Mutiara Nasihat Muslimah
๐ŸŽง Dengarkan Artikel (Digenerate dengan openai)

Agar Pertengkaran Tak Berkepanjangan

Penulis: Indah Ummu Halwa dan Hawwina Fauzia Aziz

Editor: Faizah Fitriah


โ€œKenapa rumah tangga orang lain terlihat damai, sementara kami sering bertengkar?โ€

Pertanyaan semacam itu barangkali sering terlintas di benak para istri. Barangkali, dalam bayangan sebagian orang, rumah tangga yang sakinah itu berwujud pada rumah yang sunyi dari perdebatan, sebatas diisi oleh gelak tawa, serta senyum dan kelembutan. Kenyataannya, tidak ada rumah tangga yang benar-benar โ€œselamatโ€ dari perselisihan, namun yang membedakan adalah cara masing-masing pasangan dalam menghadapi dan menyelesaikannya. Akhawati fillah, ketahuilah bahwa sejatinya, bukanlah syarat rumah tangga yang sakinah yang tidak pernah ada pertengkaran di dalamnya; yang cintanya kembali menjadi jauh lebih kuat, setelah badai pertengkaran itu usai.

Kehidupan di Dunia Memang Tak Luput dari Ujian

Allah โ€˜Azza wa Jalla berfirman,

ุงูŽุญูŽุณูุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุงูŽู†ู’ ูŠู‘ูุชู’ุฑูŽูƒููˆู’ู“ุง ุงูŽู†ู’ ูŠู‘ูŽู‚ููˆู’ู„ููˆู’ู“ุง ุงูฐู…ูŽู†ู‘ูŽุง ูˆูŽู‡ูู…ู’ ู„ูŽุง ูŠููู’ุชูŽู†ููˆู’ู†ูŽ

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, สผKami telah beriman,สป sedangkan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2)

Kehidupan di dunia memang tak luput dari ujian, termasuk darinya ujian dalam kehidupan pernikahan. Setiap pernikahan pasti akan melewati masa ujian. Dua manusia dengan latar belakang, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda disatukan dalam satu atap, tak mungkin semua akan selalu berjalan mulus dan seirama. Pada ayat yang lain, Allah โ€˜Azza wa Jalla juga berfirman,

ูˆูŽู…ูู†ู’ ุงูฐูŠูฐุชูู‡ู–ู“ ุงูŽู†ู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู‘ู†ู’ ุงูŽู†ู’ููุณููƒูู…ู’ ุงูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌู‹ุง ู„ูู‘ุชูŽุณู’ูƒูู†ููˆู’ู“ุง ุงูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’ ู…ู‘ูŽูˆูŽุฏู‘ูŽุฉู‹ ูˆู‘ูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ุงูู†ู‘ูŽ ูููŠู’ ุฐูฐู„ููƒูŽ ู„ูŽุงูฐูŠูฐุชู ู„ูู‘ู‚ูŽูˆู’ ู…ู ูŠู‘ูŽุชูŽููŽูƒู‘ูŽุฑููˆู’ู†ูŽ

"Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini insya Allah sudah tak asing di telinga kita, acapkali dilantunkan dalam rangkaian acara akad nikah, bak pengingat bahwa salah satu tujuan utama dari pernikahan adalah untuk meraih sakinah yakni ketenangan, dan itu benar adanya. Akan tetapi, sakinah, mawaddah, serta rahmah bukanlah keadaan yang terjadi otomatis setelah ijab kabul, melainkan ketiga hal tersebut adalah buah dari kesungguhan dua insan dalam menata niat, memperbaiki akhlak, dan saling menundukkan ego masing-masing di hadapan Rabb-nya โ€˜Azza wa Jalla.

Akhawati fiddin, barangkali, tak banyak yang menyadari bahwa pertengkaran bukan berarti gagalnya cinta. Ia sering kali justru menjadi cermin bagi masing-masing pasangan untuk memperlihatkan bagian diri yang masih perlu diperbaiki. Di saat-saat seperti ini, rasanya kita perlu untuk selalu mengambil jeda sejenak untuk merenungkan kembali: niat dan tujuan awal kita dahulu saat masuk ke jenjang pernikahan, kemudian memulai untuk membina rumah tangga.

