about Pernikahan Syar'i" (e-book muslimahdaily. Sebagai tim penulis dan editor, 2020).
- Keahliannya sebagai penulis juga dibuktikannya dengan memegang sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor (LSP-PEP) sebagai Penulis Profesional Skema Nonfiksi sejak Tahun 2023.
Selain itu, ia pun sudah sering dipercaya sebagai pembicara dan pelatih dalam berbagai kegiatan, seperti :
- Tema "Basic Writing For Muslimah" dengan penyelenggara Muslimahdaily (2019).
- Tema "Semua Bisa Berkisah, Semua Bisa Read Aloud" untuk kelas ibu belajar dengan penyelenggara Penerbit Maskana Kids (2022).
- Tema "Read Aloud & Storytelling Tema Sirah Nabawiyyah" dengan penyelenggara Penerbit Maskana Kids (2023).
Tugas Menjadi Ibu Lebih Utama
Di tengah berbagai kesibukannya, ternyata juga membawa cerita tersendiri bagi ibu dari tiga anak ini. Setelah ia mengundurkan diri dan memutuskan untuk tidak lagi menjadi jurnalis di media nasional, ia hanya bekerja sebagai freelance writer di rumah.
Rasa keibuannya mulai mencuat saat ia merasa pernah menelantarkan anak-anak di tengah kepadatan jadwalnya. “Padahal saya sudah di rumah, karena fitrahnya wanita memang di rumah, tapi saat itu saya sempat sibuk dan anak-anak tidak terurus,” curhatnya.
Dari sana lah, ia pun mulai berbenah dan berkomitmen bahwa ia tidak akan menulis kala anak–anak terbangun, dan akan menulis kembali di kala mereka tertidur, sehingga ia tidak mengambil hak mereka bersama ibunya.
Amal Jariyah
Ukhtuna Afriza menuturkan kecintaannya kepada dunia tulis menulis tak lain termotivasi karena ingin menjadi bagian dari sarana dakwah dan mendapat keutamaan memperpanjang usia. Sebagaimana dalil dalam sebuah hadits yang mengatakan bahwa salah satu amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun sudah meninggal adalah ilmu yang bermanfaat.
“Melalui tulisan, ana ingin menebar kebaikan sebanyak-banyaknya agar kelak kebaikan itu semoga menjadi penerang di alam barzah. Ana punya kalimat reminder untuk diri setiap kali menulis yaitu menulis bisa menjadi amal jariyah atau dosa jariyah. Karena itu, jangan pernah menulis kecuali kebaikan," seru pemegang skor TOEFL 540 dan TOAFL (Arabiya) 530 ini
Mengenal Sunnah Sejak Tahun 2005
Ukhtuna Afriza menuturkan bahwa ia mendapat hidayah Allah untuk belajar agama sebenarnya sejak ia mengenyam bangku Sekolah Menangah Atas (SMA). Namun kala itu, di tahun 2005 masih sedikit sekali taklim dan kajian sunnah. Kota tempatnya tinggal tidak memiliki ustadz sunnah. Namun ada kajian Kitab Fiqih Taisirul Allam Syarh Umdatul Ahkam sekitar satu atau dua kali dalam sebulan yang dibawakan oleh ustadz sunnah dan kajian sunnah inilah pertama kali yang diikutinya, bukan kajian tentang tauhid.
Mengenakan pakaian syari dengan jilbab panjang juga diungkapkan founder Peduli Speech Delay ini dilakukan sejak SMA. Keinginanya menuntut ilmu agama lebih dalam lagi bahkan diniatkannya selepas SMA untuk mondok di pesantren sunnah.
Namun, saat itu qaddarullah orang tua tidak mengizinkannya dan menginginkan sang buah hati untuk meneruskan ke jenjang universitas. Tak putus asa, Ukhtuna Afriza pun lekas mencari program studi yang tidak jauh dari ilmu agama. Akhirnya, pilihannya jatuh kepada Program Studi Arab dengan Peminatan Sejarah dan Budaya Timur Tengah.
Ia bahkan mendapatkan IPK 3,52 dengan predikat cumlaude. Berkat prestasi akademiknya, tercatat di tahun 2007 hingga 2009 ia mendapatkan beasiswa berprestasi dari Universitas Indonesia dan tahun 2010 hingga 2011 mendapatkan Beasiswa Mahasiswa Berprestasi dari Bank Indonesia.
Saat mengenyam bangku perkuliahan, disadari Ukhtuna Afriza bahwa referensi ilmu dan buku–buku yang dijadikan pegangan merupakan referensi umum yang masih banyak terkandung ikhtilaf. Kondisi ini mendorongnya untuk tetap mencari kajian sunnah. Alhamdulillah, di Universitas Indonesia terselenggara kajian–kajian sunnah. Hal inilah yang semakin memantapkannya memakai pakaian sesuai syari.
Meski diakuinya di tahun 2007, masih terbilang hitungan saja wanita yang memakai pakaian lebar, panjang, dan gelap. Bahkan, menurut Ukhtuna Afriza, baru ia seorang diri yang memakai pakaian syari baik di asrama tempatnya tinggal, di fakultas, maupun di universitas. Alhamdulilah, Allah memberinya kekuatan hingga lambat laun ia pun menemukan teman yang mengikuti jejaknya dalam berpakaian.
Tak sampai di situ, Ukhtuna Afriza melanjutkan keteguhan menjalankan syariah bahkan hingga di tempat kerjanya yaitu di media nasional Republika. Menurutnya, dunia reporter yang notabene tak jarang dipenuhi deadline dan tugas mengejar pemberitaan, terkadang membuat seseorang terlalaikan dari kewajiban shalat.
Namun, lain halnya bagi Ukhtuna Afriza. Bahkan dengan penampilannya dan tindak tanduknya sebagai muslimah, justru membuat para narasumber mengira bahwa ia bukanlah seorang wartawan yang akan meliput melainkan utusan dari yayasan pemberi bantuan atau donasi.
Bahkan, tak hanya itu, mentornya di kantor pernah berucap bahwa penampilannya tersebut lebih cocok sebagai guru mengaji. Namun tak disangka, pakaian inilah yang justru kemudian menjadi pelindung baginya. Hanya beberapa bulan saja ia diharuskan turun ke lapangan, selanjutnya ia dipercayai memegang Rubrik Internasional yang sebagian besar tugasnya menerjemahkan tulisan. Tak pelak, kondisi ini pun bisa dilakukan di kantor atau bahkan di rumah. Hanya satu atau dua kali saja yang mengharuskannya meliput di Kementrian Luar Negeri.
Bahkan, penjagaan Allah dirasakan kembali olehnya, kala ia dipercaya memegang Rubrik Islam Diggest yang memiliki circle atau ranah lingkungan pencarian berita berada di sekitar Islam.
Penjagaan itu dirasa makin sempurna kala Allah hadirkan seorang ikhwan yang meminangnya, “Alhamdulilah, setelah menikah ana bisa keluar dari perkerjaan dan mendapat perlindungan seutuhnya dari suami. Walaupun ana sudah tidak bekerja, ana bahkan juga tetap bisa menulis,” ujarnya.
Berdakwah tak hanya milik seorang dai saja, siapapun dan apapun pekerjaannya bisa mengambil andil dalam bagian syiar Islam lewat harta, tenaga, maupun ilmu yang dimilikinya. Tentunya dengan tetap memperhatikan koridor sesuai Al Quran dan As sunnah. Semoga apa yang telah kita sumbangkan dalam rangka penyebaran dakwah sunnah dan diniatkan karena Allah, menjadi amal jariyah di akhirat kelak. Aamiin.