Tanya Dokter

Bahaya di Balik Minuman Kekinian, Pilih Tren atau Sehat

Dijawab oleh dr. Arie Kurniawan, M. Gizi


Pertanyaan dari ARN 181-34006:

Sejak kecil setiap selesai makan besar, tiga kali sehari, selalu minum manis, terutama teh manis. Sampai sekarang di usia 55 tahun, kalau selesai makan besar tidak diiringi dengan minum manis, nanti pasti dua atau tiga jam kemudian badan jadi lemas dan sakit kepala. Setelah minum manis barulah badan jadi segar kembali. Ketika sering membaca tentang bahaya gula, saya berpikir sepertinya saya belum bisa kalau meninggalkan gula. Alhamdulillah hasil cek kadar gula darah saya normal meskipun sehari minum tiga gelas teh manis dengan gula pasir minimal 1 sendok makan. Kalau kurang dari itu, badan saya terasa kurang enak. Bagaimana efek jangka panjangnya ya Dok?

Jawaban:

Gula itu memengaruhi kadar dopamin di otak dan menimbulkan ketagihan. Level ketagihan gula itu sebenarnya sama dengan level narkoba, meskipun bukan yang sampai level sakau, hanya saja seperti tidak bisa kalau tidak mengonsumsi gula. Sebenarnya dopamin itu Allah ciptakan ada fungsinya tapi karena terus dirangsang pengeluarannya dengan konsumsi manis, akhirnya jadi efek seperti kecanduan. Jika kadar gula darah Bapak normal, artinya tidak ada masalah secara metabolisme dan biologisnya, hanya saja Bapak bermasalah dalam hal ketergantungannya. Saya sarankan Bapak cek darahnya dua kali yaitu cek gula darah setelah puasa, kemudian Bapak makan dan cek lagi setelah dua jam. Tetap waspada dan hati-hati karena proses akibat kelebihan gula sifatnya jangka panjang. Ketika gula darah puasa meningkat sudah pertanda adanya resistensi insulin.

Jika Bapak sulit melepaskan kebiasaan minum minuman manis, sebaiknya Bapak mengurangi makanan lainnya jangan ada yang manis dan diimbangi dengan olahraga misal jalan kaki, jogging, sepeda statis, bersepeda, atau berenang. Otot yang dilatih akan menggunakan gula darah kita menjadi energi. Minimal 30-45 menit dalam sehari harus jalan kaki. Saran saya, jangan tiba-tiba melepaskan kebiasaan mengonsumsi gula, tapi lakukan bertahap dengan target-target tertentu. Misal yang awalnya tiga gelas kurangi jadi dua gelas kemudian satu gelas. Perlahan-lahan saja, jangan tiba-tiba atau dalam waktu singkat. Perjalanan penyakit akibat konsumsi gula itu jangka panjang, maka harus tetap waspada meskipun hasil tes kadar gula darahnya normal.

Pertanyaan dari Nita, Belitung

Kalau beli jus di luar itu kan pakai susu dan gula, kalau bikin sendiri di rumah tidak ada yang mau minum. Bagaimana solusinya, Dok? Manakah yang lebih bahaya, kelebihan gula atau kelebihan garam?

Jawaban:

Rekomendasi WHO dan Kementerian Kesehatan, tidak disarankan buah itu dibuat jus karena akan mengeluarkan zat gula dari buah tersebut meskipun rasanya tidak manis. Apalagi jika ditambahkan gula pasir dan susu yang mengandung gula. Pahamkan keluarga secara perlahan tentang bahaya gula dan atur saja frekuensinya per pekan, misal yang manis hanya sepekan sekali lalu hari-hari lain tidak mengonsumsi manis. Kebiasaan ini diterapkan secara perlahan dengan target tertentu. Kita ajak keluarga berdiskusi, jangan didoktrin dengan keras tapi sampaikan perlahan. Berikan waktu untuk cheat day, sesekali boleh.

Kalau batasan konsumsi harian, garam maksimal 1 sendok teh, sedangkan gula maksimal 4 sendok makan. Untuk makanan UPF( Ultra-Processed Food biasanya tinggi kadar gula, garam, maupun lemaknya. Jadi sebenarnya dilema karena negara menganjurkan dibatasi konsumsi gula garam lemaknya tapi UPF masih diperbolehkan peredarannya. Jadi negara disini hanya bisa menghimbau saja kepada masyarakat untuk membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak.

Pertanyaan dari Niar, Pekanbaru

Saya cek gula darah hasilnya normal bahkan di bawah normal, tapi ketika puasa kenapa pusing ya, Dok? Apakah saya kekurangan gula? Saya tidak suka minum dan mengonsumsi makanan manis. Bagaimana mengatasinya, haruskah saya mengonsumsi kurma atau madu untuk mengakalinya? Berat badan saya obesitas grade 2 dan saat ini sedang berusaha diet setelah berkonsultasi dengan dokter gizi. Saya diberi obat-obatan slimming dan tonika dan sudah mengikuti pola makan yang diatur oleh dokter gizi. Saya juga sudah disarankan olahraga lima kali sepekan tapi belum rutin terutama ketika pusing.

Jawaban:

Karena Ibu memang sedang diet dan mengurangi makan, jadi kemungkinan memang ibu mengalami hipoglikemi. Sebaiknya ibu kontrol ke dokter gizinya, minta disesuaikan lagi untuk pola makannya. Bisa jadi tubuh ibu sedang menyesuaikan dengan pola makan yang baru karena kalori yang biasanya tinggi diturunkan jadi rendah. Kalau sedang pusing, silakan mengonsumsi kurma dan madu, supaya tidak sampai pingsan. Silakan dikonsumsi kalau kondisi sangat lemas, jangan dikonsumsi terus menerus. Jalankan anjuran dokter untuk olahraga, tapi sebaiknya berhenti ketika sedang pusing dan lemas.

4