Ketika seseorang mendasari pernikahannya karena mengharapkan Wajah Allah โ€˜Azza wa Jalla, maka tatkala menghadapi setiap lika-liku yang ada di dalam kehidupan pernikahannya, termasuk setiap โ€œpermasalahanโ€ yang terjadi seyogianya yang akan selalu tumbuh dalam hatinya ialah prasangka baik kepada Allah, bahwa itu semua adalah bentuk โ€œujian level keimananโ€ seorang hamba dari Rabb-nya. Pernikahan merupakan suatu anugerah dan kenikmatan yang besar dari Allah untuk para hamba-Nya. Akan tetapi, mampukah kita terus bersabar, berprasangka baik, dan bertahan karena Allah dalam menghadapi setiap ujian di dalam kenikmatan yang besar ini?

Akhawati fillah, dalam sebuah riwayat, diceritakan bahwa setelah selesai dari shalat kusuf (shalat gerhana), Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat,

ูˆูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑูŽ ููŽู„ูŽู…ู’ ุฃูŽุฑูŽ ูƒูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ู…ูŽู†ู’ุธูŽุฑู‹ุง ู‚ูŽุทู‘ู ูˆูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกูŽ. ู‚ูŽุงู„ููˆุง: ู„ูู…ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุจููƒููู’ุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ. ู‚ููŠู’ู„ูŽ: ูŠูŽูƒู’ููุฑู’ู†ูŽ ุจูุงู„ู„ู‡ูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ูŠูŽูƒู’ููุฑู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุดููŠู’ุฑูŽ ูˆูŽูŠูŽูƒู’ููุฑู’ู†ูŽ ุงู’ู„ุฅูุญู’ุณูŽุงู†ูŽุŒ ู„ูŽูˆู’ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู’ุชูŽ ุฅูู„ู‰ูŽ ุฅูุญู’ุฏูŽุงู‡ูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽู‡ู’ุฑูŽุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ุฑูŽุฃูŽุชู’ ู…ูู†ู’ูƒูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ู…ูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ู…ูู†ู’ูƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู‚ูŽุทู‘ู

โ€œDan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.โ€ Mereka bertanya, โ€œKenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, wahai Rasulullah?โ€ Beliau menjawab, โ€œDisebabkan kekufuran mereka.โ€ Ada yang bertanya kepada beliau, โ€œApakah para wanita itu kufur kepada Allah?โ€ Beliau menjawab, โ€œ(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, โ€˜Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimuโ€™.โ€ (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907)[1]

Wahai saudariku, tidakkah hadits ini cukup membuat bulu kita bergidik ngeri? Hadits ini adalah sebuah pengingat untuk kita para wanita manakala terjadi konflik. Saat ego dan amarah menguasai, seringnya kita hanya terfokus pada satu kesalahan dan kekurangan pasangan yang ada di depan mata, berlarut-larut di dalamnya, sehingga mendadak โ€œbutaโ€ dan lupa berjuta kebaikan yang masih ada pada diri suami, juga kebaikan-kebaikan lainnya yang selama ini telah diusahakan olehnya untuk kita.

Hadits tersebut adalah peringatan besar sekaligus petunjuk untuk kita para wanita. Boleh jadi, memang tabiat dari kebanyakan wanita adalah mudah melupakan kebaikan-kebaikan suami saat menemukan padanya suatu kesalahan, sehingga kita harus benar-benar waspada akan sifat ini. Jangan sampai kita menjadi bagian dari wanita yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dalam hadits tersebut. Jangan sampai kita menjadi bagian dari wanita yang mudah kufur akan kebaikan suami setiap kali terjadi konflik dalam rumah tangga kita, bahkan pada setiap terjadinya konflik kecil sekali pun.

