Belajar dari Ibnu Umar tentang Cara Muamalah dengan Tetangga
Penulis: Azhar Abi Usamah
Editor: Athirah Mustadjab
Didapuk menjadi salah satu sahabat Nabi yang paling berusaha mengikuti sunnah, juga menjadi salah satu penjaga hadits, Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma merupakan figur sahabat pilihan yang patut menjadi teladan. Adz-Dzahabi rahimahullah menyifati beliau, “Seorang imam, mufti, luas ilmunya dan sangat berteladan (kepada Nabi) ….. Pernah ditawari untuk menjadi khalifah tatkala peristiwa Tahkim, namun beliau (hanya mau) dengan syarat agar tidak menumpahkan darah seorang pun …..”
Pemuda yang Bersinar
Namanya adalah Abdullah bin Umar bin Khaththab bin Nufail dari bani ‘Adi, salah satu klan dalam kabilah Quraisy. Masuk Islam semenjak kecil di kota Makkah dan ikut dalam perjalanan hijrah ke Madinah saat masih belum dewasa. Pertempuran pertama yang diikuti oleh Abdullah bin Umar adalah Perang Khandaq, tahun 5 H. Sebenarnya Ibnu Umar sudah mencoba untuk mendaftarkan diri pada beberapa kesempatan sebelumnya, hanya saja Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menolaknya lantaran belum cukup usia. Barulah saat Perang Khandaq terjadi, Nabi mengizinkan Ibnu Umar untuk ikut serta, sewaktu usianya sudah genap 15 tahun. Ketika terjadi Baiat Ridhwan tahun 6 H, sahabat Abdullah bin Umar menjadi salah satu peserta termuda di sana.
Dalam hubungan keluarga, Ibnu Umar merupakan ipar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena ia adalah kakak kandung dari ibunda Hafshah radhiyallahu 'anhuma, istri Nabi.
Selain kiprahnya di medan jihad, sinar Abdullah bin Umar juga nampak di dalam berbagai majelis para sahabat dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Seperti biasa, ketika Abdullah bin Umar muda bermajelis bersama para sahabat tua dan Rasulullah, tibalah Nabi bertanya kepada para hadirin, “Sesungguhnya ada sebuah pohon yang tidak pernah gugur daunnya. Pohon itu benar-benar mirip dengan seorang muslim. Coba, sebutkan padaku, pohon apakah itu?” Semua hadirin langsung berpikir bahwa itu adalah pepohonan yang ada di daerah pedalaman (badui). Berbeda dengan para sahabat yang tua, Ibnu Umar yang masih belia bergumam dalam hatinya, bahwa itu adalah pohon kurma. Hanya saja ia merasa malu ketika akan menjawab pertanyaan Rasulullah itu. tiba-tiba para sahabat lain meminta Rasul untuk menyebutkan pohon itu, “Sebutkan kepada kami, pohon apakah itu, wahai Rasulullah!” Nabi bersabda, "Itu adalah kurma.” Setelah majelis usai, Ibnu Umar menceritakan kejadian yang dialaminya tadi kepada sang ayah. Sahabat Umar pun berkata dengan bangga kepada putranya itu, “Jika kau jawab pohon kurma, itu tentu lebih aku sukai dibanding dengan hal ini dan itu .…”
Keistimewaan Abdullah bin Umar juga pernah disebutkan oleh senior beliau, Abdullah bin Mas’ud, saat mengatakan, “Sungguh, di antara pemuda Quraisy yang sangat bisa mengontrol dirinya (hawa nafsu) ialah Abdullah bin Umar. Aku melihat sendiri, saat kami (para senior) masih banyak, tidak ada seorang pemuda pun yang lebih bisa menjaga diri daripada Ibnu Umar.”
Ibunda Aisyah radhiyallahu 'anhuma pun memberikan rekomendasinya, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang sangat meneladani ajaran yang pertama (sunnah Nabi) dibanding Ibnu Umar.”
Kesungguhan dalam Menjaga Hadits
Menjaga hadits dari Rasulullah tidak cukup hanya dengan menghafal, tetapi juga dengan mengamalkannya. Ibnu Umar termasuk sahabat Nabi yang sangat menaruh perhatian dalam mengikuti sunnah, bahkan kebiasaan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam.
Abu Ja’far Al-Baqir rahimahullah pernah menyatakan, “Ibnu Umar ketika mendengar sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan menambahi ataupun menguranginya. Tidak ada yang melakukan hal (sebaik) itu kecuali dirinya.”
Saking cintanya Ibnu Umar dengan warisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan besarnya perhatiannya terhadap sunnah Nabi, Ibnu Umar berusaha sekuat tenaga meneladani Nabi, bahkan di dalam masalah yang sebenarnya tidak diperintahkan secara syariat untuk meneladani beliau. Bayangkan, sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam Siyar’ A’lam An-Nubala’, bahwa Ibnu Umar berusaha untuk mencari tempat-tempat yang dulu disinggahi atau memiliki muatan historis dengan Nabi sehingga ia akan meneladani dan menjaganya. Mulai dari sebatang pohon yang beliau sirami terus supaya tidak kering, lantaran pernah dipakai berteduh oleh Rasul, selalu wuquf di tempat Nabi melakukannya dahulu di Arafah setiap kali berhaji, berusaha untuk shalat di tempat yang pernah digunakan shalat oleh Nabi, hingga perkara pintu yang disebut oleh Rasul ketika masih hidup, “Seandainya pintu (masjid) ini kita biarkan untuk wanita .…” yang membuat beliau tidak pernah masuk masjid melewati pintu itu sepanjang hidupnya. Tak mengherankan sama sekali jika Nafi’, bekas budak yang dimerdekakan oleh Ibnu Umar sekaligus muridnya, sampai berkomentar, “Seandainya dirimu melihat Ibnu Umar saat mengikuti jejak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, pasti kau akan mengatakan bahwa beliau adalah orang gila!”
