5 Tips Belajar Efektif Ala Santri HSI
Reporter: Leny Hasanah
Redaktur: Gema Fitria
Menuntut ilmu sering kali dibayangkan sebagai aktivitas yang tenang, rapi, dan jauh dari hiruk-pikuk. Namun, realitas santri HSI AbdullahRoy justru sebaliknya. Mereka belajar di tengah dunia yang berjalan apa adanya, di sela pekerjaan rumah, di antara jadwal kantor, atau di waktu-waktu sempit yang tersisa setelah tanggung jawab ditunaikan.
Para santri HSI datang dari beragam latar belakang. Ada ibu rumah tangga yang nyaris 24 jam membersamai keluarga, ada bapak-bapak yang bergelut dengan tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab nafkah, hingga mereka yang harus membagi fokus antara studi, pekerjaan, dan kewajiban lainnya. Namun, di balik kesibukan itu, ada satu tekad yang menyatukan: menjaga dan menghafal ilmu agar tidak lekang dari ingatan.
Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah berkata:
لن يُعطى أحدكم العلم حتى يُعطيه كُلَّه
“Tidaklah seorang pun di antara kamu diberi ilmu pengetahuan, sebelum ia mengerahkan segala kemampuannya.” (Kitab Manaqib Asy Syafi’i, karya Imam Al-Baihaqi)
Bagi santri HSI, mengerahkan seluruh kemampuan sering kali berarti mengoptimalkan sisa waktu, sisa tenaga, dan sisa fokus yang ada. Dari situ lah lahir kebiasaan-kebiasaan sederhana yang justru menjadi kunci kuatnya hafalan, biidznillah.
Kebiasaan #1 – Muraja’ah Harian: Sedikit, Tapi Terjaga
Ukhtuna Ani Kristiani, santri HSI angkatan 192 asal Semarang, Jawa Tengah tidak menyebut dirinya sebagai penghafal cepat. Ia justru menemukan jalannya dengan muraja’ah harian yang ringan namun konsisten.
“Bagi saya, hafalan itu bukan sekadar mengingat, tapi mengikat ilmu agar tertanam,” ujarnya.
Ukhtuna Ani terbiasa mencatat poin penting, mendengarkan ulang materi, lalu muraja’ah di waktu-waktu sunyi. Tidak selalu lama, tetapi rutin. Tantangan terbesarnya bukan menghafal, melainkan menjaga hafalan agar tidak pudar di tengah aktivitas dan kelelahan.
Pengalaman serupa dirasakan Ukhtuna Elsi Munir. Faktor usia membuatnya memilih metode mengulang bacaan berulang-ulang. Ia menyadari bahwa hafalan yang sering disentuh meski sebentar jauh lebih bertahan dibanding hafalan yang jarang diulang dalam durasi panjang.
Kebiasaan #2 – Mencatat dan Menempel: Menghadirkan Ilmu di Ruang Hidup
Bagi sebagian santri, catatan kecil menjadi alat penting dalam menjaga hafalan. Ukhtuna Elsi terbiasa mencatat poin-poin penting, memberi warna pada tulisannya, lalu memutar ulang voice note ustadz, yang sering kali dilakukannya sambil mengerjakan pekerjaan rumah.
Sebagai ibu rumah tangga, ia menyadari bahwa waktu belajar formal sangat terbatas. Karena itu, hafalan diselipkan di sela-sela aktivitas. Rumah pun menjadi ruang belajar yang hidup, bukan ruang khusus, tetapi ruang yang terus dihadiri ilmu.
“Karena banyaknya kegiatan lain, godaan gawai, dan rasa malas, saya selalu berdoa dan meniatkan belajar untuk menghilangkan kejahilan serta berharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya.
Ukhtuna Ita, santri HSI angkatan 191 yang tinggal di Jakarta, memilih cara lain. Ia lebih nyaman mencatat ulang materi dengan bahasanya sendiri. Dengan begitu, hafalan terasa lebih dekat dan mudah diingat. Menulis ulang bukan sekadar menyalin, tetapi memproses kembali ilmu sesuai pemahaman pribadi dan mudah diingat.
Kebiasaan #3 – Menghafal di Jam Emas
Para santri HSI menyadari bahwa tidak semua waktu memiliki kualitas yang sama. Ukhtuna Ani memilih pagi hari sebelum aktivitas ramai atau malam sebelum tidur, saat suasana lebih tenang dan fokus lebih mudah dijaga.