Bertengkar Itu Wajar, Namun Jangan Salah Ambil Tindakan

โ€˜Ala kulli hal, dalam perjalanan kehidupan rumah tangga, ada kalanya pertengkaran tak bisa dielakkan. Pada saat itu, poin pentingnya bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi ini tentang bagaimana seorang istri yang baik dapat terus berusaha menjaga adab di dalamnya, dan selalu berusaha untuk lebih dahulu kembali kepada suaminya. Seorang istri yang shalihah tidak akan membiarkan dirinya larut dalam konflik terlalu lama dengan suaminya. Ketahuilah duhai para istri shalihah, pada situasi yang demikian, insya Allah kita bisa menempuh beberapa hal, di antaranya:

1.  Selalu mengingat dan memohon pertolongan Allah โ€˜Azza wa Jalla dalam setiap langkah.

Tanamkan dalam benak kita, hanya Allah-lah satu-satunya yang mampu membimbing, memberi taufik, dan melunakkan dua hati yang sedang keras. Selain itu, ketika kita memiliki pemahaman akidah yang benar, maka kita akan menyadari bahwa memang setiap makhluk (termasuk manusia) itu memiliki kehendak dalam berbuat segala sesuatu yang diinginkannya. Akan tetapi, setiap perbuatan, setiap gerak-gerik yang terjadi dan dilakukan oleh manusia, sejatinya diciptakan oleh Allah, begitu pula dengan pasangan kita.

Dengan demikian, tatkala terjadi konflik atau suatu kesalahan, maka ingatkan diri kita bahwa yang mengizinkan kesalahan itu terjadi, yang mengizinkan setiap gerak-gerik perilaku dari pasangan kita itu terjadi adalah (juga) karena kehendak Allah. Ingatlah, bahwa di dunia ini, adanya interaksi dengan pasangan, orang tua, anak, kawan, sejatinya hanya variabel yang menghubungkan kita untuk mendapatkan keridhaan Allah Subhanahu wa Taโ€™ala, sebab yang mengizinkan seluruh makhluk untuk berbuat sesuatu, tak lain juga karena kehendak Allah โ€˜Azza wa Jalla. Dalam memahami yang demikian ini, diharapkan kita bisa lebih banyak bersabar dan mengurangi โ€œbaperโ€ dalam berinteraksi dengan seluruh makhluk Allah โ€˜Azza wa Jalla.

2. Ingat posisi sebagai istri.

Seorang istri yang baik dan wanita yang shalihah, akan berusaha semaksimal mungkin untuk senantiasa menjaga adab dan tidak mengangkat suara di hadapan suaminya. Maka ketika seorang istri merasa sakit hati atau emosi mulai terasa mulai memuncak, hendaknya kita berusaha sekuat tenaga untuk beristighfar dan berwudhu, untuk meredakan segala emosi negatif yang ada. Ingatlah kembali mimpi, harapan dan tujuan di awal pernikahan untuk terus saling merawat cinta dan berkasih sayang hingga akhir hayat. Ingatlah bahwa pernikahan adalah rezeki dari Allah yang harus disyukuri dan dijaga. Ingatlah bahwa iblis pun sangat menyukai ketika sepasang suami istri berselisih, dan mereka tidak akan berhenti berusaha sampai sepasang suami istri berpisah, wal โ€˜iyaadzu billah.

3. Ambil waktu dan ruang untuk menenangkan diri dan introspeksi diri.

Tidak saling mendiamkan sampai lebih dari 3 hari, karena Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุญูู„ู‘ู ู„ูู…ูุณู’ู„ูู…ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‡ู’ุฌูุฑูŽ ุฃูŽุฎูŽุงู‡ู ููŽูˆู’ู‚ูŽ ุซูŽู„ุงูŽุซู ู„ูŽูŠูŽุงู„ู

โ€œTidak halal bagi seorang muslim melakukan hajr (boikot dengan tidak mengajak bicara) lebih dari tiga hariโ€ (HR. Bukhari no. 6076 dan Muslim no. 2559)[2]

4. Berusaha membuka kesempatan untuk berkomunikasi yang baik dengan suami

Untuk mengurai permasalahan dan menemukan solusinya bersama-sama, di kala suasana hati sudah mulai tenang dan dengan hati yang lapang.