Mungkin itu merupakan salah satu bentuk kerinduan beliau terhadap baginda Rasul yang telah berpulang. Satu-satunya cara agar rindunya hati terobati ialah dengan mengingat-ingat tempat, ucapan, atau perbuatan orang yang kita rindui. Bisa jadi tangisan Ibnu Umar pecah setiap kali ada yang membahas Nabi, itu sebab rasa rindunya yang tak tertahankan.
Keindahan Akhlak
Ungkapan, bahwa “darah itu mengalir” bukanlah isapan jempol. Kehidupan Ibnu Umar menggambarkan kebenarannya. Ibnu Umar sangat berempati kepada sesama. Kedermawanannya tak perlu diragukan. Sudah banyak riwayat yang mengabadikan kisahnya. Disebutkan dalam As-Siyar, salah satu putra beliau menyebutkan bahwa tatkala Ibnu Umar memiliki makanan, beliau tidak akan makan saat ada orang lain yang mau makanan tersebut. Di kesempatan yang lain disebutkan, Ibnu Umar pernah membagi-bagi sedekah 30 ribu dirham, kemudian beliau tidak pernah makan sepotong daging pun selama sebulan. Ini masih belum selesai.
Klimaksnya, suatu ketika Ibnu Umar sakit. Beliau ingin makan buah anggur. Istri beliau dimintai tolong untuk membelikan buah anggur seharga sedirham. Tiba-tiba datang peminta-minta. Ibnu Umar yang tahu, memerintah sang istri agar memberikan uang itu kepada pengemis tadi. Istri beliau mengambil satu dirham lagi untuk membeli anggur, tetapi pengemis datang lagi, dan Ibnu Umar menyuruh istrinya untuk memberikan uang itu kepada si pengemis. Untuk ketiga kalinya sang istri ingin pergi membeli anggur, tetapi lagi-lagi si istri dibuntuti pengemis. Sebelum Ibnu Umar tahu, istrinya menghampiri pengemis tadi dan mengatakan, “Demi Allah, jika kau kembali lagi, pasti aku tidak akan ramah padamu!” Pengemis itu beranjak, dan istri Ibnu Umar bisa membelikan anggur untuk sang suami.
Dalam hubungan bertetangga, Ibnu Umar selalu mengingat-ingat wasiat Jibril kepada Rasulullah. Imam Abu Daud, At-Tirmidzi, dan yang lainnya meriwayatkan, bahwa suatu ketika Ibnu Umar menyuruh pembantunya untuk menyembelih domba untuk dimakan. Ketika sampai pada prosesi pengulitan, Ibnu Umar terus mengingatkan pembantunya agar tidak lupa membagi daging domba itu kepada tetangga beliau yang beragama Yahudi. Ketika pembantu beliau merasa pesan beliau terlampau sering, ia bertanya, “Berapa kali Anda mengingatkan saya tentang hal ini?” Ibnu Umar langsung menjawab, “Rasul dahulu selalu mewasiati kami agar berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai kami khawatir tetangga itu menjadi ahli waris kami!”
Disebutkan pula, bahwa Ibnu Umar sering keluar rumah hanya agar bisa mengucapkan salam kepada kaum muslimin yang ditemuinya dan menjawab salam mereka semua. Ibnu Umar tak pernah membedakan antara yang besar maupun yang kecil, kaya atau miskin, merdeka atau budak; semua berhak mendapatkan kebaikan yang sama. Kisah empati dan kedermawanannya amat banyak bila hendak diperinci.
Ibnu Umar mengajarkan kepada kita tentang cara menjaga kekondusifan lingkungan dengan cara konsisten berbuat ihsan, berempati, sekaligus memberikan batas lingkup toleransi dalam makna yang jelas. Kiranya secuplik dari kumpulan itu sudah cukup untuk membuat kita mengambil pelajaran dan menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik.
Abdullah bin Umar wafat pada tahun 73 atau 74 Hijriah, dalam usia lebih dari 80 tahun. Beliau dikebumikan di Makkah. Semoga Allah meridhai beliau dan mengampuni kita semua. Amin.
Referensi:
- Tahdzibut Tahdzib, Al-Hafizh Syamsuddin Abu Abdillah Adz-Dzahabi, tahqiq: Ghanim Abbas Ghanim & Majdi As-Sayyid Amin, Al-Faruq Al-Haditsiyah – Mu’assasah Sulaiman Ar-Rajihi, cet. 1 tahun 1425 H/ 2004 M (Maktabah Syamilah)
- Siyar A’lamin Nubala’, Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahabi, Mu’assasah Ar-Risalah – Lebanon, cet. Mu’assasah Ar-Risalah – Lebanon, tanpa tahun (Maktabah Syamilah)
- Al-Ishabah fi Tamyizis Shahabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Darul Kutub Al-Ilmiyah – Lebanon (Maktabah Syamilah)
- Website: https://dorar.net/hadith/sharh/61566 dan https://www.alukah.net/sharia/0/159324/