“Di momen-momen seperti itu rasanya lebih mudah fokus. Pelan-pelan saja, yang penting terus dijaga dan istiqamah,” ujarnya.
Ukhtuna Elsi biasanya muraja’ah setelah tugas-tugas rumah selesai, berharap pikirannya lebih lapang. Sementara Ukhtuna Ita terbiasa membaca ulang materi saat akan mengerjakan soal, biasanya di pagi hari setelah mengantar anak sekolah.
Adapun Akhuna Muhammad Firdaus, santri HSI angkatan 2020, menjadikan waktu Subuh sebagai jam emasnya. Setiap Subuh ia mendengarkan materi lalu mengerjakan ujian. Karena istrinya satu angkatan, mereka saling mengingatkan.
“Kalau nggak begitu, kadang khilaf, ujung-ujungnya lupa mendengarkan materi atau mengerjakan ujian,” katanya.
Kebiasaan #4 – Target Kecil, Konsisten Besar
Hampir semua narasumber sepakat bahwa target kecil justru membuat hafalan lebih terjaga. Ukhtuna Elsi memilih mengulang sedikit demi sedikit. Ukhtuna Ita tidak memaksakan diri menghafal banyak sekaligus, sedangkan Ukhtuna Ani menegaskan pentingnya tidak membebani diri.
“Jangan bebani diri harus langsung bisa semuanya. Belajar itu proses, pelan-pelan. Bagi hafalan jadi potongan kecil biar nggak terasa berat, ulangi di waktu rileks dan tenang. Yang penting istiqamah, bukan banyaknya,” tutur Ukhtuna Ani.
Target kecil membuat belajar terasa ringan dan manusiawi, sehingga lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.
Kebiasaan #5 – Mengajarkan untuk Menguatkan
Mengajarkan kembali materi kepada orang lain menjadi salah satu cara efektif menjaga hafalan. Ukhtuna Ani memiliki suami yang juga santri HSI. Ukhtuna Ita bahkan memiliki suami dan anak-anak yang ikut HSI meski berbeda angkatan.
Lingkungan keluarga yang mendukung membuat hafalan tidak berhenti di diri sendiri. Saat materi dijelaskan ulang, hafalan dipaksa lebih rapi dan lebih matang.
“Kakak ipar saya satu grup dengan saya, jadi kami sering diskusi membahas materi. Kalau suami sudah angkatan senior, jadi belajarnya masing-masing,” cerita Ukhtuna Ita.
Ukhtuna Dewi Suryani dari Jawa Barat menambahkan bahwa merekam diri sendiri, menyimak bacaan teman, dan saling mengoreksi menjadi cara yang sangat membantu. Hafalan yang dibagikan akan lebih kuat melekat dibanding hafalan yang disimpan sendiri.
Menjaga Hafalan, Menjaga Niat
Dari berbagai pengalaman ini, satu hal menjadi jelas: hafalan bukan persoalan bakat, melainkan kebiasaan yang dijaga dengan sabar. Godaan distraksi, rasa lelah, dan fokus yang naik turun adalah bagian dari perjalanan.
Ukhtuna Dewi berpesan agar santri memprioritaskan konsistensi. Lebih baik menyetorkan satu halaman setiap hari secara rutin, karena sedikit demi sedikit akan menjadi bukit. Ia juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu-waktu emas, seperti setelah salat Subuh atau sebelum tidur.
“Luruskan niat. Menghafal semata untuk meraih ridha Allah Azza wa Jalla dan syafaat di akhirat, bukan karena pujian manusia,” tegasnya.
Senada, Ukhtuna Ani menutup dengan pesan reflektif, “Setiap orang punya cara belajar masing-masing. Jangan bandingkan diri dengan orang lain. Tetap bergerak walaupun pelan, dan ingat kembali niat awal: belajar karena Allah dan ingin masuk surga-Nya,” katanya menutup pembicaraan.
Lima kebiasaan ini—muraja’ah harian, mencatat dan menempel, memanfaatkan jam emas, memasang target kecil, serta mengajarkan ulang—menjadi bekal nyata santri HSI dalam menuntut ilmu. Bukan dengan cara sempurna, tetapi dengan cara yang memungkinkan untuk terus berjalan. Bagaimana dengan antum dan anti?