5. Berusaha menyelesaikan setiap masalah dalam rumah tangga berdua (hanya antara suami istri saja)

Tanpa campur tangan pihak lain sekecil apapun. Sehingga hendaknya seorang istri yang shalihah dan bijak tidak terburu-buru untuk bercerita ke orang lain, meski kepada orang tua sendiri, apalagi curhat atau menyebarkannya di media sosial. Kenyataannya, tak semua orang tua dapat bersikap objektif, sehingga cenderung akan membela anak masing-masing yang menyebabkan makin rumitnya permasalahan, apalagi jika sampai tersebar di media sosial, tentu itu sama sekali bukanlah suatu perbuatan yang bijak. Saudariku, ketahuilah bahwa Allah Taโ€™ala menyebutkan suami-istri bak pakaian, yang mana fungsi pakian semestinya untuk saling menutupi kekurangan (aib) satu sama lain, serta senantiasa menjaga kehormatan diri dan keluarganya.

6. Jika merasa dibutuhkan, jangan ragu untuk meminta nasihat

Mintalah nasihat dari kalangan orang yang alim, bijak, dan dipercaya, yang juga sesuai dengan bidangnya. Semisal seorang ustadz, psikolog, dan lain sebagainya.

7. Wanita shalihah tidak bermudah-mudahan meminta cerai tanpa alasan yang jelas.

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฃูŽูŠูู‘ู…ูŽุง ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ุณูŽุฃูŽู„ูŽุชู’ ุฒูŽูˆู’ุฌูŽู‡ูŽุง ุทูŽู„ุงูŽู‚ู‹ุง ููู‰ ุบูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณู ููŽุญูŽุฑูŽุงู…ูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฑูŽุงุฆูุญูŽุฉู ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉู

โ€œWanita mana saja yang meminta talak (cerai) tanpa ada alasan yang jelas, maka haram baginya mencium bau surga.โ€ (HR. Abu Daud no. 2226, Tirmidzi no. 1187 dan Ibnu Majah no. 2055). Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Sunan Abi Daud)[3]

Jangan Pernah Bosan untuk Saling Memaafkan

Ada sebuah ungkapan hikmah yang begitu indah, pernahkah kita mendengarnya?

ู…ุง ูƒุงู† ู„ู„ู‡ ูŠุจู‚ู‰

โ€œApapun yang diniatkan karena Allah, niscaya akan kekal.โ€

Sungguh alangkah indahnya jika sepasang suami istri, masing-masing senantiasa mengingat akan hal ini. Tidak sedikit dari mereka yang telah menikah bertahun-tahun, mungkin bisa jadi sudah mulai meluntur di benaknya bahwa pernikahan sejatinya adalah ibadah kepada Allah. Apa-apa yang ada di dalamnya memang harus senantiasa diorientasikan kepada Allah. Sebagai istri, melayani dan menghormati suami karena Allah adalah ibadah. Sebagai suami, menafkahi istri dan anak-anaknya, membimbing istri dan anak-anaknya, serta bersabar atas kekurangan-kekurangan yang mungkin ada pada istrinya, diniatkan karena Allah, tentu itu semua juga bernilai ibadah. Sudah sepatutnya bagi setiap insan yang menikah agar senantiasa mengingat hal ini, agar bahtera rumah tangganya tak karam, hingga biโ€™idznillah berlabuh kelak di surga-Nya.

Maka setelah pertengkaran mereda, jangan biarkan setan memasang jarak antara suami dan istri. Ulurkan kembali tangan untuk meminta maaf dan terus berusahalah untuk mencari rida suami.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu โ€˜anhu, dari Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฃูŽู„ุงูŽ ุฃูุฎู’ุจูุฑููƒูู…ู’ ุจูู†ูุณูŽุงุฆููƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูุŸู‚ูู„ู’ู†ูŽุง ุจูŽู„ูŽู‰ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ ูƒูู„ูู‘ ูˆูŽุฏููˆู’ุฏู ูˆูŽู„ููˆู’ุฏูุŒ ุฅูุฐูŽุง ุบูŽุถูุจูŽุชู’ ุฃูŽูˆู’ ุฃูุณููŠู’ุกูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุบูŽุถูุจูŽ ุฒูŽูˆู’ุฌูู‡ูŽุงุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ู‡ูŽุฐูู‡ู ูŠูŽุฏููŠู’ ูููŠ ูŠูŽุฏููƒูŽุŒ ู„ุงูŽ ุฃูŽูƒู’ุชูŽุญูู„ู ุจูุบูŽู…ู’ุถู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุชูŽุฑู’ุถูŽู‰

โ€œMaukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?โ€ Mereka menjawab: โ€œTentu saja wahai Rasulullaah!โ€ Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab: โ€œWanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: โ€œIni tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau rida.โ€ (HR. Ath-Thabarani dalam Muโ€™jamul Kabir. Lihat Ash-Shahihah no. 3380)[4]

Selain itu, dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa โ€˜Abdullah bin โ€˜Umar radhiyallahu โ€˜anhuma, beliau berkata,

ุฌุงุก ุฑุฌู„ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‚ุงู„: ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูƒู… ู†ุนููˆ ุนู† ุงู„ุฎุงุฏู…ุŸ ูุตู…ุชุŒ ุซู… ุฃุนุงุฏ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ูƒู„ุงู… ูุตู…ุชุŒ ูู„ู…ุง ูƒุงู† ููŠ ุงู„ุซุงู„ุซุฉ ู‚ุงู„: ุงุนููˆุง ุนู†ู‡ ููŠ ูƒู„ ูŠูˆู… ุณุจุนูŠู† ู…ุฑุฉ .

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, lalu ia berkata: โ€œWahai Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, berapa kali kita memaafkan (kesalahan) pembantu?โ€ Lalu beliau pun diam. Kemudian orang itu mengulang perkataannya. Dan Nabi pun masih terdiam. Lalu yang ketiga kalinya beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œMaafkanlah dia (pembantu) setiap hari tujuh puluh kali.โ€ (HR. Abu Daud no. 5164)[5]

Dari hadits tersebut, tentu bisa kita bayangkan, jika Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam saja memerintahkan kita untuk memaafkan pembantu 70 kali dalam sehari, maka bagaimana dengan pasangan hidup kita, orang yang sangat-sangat dekat dengan kita? Tentu lebih ditekankan lagi agar kita membukakan pintu maaf dengan lebih lebar, serta tak jemu dalam memberikan udzur baginya.

Akhawati fillah, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa rumah tanggamu gagal hanya karena sering berselisih. Bisa jadi dari sanalah Allah sedang mengajarkan kita makna cinta sejati. Cinta yang sabar, cinta yang memperbaiki diri, dan cinta yang tetap memilih bertahan karena Allah. Pada akhirnya, cinta yang sejati bukan yang tak pernah bertengkar, tapi yang selalu menemukan jalan untuk kembali berpegangan tangan, karena Allah โ€˜Azza wa Jalla.

Kehidupan pernikahan memang sangatlah indah, tetapi di dalam menjaganya juga dibutuhkan kekuatan dan keberanian, kekuatan untuk berlapang dada, keberanian untuk meminta maaf, kemampuan untuk menghadapi perbedaan dengan bijak, dan lain sebagainya, selama masih dalam hal-hal yang tidak menyimpang dari syariโ€™at. Kehidupan pernikahan ibarat menaiki kapal, mengarungi lautan, terkadang ombaknya tenang, pemandangannya indah. Namun, bersamaan dengan itu, terkadang juga ombaknya menjelma badai, disertai petir dan awan hitam. Ingatlah, bahwa sepasang suami istri seharusnya punya tujuan akhir yang sama, tujuan akhir dari perjalanan di dunia, yakni berlabuh di tempat yang indah lagi abadi, yakni bersama-sama menuju surga-Nya.

Referensi:

  1. Al-Qurโ€™anul Karim.
  2. Imam Bukhari, Shahihul Bukhari, Maktabah Syamilah.
  3. Imam Abu Daud, Sunan Abi Daud, Maktabah Syamilah.
  4. Nashiruddin al-Albani, Silsilatul Ahaditsish Shahihah, Maktabah Syamilah.